Menjelang siang, Moara duduk di kursi besi di taman belakang mansion. Secangkir teh di atas meja di hadapannya perlahan mendingin, nyaris tak tersentuh sejak tadi. Tak lama, Adrian muncul dari pintu samping mansion, membawa kotak kayu tua yang sudah tampak usang di sudut-sudutnya. Ia menyerahkannya dengan hati-hati. "Kotak ini saya ambil dari lemari kamarnya, Nyonya," ucap Adrian pelan. Moara mengangguk, menerima kotak itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Adrian. Kamu boleh pergi." Begitu Adrian meninggalkannya sendirian, Moara menatap kotak kayu itu cukup lama. Keraguan yang membuat tangannya terdiam sejenak. Ini barang pribadi putranya, yang selama bertahun-tahun Marco simpan rapat-rapat dan tidak pernah berniat membagikannya kepada siapa pun, bahkan kepada dirinya sendiri. Namun rasa ingin memahami putranya, yang belakangan terasa semakin menjauh dan asing, jauh lebih besar dari rasa bersalahnya. Ia membuka tutup kotak itu perlahan. Satu per satu, benda-benda kecil tersin
Last Updated : 2026-09-05 Read more