Seragam putih abu-abu itu masih terasa kaku di bahu Denis ketika ia berdiri di depan cermin.Enam tahun yang lalu, ia pernah berdiri di depan cermin yang sama—lebih kecil, lebih kurus, dengan luka yang belum sepenuhnya kering di lengannya. Sekarang cermin itu memantulkan sosok yang jauh berbeda. Lebih tinggi. Lebih tenang. Meskipun kadang-kadang, di sudut matanya sendiri, ia masih bisa melihat bayangan anak yang dulu takut tidur sendirian."Kak, lama banget."Azka berdiri di ambang pintu kamar, sudah rapi dengan tas ransel tersampir di satu bahu. Wajahnya masih menyisakan kantuk, tapi matanya berbinar—entah karena gugup atau bersemangat, Denis tidak yakin."Sebentar dong. Kakak masih siap-siap, nih.""Dari tadi 'sebentar' terus."Denis menyisir rambutnya sekali lagi, lalu menyambar tas dari kursi. "Nih, udah."Mereka turun bersama. Aroma nasi goreng—menu yang tidak pernah berubah sejak dulu, meski sekarang dengan tambahan telur mata sapi dan ayam suwir—menyambut dari meja makan."Hari
Last Updated : 2026-09-23 Read more