공유

Malu sendiri

작가: DewaRa
last update 게시일: 2026-08-03 23:11:54

Melihat tidak ada hal aneh atau tindak kejahatan yang terjadi di dalam gubuk tua itu, Pak Andri seketika membeku. Matanya melotot menatap Sena dan Asti yang duduk tenang menikmati teh hangat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

​"A-anu... tadi ada warga yang melapor mendengar suara teriakan dari arah gubukmu, Sena," kata Pak Andri terbata-bata, berusaha menyelamatkan mukanya di depan warga. "Jadi saya berpikiran kamu melakukan hal yang tidak sopan pada wanita ini..."

​"Tapi kami tidak m
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Pulang Dan Menikah

    Sena menuntaskan semua tugas medisnya di ibu kota dengan sempurna. Luruhnya penyakit kronis para pejabat VIP serta kukuhnya benteng dukungan politik dari Bu Mawar dan Bu Jasmin membuat nama Sena menjelma menjadi legenda hidup di Rumah Sakit Kepresidenan. Namun, kemewahan dan riuk-pikuk Jakarta tak pernah sanggup mengikat hatinya. Rindu pada heningnya desa dan sosok Ayu—wanita lembut yang menjadi penambat jiwanya—kian membuncah di dalam dada.​Di ruang tamu rumah dinas, Bu Mawar, Bu Jasmin, dan Dokter Vera berkumpul untuk mengantar kepulangan Sena.​"Sena, apa kamu yakin tidak ingin menetap di Jakarta?" tanya Bu Mawar dengan nada berat melepas. "Fasilitas rumah dinas ini, posisi di rumah sakit, hingga perlindungan politik... semuanya sudah kami siapkan untukmu."​Bu Jasmin ikut mengangguk pelan, menatap Sena dengan binar penuh rasa terima kasih dan keterikatan yang mendalam. "Benar, Sena. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untukmu. Kehadiranmu di sini sangat berarti bagi kami."​Sen

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Terima Kasih Sena.

    Pikiran Sena berdesir pelan. De javu. Sungguh sebuah pola takdir yang sangat sempurna. Dokter Vera yang tegas namun penuh perhatian persis seperti Mbak Irma, Bu Mawar yang anggun dan berkelas seperti Nyonya Sarah, Bu Jasmin yang lembut dan penuh kehangatan seperti Nyonya Widya, serta Ina yang sigap melayani seperti Elsa. Kota besar ini ternyata menyimpan cerminan persis dari wanita-wanita yang membantunya membangun pilar kekuatan di desa.​Sena menatap Bu Jasmin yang berdiri penuh harap di hadapannya.​"Bisa, Bu. Kalau Bu Jasmin berkenan, kita bisa lakukan terapinya sekarang di kamar terapi," tutur Sena ramah.​"Sekarang, Sena? Apa tidak merepotkanmu?" tanya Bu Jasmin, matanya berbinar gembira meski nada suaranya tertahan sopan.​"Tidak sama sekali, Bu. Lebih cepat ditangani, tidur Bu Jasmin malam ini akan jauh lebih nyenyak," sahut Sena seraya melangkah membimbingnya menuju koridor dalam.​Bu Mawar tersenyum tipis, melempar pandangan penuh arti pada Bu Jasmin. "Masuklah, Jasmin. Perc

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Bu Mawar Dan Bu Jasmin Seperti Dejavu

