เข้าสู่ระบบ"Jadi, Bapak benar-benar memecat saya?" Suara Astuti terdengar bergetar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara koper berukuran sedang sudah tergeletak di samping kakinya.
Wajah perempuan yang selama puluhan tahun bekerja di rumah keluarga Adijaya itu tampak pucat, antara tidak percaya dan dipenuhi kemarahan. Bagaimana tidak, dalam waktu beberapa hari hanya karena pembantu baru itu, kini Astuti harus kehilangan pekerjaan yang sudah beberapa tahun menemaninya d“Pak...” panggilnya pelan. Rafael tidak langsung menjawab. Tangannya tetap mantap berada di kemudi, sementara tatapannya lurus memperhatikan jalan di depan. “Kita mau ke mana?” “Sebentar lagi sampai.” Jawaban singkat itu justru membuat Sarah semakin gelisah. Ia kembali menatap ke luar jendela, sampai beberapa menit kemudian sebuah bangunan besar mulai terlihat di kejauhan. Mobil Rafael berbelok memasuki area parkir sebuah hotel. Mata Sarah langsung membulat. “Hotel?” Rafael tetap tenang, seolah tidak ada sesuatu yang aneh dengan tujuan mereka. Sarah menelan ludah susah payah. Sejak awal ia sudah merasa tidak nyaman pergi hanya berdua dengan Rafael, dan sekarang pria itu justru membawanya ke sebuah hotel. Berbagai pikiran buruk yang sejak tadi berusaha ia singkirkan kembali bermunculan. “Pak Rafael...” suaranya terdengar semakin kecil. Mobil berhenti. Rafael mematikan mesin, kemudian menoleh kepadanya. Sarah refleks merapatkan kedua tangannya di pangkuan. “Kenapa kita ke s
Dalam setiap langkahnya, jantung Sarah berdegup semakin kencang. Perasaan tak nyaman kembali muncul ketika tangan Rafael masih menggenggam tangannya. Entah mengapa, kedekatan seperti ini membuat Sarah merasa serba salah, apalagi tahu dirinya hanyalah seorang pembantu, sementara Rafael adalah majikannya. Ada batas yang seharusnya tetap mereka jaga, dan semakin lama Sarah merasa batas itu mulai kabur. "Cie... cieee... Papa sama Tante Sarah!" Seruan Salsabila membuat Sarah refleks menoleh. Gadis kecil itu menunjuk-nunjuk tangan mereka dengan wajah yang begitu senang, seolah melihat sesuatu yang sangat lucu. Sarah sontak menarik tangannya dari genggaman Rafael. Gerakannya begitu cepat sampai ia sendiri sempat merasa gugup. menelan ludah susah payah, lalu menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba memenuhi dirinya. Rafael sempat melihat ke arah Sarah. Namun, pria itu tidak mengatakan apa-apa dan justru mengalihkan pandangannya kepada Salsabila yang masih ter
"Kenapa jadi begini, ya? Aku cuma niat bekerja di kota," gumaman itu keluar begitu saja dari bibir Sarah. Badannya masih berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan perasaan yang sulit dijelaskan, tapi tidak bagi pikirannya yang kini benar-benar penuh. Sejak datang ke rumah keluarga Adijaya, niatnya sebenarnya sederhana, tetap sama dan bahkan tak akan pernah berubah. Namun, entah bagaimana, semakin hari justru semakin banyak hal yang membuatnya berada dalam situasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Pagi ini pun Sarah tak benar-benar memiliki pilihan. Dress yang diberikan Rafael akhirnya dikenakan. Jemarinya sempat merapikan bagian rok dan lengan pakaian itu, memastikan tidak ada bagian yang terlihat berantakan. Entah kebetulan atau memang Rafael memperhatikannya dengan cukup baik, ukuran dress tersebut terasa pas ketika dikenakan. Tidak terlalu longgar, tetapi juga tidak membuatnya merasa kesulitan bergerak. Sarah kembali menatap cermin, lalu menghela napas pelan.
"Ini bukan sebuah pekerjaan, tapi jadilah teman dekat Rafael," terangnya dengan tenang, tapi tidak bagi Sarah, sekarang degub jantungnya berpacu hebat, telinganya seperti salah dengar tapi kenyataanya indera penglihatannya tak salah lihat, bahwa pak Adijaya benar-benar mengatakan hal itu. Teman dekat? hal seperti apa yang beliau harapkan? bahkan rasanya tak pantas bagi Sarah menjadi teman untuk suami orang, apalagi itu majikannya. Dan kini, bagaimana Sarah harus menolak? apakah bisa dia mengatakan tidak? Ya Tuhan, belum lagi pria paruh baya itu sekarang menatapnya penuh harap. "Ta- tapi Pak, apa ini tidak berlebihan?" tanyanya terbata-bata, ia bahkan bingung merangkai kata. Namun, gelengan kepala Adijaya seolah menjadi jawaban. Senyuman itu semakin membuat Sarah tak tenang. "Gak, ini sama sekali gak berlebihan. Saya melihat Rafael yang berbeda saat dekat dengan kamu, jadi karena itu sering-seringlah bersama anak saya." "Tapi, Bu Widya bagaimana?" Sarah tidak bisa menyembunyik
"Hubungan saya dengan pak Rafael tidak lebih sebagai pembantu dan majikan saja pak." Adijaya hanya terdiam, tidak merespon apapun. Namun, justru diamnya itu membuat Sarah merasa tak nyaman. "Saya hanya tulus melayani Salsabila, dan seluruh orang yang ada di rumah ini," lanjutnya menjelaskan dengan tegas, padahal andai saja Pak Adijaya tahu bahwa putranya yang menaruh perhatian lebih padanya dan pernah berperilaku tak baik padanya dengan sengaja menciumnya. Untung saja saat itu, Sarah masih ingin bertahan karena Bapaknya, jika ia mengikuti egonya terus terang saja saat itu juga Sarah sudah berhenti bekerja. Selama ini, Sarah tidak pernah ada niatan untuk menarik hati Rafael. Justru ia sedih melihat rumah tangga Bu Widya dan Pak Rafael yang berantakan, kesedihan itu terutama karena Salsabila yang tak bisa mendapatkan kasih sayang lengkap. Dan sekarang, entah mengapa Pak Adijaya bisa mengakan hal demikian. "Saya melihat sorot mata putra saya berbeda ketika melihat kamu, dan juga bias
"P-pak?"Cicit Sarah pelan, nyaris tak terdengar. Sejak kedua orang tua Rafael datang ke rumah, baru kali ini Pak Adijaya menghampirinya secara langsung. Apalagi sekarang pria paruh baya itu berdiri tepat di ambang pintu kamar, membuat Sarah yang belum benar-benar merasa baik-baik saja setelah kedatangan Rafael, kini harus di hadapkan oleh pria paruh baya itu. Ada rasa canggung yang sulit disembunyikan, terlebih tatapan Pak Adijaya terlihat serius meskipun wajahnya tetap tenang."Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Sarah berusaha terdengar biasa saja. Ia bahkan refleks merapikan ujung bajunya. Bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang pembantu di rumah itu. Ketika majikan datang menghampiri, kebiasaan untuk segera bersikap sigap seolah sudah melekat dalam dirinya.Namun, Pak Adijaya tidak langsung menjawab.Pria itu justru memperhatikan Sarah selama beberapa detik. Tatapannya bergerak singkat dari wajah Sarah yang masih terlihat sedikit pucat hingga kamar sederhana yang ditempatinya. Tidak a







