Zavian menegang. Rahangnya langsung mengeras, dan tangannya yang tadi santai di pangkuan kini mengepal pelan. "Kenapa Mama bahas itu lagi?" suaranya berubah, lebih dingin. "Karena Mama pikir," Donna melanjutkan, suaranya tetap lembut meski menahan beban, "kamu masih bawa luka masa lalu itu sampai sekarang." "Waktu itu kamu yang paling sering lihat Mama nangis sendirian di kamar. Kamu yang harus jagain Zea yang masih balita, sementara Mama nggak sanggup ngapa-ngapain." Zavian tidak menjawab. Rahangnya masih mengeras, matanya menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. "Kamu tumbuh jadi anak yang harus dewasa sebelum waktunya," lanjut Donna, suaranya mulai bergetar. "Sejak itu, kamu kayak nyusun aturan sendiri buat diri kamu. Kalau perempuan di keluarga ini, Mama sama Zea, nggak akan pernah lagi disakiti selama ada kamu.” Ia berhenti sejenak, menatap putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tapi Mama takut,” lanjutnya pelan, “kamu terlalu keras sama diri
Last Updated : 2026-08-30 Read more