Pagi itu aku ikut ibu ke pasar desa.Udara masih sejuk, embun belum sepenuhnya menghilang dari daun-daun di pinggir jalan. Jalan yang dulu setiap hari kulewati untuk berangkat sekolah kini terasa jauh lebih sempit, namun anehnya justru terasa lebih luas di dalam ingatanku.Belum sampai separuh perjalanan, ibu sudah beberapa kali berhenti karena bertemu orang-orang yang mengenalnya.“Ini Karin?”Aku menoleh dan tersenyum.“Wah, tambah cantik ya.”“Sudah punya anak berapa, Nduk?”“Ya Allah, sudah dewasa. Mirip ayahnya, tinggi.”“Nggak sangka secantik ini kamu, Karin.”“Dulu masih kecil sekali waktu main bareng Nina. Eh, Nina malah sudah lima tahun belum pulang kampung.”“Dulu kamu rajin mengaji. Sekolahnya juga paling pintar.”Setiap kali ada yang menyapaku, ibu selalu tersenyum bangga. Beliau memperkenalkanku, menjawab pertanyaan mereka, lalu obrolan kecil pun mengalir begitu saja.Pasar yang sebenarnya hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah terasa seperti perjalanan yang berpu
Última actualización : 2026-08-06 Leer más