    Bu Mawar melangkah mendekati ranjang terapi kayu. Dengan penuh keanggunan, wanita berpengaruh itu merebahkan tubuhnya menelungkup di atas kasur empuk. Gaun sutra mewahnya sedikit tersingkap di bagian punggung atas, menyingkapkan kulit mulus nan kencang yang memancarkan aroma cendana.​Sena mengatur napasnya, memusatkan Hawa Murni dari pusat dada ke kedua telapak tangannya hingga pendar keemasan hangat memancar samar dari jemarinya.​"Saya mulai ya, Bu Mawar. Rileks dan bernapaslah teratur," bisik Sena halus.​"Baik, Sena... lakukan saja," pukas Bu Mawar dengan nada bergetar gugup bercampur harap.​Sena menempelkan kedua telapak tangannya di belikat belakang Bu Mawar. Sentuhan itu seketika memicu letupan energi. Aliran Hawa Murni yang hangat dan perkasa menerobos masuk melintasi pori-pori kulit punggungnya, merayap cepat menghantam penyumbatan pembuluh darah kronis di belikat dan rongga dada.​"Aahhh..."​Desahan halus lolos dari bibir Bu Mawar. Tubuhnya mendadak lemas seketika. Sensas

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sena Bisa Pijat Aku

    Malam kian larut di kompleks perumahan dinas Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Suasana di sekitar kediaman Sena tampak tenang, hanya diselingi gesekan dedaunan yang ditiup angin malam. Sena baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan kaos polos serta celana kain santai saat ketukan halus terdengar di pintu depan.​Ina, sang ART yang selalu sigap, bergegas membukakan pintu. Tak lama kemudian, gadis itu melangkah menuju ruang tengah tempat Sena sedang duduk menikmati teh hangat.​"Mas Sena, ada Bu Mawar di depan. Beliau membawakan hantaran camilan untuk Mas," pukas Ina dengan nada sopan dan sigap.​Belum sempat Sena menjawab, sosok wanita bertubuh jenjang berkelas itu sudah melangkah masuk. Bu Mawar tampak sangat anggun dengan gaun malam berbahan sutra yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Aromanya yang mewah dan tegas—perpaduan wangi mawar dan kayu cendana—langsung memenuhi ruangan, membuat Sena teringat total pada keanggunan Nyonya Sarah di desa.​"Malam, Sena. Maaf ya kalau Mawar me

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Ada Apa?

    Sena melipat kedua kakinya di atas ranjang, bersila dalam posisi meditasi sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapt, mencoba memusatkan pikiran untuk mengamati sirkulasi Hawa Murni di dalam meridian tubuhnya.​Biasanya, arus energinya terasa tenang dan stabil—terkunci rapat sejak ia mengikat ikrar batin dengan Ayu di desa. Namun malam ini, ada getaran asing yang bergejolak hebat di pusat dadanya.​Pendar keemasan merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi kamar rumah dinas yang remang. Sena dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi kehidupan milik Dokter Vera yang baru saja ia sentuh meninggalkan jejak halus, menyatu, dan membuka pilar energi baru di dalam dirinya.​"Kenapa bisa seperti ini...?" gumam Sena pelan. Solilokui itu bergetar di keheningan malam. "Energi yang seharusnya terkunci rapat bersama Ayu... tiba-tiba merekah kembali. Sensasi ini... persis saat pertama kali aku membantu Bidan Irma."​Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Apakah penyembuhan yang

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Lega Sekali Sena

    Desahan lega yang lolos dari bibir Dokter Vera tadi bukanlah sekadar reaksi atas hilangnya rasa pening. Saat Hawa Murni hangat dari telapak tangan Sena meresap menembus pangkal tengkoraknya, sensasi itu meletup lembut, mengalir terus ke bawah melintasi tulang belakangnya.​Aliran hangat itu meluncur deras menuju area bawah perutnya, memicu denyut halus yang begitu nikmat hingga membuat otot-otot tubuhnya lemas seketika. Sebuah sensasi asing namun sangat membuai, membuat dadanya berdesir hebat.​Sena menarik pelan kedua tangannya, memutus pendar keemasan yang samar-samar menyelimuti jemarinya. Ia melangkah ke samping, menatap wanita di hadapannya dengan raut tenang.​"Bagaimana, Dokter Vera? Sudah enakan?" tanya Sena seraya menyodorkan segelas air hangat.​Dokter Vera menarik napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berdebar kambar. Sensasi nikmat di bawah perutnya bertahap surut, menyisakan kebugaran luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.​"Sudah.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status