Share

Bab 6 Teman Masa Kecil

Author: Maria Bonifacia
Amanda bangun pagi-pagi sekali. Dia teringat betapa marahnya Andre semalam, nada suara Andre, tatapan Andre dan kata-kata menyakitkan yang diucapkan Andre kepadanya.

Meski Amanda terbiasa bersikap profesional di tempat kerja, rasa sakit yang dia rasakan sama sekali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Amanda pun menghela napas panjang.

Amanda sudah bersiap menghadapi hari itu. Dia mengenakan pakaian kerja, rambut diikat dan riasan wajah yang sederhana, tetapi rapi. Pertemuan mereka di Grup Persada sangatlah penting, yaitu mengenai potensi kerja sama untuk proyek infrastruktur baru dengan Grup Mahira.

Amanda turun dari kamar tamu sambil membawa tablet dan map berisi materi presentasi. Saat sampai di lorong rumah besar itu, dia melihat Andre juga hendak pergi.

Dengan setelan jas biru dongker yang dikenakannya, Andre tampak seperti pemeran utama pria di salah satu drama yang sering ditonton Amanda. Bosnya itu benar-benar tampan. Amanda pun menelan ludah saat teringat apa yang terjadi di malam pernikahan mereka.

"Pak Andre, apa kita akan berangkat ke kantor bersama?" tanya Amanda.

Namun, Andre tidak menoleh ke arahnya.

"Ada yang akan mengantarmu. Kita ketemu di kantor saja," jawab Andre dengan dingin, lalu masuk ke mobil mewah hitam yang langsung melaju begitu dia masuk.

Amanda ditinggalkan di depan rumah besar itu dan berdiri mematung. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu sopir. Ketika mobil tiba, Amanda masuk dengan tenang. Dia tidak merasa seperti istri CEO, melainkan lebih seperti karyawan biasa.

Amanda memarahi dirinya sendiri. Apa yang dia harapkan? Dia memang hanya seorang karyawan.

Sesampainya di Gedung Persada, Andre keluar dari mobilnya dan beberapa eksekutif serta staf segera menghampiri untuk menyambutnya. Mereka berdua tiba hampir bersamaan.

Saat Amanda melangkah masuk ke lobi, dia menyadari tatapan para karyawan yang sedang curi-curi pandang kepadanya. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun, tetapi tatapan mata mereka terasa seperti sedang meneriakkan sesuatu.

"Mereka nggak datang bareng?"

"Apa ada masalah?"

"Bukankah mereka pengantin baru?"

Amanda berjalan pelan menuju lift sambil memegang tabletnya erat-erat. Dia merasakan semua tatapan mata tertuju padanya. Dia pasti akan menjadi bahan gosip selama beberapa hari ke depan.

Saat Amanda tiba di ruang rapat, Andre sudah ada di sana. Dia duduk di ujung meja dengan sikap formal dan memusatkan perhatian pada slide presentasi. Andre hanya mengangguk saat melihat Amanda. Ekspresi wajah Andre tampak datar, dia bahkan tidak menyapa Amanda.

Rasanya, seakan mereka tidak berangkat dari rumah yang sama dan sama sekali bukan suami istri.

Mereka memang tidak benar-benar menikah. Amanda kembali memarahi dirinya sendiri. Semuanya hanya tentang pekerjaan, dia tidak boleh melibatkan perasaan. Dia harus bersikap profesional terlepas dari perasaannya sendiri.

Suasana di ruang rapat Grup Persada terasa tegang saat menunggu delegasi dari Grup Mahira. Amanda memperhatikan Andre. Tangan Andre tidak bisa diam di atas meja karena gelisah. Andre berkali-kali mengklik pulpennya dan terus melihat jam tangan.

"Pak Andre, Anda pasti bisa mencapai kesepakatan dalam negosiasi ini," bisik Amanda.

