Malam itu, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku berbaring miring ke kiri sesuai anjuran bidan, memeluk erat guling panjang untuk menopang tubuh. Di sampingku, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya tetap terulur menggenggam jemariku seolah tak mau terpisah sekalipun dalam mimpi. Dari kamar sebelah, terdengar dengkuran halus Bu Mira sesekali memecah keheningan. Di kasur kecil mereka, Denis dan Azka tidur berpelukan rapat, persis seperti dua anak kucing yang tak ingin terpisah. Aku memejamkan mata, berusaha mengabaikan rasa pegal yang menusuk di pinggang. Sejak diagnosa posisi sungsang dan perjuangan keras memutar Aira beberapa minggu lalu, tidur nyenyak menjadi kemewahan yang jarang kudapatkan. Namun malam ini terasa berbeda. Ada rasa berat sekaligus penuh yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Jam dinding menunjuk tepat pukul 02.15. Perlahan aku membalikkan badan, berharap menemukan posisi yang lebih nyaman bagi punggungku. Tiba-tiba, sebuah sensas
Last Updated : 2026-08-29 Read more