Bab 15: Meminta Izin Bilqis terdiam sejenak, membiarkan jemarinya tenggelam dalam genggaman hangat Andika. Seulas senyum kecut yang sarat akan kepasrahan terbit di bibirnya yang tipis. "Mama memang menelepon tadi siang, Mas," jawab Bilqis lirih, pandangannya tertuju pada jemari mereka yang saling bertautan. "Tapi... bukan untuk menanyakan keberadaanku atau menyuruhku pulang." Andika mengerutkan alisnya halus. "Lalu? Mama Naina bilang apa?" "Mama cuma mengabarkan kalau hari ini beliau dan Papa Albert sudah sampai di Singapura. Mereka membawa Evan ke sana untuk ziarah ke makam kakek dan nenek," Bilqis menghela napas pendek, mencoba menahan sesak yang mendadak mencubit dadanya. "Mama bilang, mereka mungkin akan menetap di sana selama satu minggu. Setelah itu, mereka akan langsung mengurus kepindahan sekolah Evan ke luar negeri." Mendengar penuturan istrinya, Andika tertegun. Rahangnya mengeras menahan geram. Hatinya berdenyut perih melihat bagaimana keluarga Zaidan memperl
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-15 อ่านเพิ่มเติม