"Banyak orang yang bersaing untuk mendapatkan proyek ini. Kita ini pihak pertama yang dihubungi mereka dan masih banyak yang mengantre di belakang."

Kerja sama ini bukan sekadar soal bisnis. Amanda tahu bahwa Andre ingin membuktikan sesuatu kepada ayahnya, Rudy Abisatya. Proyek impian Rudy adalah stasiun kereta api dan itu akan terwujud jika Andre berhasil mencapai kesepakatan dalam negosiasi ini. Sebelumnya, Evan, saudara tiri Andre, yang berhasil mencapai kesepakatan tersebut.

Amanda duduk dengan tenang di samping Andre dan membaca berkas presentasi di tabletnya. Dia tahu bosnya sedang stres. Namun, Amanda tidak lagi berani bicara. Dia tahu cara menghadapi pria itu.

Tak lama kemudian, pintu ruang rapat pun terbuka.

"Semuanya, ini Pak Edwin Mahira, CEO Grup Mahira," kata sekretaris.

Seorang pria tinggi dan tampan yang mengenakan setelan jas berwarna hijau tua masuk ruangan sambil tersenyum penuh percaya diri. Sorot matanya tajam dan karismanya begitu kuat.

Andre langsung berdiri dan menjabat tangannya.

Namun sebelum itu terjadi, mata Amanda langsung terbelalak. Edwin menatap Amanda.

"Amanda?" seru Edwin dengan nada terkejut sekaligus senang.

Seluruh ruang rapat menjadi hening, saat mereka memandangi keduanya.

Amanda tersenyum, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.

"Edwin? Itu benar-benar kamu?"

"Wah, kamu nggak berubah sedikit pun. Masih tetap jadi gadis yang tercantik," goda Edwin.

Amanda tertawa dan merasa agak malu. "Lihat dirimu, kamu juga begitu tampan. Kamu terlihat kayak pujaan semua orang di kota, sama kayak dulu."

"Kamu tahu nggak, sampai sekarang pun, aku nggak bisa lupain bagaimana kita selalu jadi pasangan di tiap acara sekolah. Aku jadi pendampingnya dan kamu yang jadi wanita pujaannya. Aku masih ingat semuanya dengan jelas."

Edwin tertawa.

Amanda menoleh ke sekeliling dan baru menyadari bahwa perhatian semua orang tertuju pada mereka.

Namun, bagaimana dengan Andre? Dia hanya terdiam di sudut ruangan. Andre tersenyum, tetapi tampak menahan emosi. Sorot matanya terlihat dingin. Bahkan, senyumnya juga hanya sekadar formalitas. Andre tidak mengatakan apa pun, tetapi Amanda tahu bahwa pria itu tidak senang, karena reuni mereka sudah mencuri perhatian.

"Bagaimana kalau kita mulai, Pak Edwin?" sela Andre, berusaha mengendalikan nada suaranya.

"Tentu saja," jawab Edwin. "Tapi nanti Amanda, kita harus ngobrol lagi. Aku mau ajak kamu makan malam berdua."

Amanda melirik Andre.

"Silakan duduk, Pak Edwin," ucap Andre dengan dingin. Andre lalu berdiri dan berjalan menuju papan presentasi.

Negosiasi pun dimulai. Pertemuan itu berlangsung formal dan lugas. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Edwin terus melirik ke arah Amanda.

Setelah beberapa jam berdiskusi, presentasi Andre pun selesai. Presentasi itu sangat terperinci dan visioner, lengkap dengan rencana menyeluruh, mulai dari sisi teknik hingga dampak sosialnya. Proyek itu tidak hanya bertujuan untuk mencari keuntungan, tetapi juga untuk membantu kota.

Edwin mengangguk setelah slide terakhir ditampilkan. "Mengesankan," ujar Edwin. Jari-jarinya saling bertaut di atas meja. "Sejujurnya, saya terkesan. Proyeksi Anda solid, rencana eksekusi Anda juga jelas …."

Andre tersenyum. Namun, ini belum berakhir.

"Tapi ...." tambah Edwin. "Demi keadilan, saya tetap ingin meninjau proposal lain sebelum mengambil keputusan akhir."

Senyum di bibir Andre langsung lenyap, tetapi hanya sesaat. Sebagai pengusaha yang sudah berpengalaman, Andre sudah terbiasa dengan taktik semacam ini. Dia pun menganggukkan kepala.

"Tentu saja. Kami mengerti, Pak Edwin."

Andre melirik ke arah Amanda, seakan-akan dia sedang merencanakan sesuatu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 50 Kegiatan Amal

    "Aku sudah setuju," jawab Amanda sambil menatap Andre lekat-lekat."Bukan cuma karena aku berterima kasih karena dia membantumu … tapi juga karena aku tahu, ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah. Aku nggak rasa ada yang salah dengan keputusanku pergi bersamanya."Andre cemberut, dia jelas tidak yakin, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Andre hanya menarik Amanda ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat.Amanda melepaskan pelukan itu dengan lembut dan meraih tabletnya. Dia membuka jadwal Andre untuk minggu depan."Amanda," panggil Andre dengan suara rendah. "Aku rasa, sebaiknya kamu nggak pergi ke ulang tahun Edwin."Amanda menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa nggak?"Andre menggeleng, rasa kesal mulai menyusup ke dalam suaranya. "Aku cuma nggak mau kamu pergi. Aku nggak suka cara dia menatapmu.""Edwin orang baik. Aku cuma mau bantu sekolah. Jadi tolong … biarkan aku pergi."Andre memutar tubuh Amanda agar menghadapnya dan matanya menatap mata Amanda. "Jangan pergi.""Nggak aka

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 49 Skandal

    Saat televisi menyala, suara penyiar tiba-tiba menggema di seluruh ruangan."Berita terkini! Kami siarkan langsung dari hotel tempat Bu Karina Hermawan, wanita yang ada di foto bersama Andre Abisatya tadi malam, yang sedang mengadakan konferensi pers. Reporter kami sudah berada di lokasi."Siaran langsung muncul di layar, lobi hotel yang tampak kacau balau dipenuhi media. Karina duduk di depan mikrofon, mencengkeram sapu tangan dan jelas terlihat gemetar. Di belakangnya, spanduk konferensi pers yang dibuat terburu-buru tergantung miring."Bu Karina," panggil seorang reporter. "Apa Anda korban pelecehan Pak Andre, CEO Grup Persada? Benarkah dia memaksa Anda?"Wanita itu menghindari tatapan mereka dan terlihat begitu tertekan. Dia mulai menangis dan kamera terus berkedip tanpa henti."Itu aku …." Wanita itu berhenti, mengambil napas dengan gemetar, lalu kembali menangis."Bu Karina, bisakah Anda memberi kami detail lebih lanjut mengenai bagaimana CEO Grup Persada memanfaatkan Anda?""Bu

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 48 Menghancurkan Reputasinya

    Amanda mengangguk dan menyerahkan map tersebut. Di bawah meja, Amanda diam-diam menyalakan perekam suara di ponselnya."Ini akan jadi skandal besar saat tersebar nanti," kata Evan sambil menyeringai saat memperhatikan tanda tangan tersebut.Evan mengambil kontrak itu dan membacanya dengan cepat. "Inilah dia, salah satu bukti rekayasa yang membuktikan kecurangan yang dilakukan Andre."Saat mereka berbicara, jantung Amanda berdegap lebih kencang. Tiap kata yang terekam oleh kamera dan perekam itu bisa menyelamatkan Andre.Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menjadi tajam saat dia memegang ponselnya dan tampak tenggelam dalam pikirannya."Aku nggak akan biarkan nama Andre menjadi makin terkenal. Kalau aku harus menghancurkannya melalui media, akan kulakukan. Aku punya rencana baru," ujar Evan.Evan lalu membuka folder di ponselnya dan menunjukkannya kepada Amanda.Napas Amanda nyaris terhenti melihat gambar di layar. Itu adalah Andre. Andre sedang berbaring di tempat tidur dan

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 47 CEO yang Bangga

    Saat mereka keluar dari kendaraan, Mirna, Farid dan Mitha langsung ternganga melihat rumah baru mereka."Amanda, rumahnya gede banget!" seru Mirna, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Halamannya luas, baru dicat dan ada pagar putih yang mengelilingi rumah dua lantai yang indah itu.Mitha langsung berlari ke arah halaman dan melompat-lompat kegirangan. "Kak! Ada taman! Dan ayunan!""Sayang, semuanya ada di sini!" kata Mirna saat melangkah masuk.Amanda tetap diam. Dia memperhatikan kebahagiaan keluarganya, sementara dadanya terasa begitu berat.Mereka masuk dan kekaguman mereka makin bertambah, karena ruang tamunya luas, lantainya berkilau dan peralatan rumah tangga yang serba baru mengisi setiap sudutnya."Kalau ada sesuatu yang nggak kalian suka, katakan saja padaku, akan kami ganti. Anggap aja rumah sendiri, ini milik kalian sekarang," ujar Andre dengan hangat."Amanda, Andre … aku nggak tahu gimana cara membalas kebaikan kalian," kata Farid pelan, ada nada canggung dalam suara

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 46 Aksi Heroik

    Saat mereka sampai di tempat evakuasi, para sukarelawan bergegas membantu keluarga Amanda. Syukurlah mereka semua selamat, meski mereka sangat kelelahan dan basah kuyup.Andre mengambil alih. Dia membantu seluruh keluarga Amanda saat mereka masuk. Andre memayungi Mirna dan Farid, menuntun mereka dengan hati-hati melewati kekacauan di sana.Alih-alih beristirahat, Andre segera mencari cara untuk membantu. Dia berbicara dengan pejabat kota dan mengatur agar Grup Persada mengirimkan bantuan, berupa kotak-kotak air minum kemasan, makanan instan, selimut dan perlengkapan kebersihan. Bantuan dari perusahaan tiba dengan cepat, bahkan mendahului respons pemerintah setempat.Namun, bukan itu saja. Orang-orang menyaksikan saat Andre sendiri mengangkat karung beras, membagikan makanan kepada anak-anak dan membantu menyiapkan tikar tidur untuk para lansia. Andre tidak bersikap layaknya bos atau CEO, dia bertindak layaknya orang biasa yang benar-benar peduli. Amanda tidak tahu mengapa, tetapi dia m

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 45 Pengalaman yang Menyadarkan

    Saat hujan terus mengguyur dan air makin naik di lantai ruang tamu, Mirna memastikan untuk memindahkan semua barang penting ke kamar Amanda dan Mitha. Mereka memiliki tempat tidur tingkat yang bisa menampung empat orang jika mereka tidak keberatan berdesakan.Saat mereka masuk, Andre dengan cepat membawa bantal dan selimut ke atas, bersama dengan dokumen-dokumen penting."Kami sangat berterima kasih kamu ada di sini, Andre. Kamu sangat membantu mengangkut semuanya," kata Mirna."Dengan senang hati."Amanda memperhatikan pria itu membawa barang-barang mereka yang sudah tua dan usang tanpa mengeluh sedikit pun."Ini nggak aman, Amanda. Kita harus mengungsi. Kalian semua sebaiknya tinggal di rumah besar bersamaku," ujar Andre sambil menatap mereka.Amanda menggeleng tegas sambil membentangkan selimut di ranjang atas."Nggak perlu. Kami sudah terbiasa dengan ini. Besok air akan surut. Nggak sepadan untuk pergi. Lagian, nggak ada orang di sini yang jagain rumah. Kami bisa kehilangan barang-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status