Kembali ke gedung Pradipta Group, saat Aruna hendak berjalan menuju pintu keluar, Pak Pram tiba-tiba memotong langkahnya. "Tunggu sebentar, Bu Aruna!" Pak Pram bergegas menuju meja kecil di sudut ruangan, meraih sebuah gelas berisi air hangat dan dua butir obat pereda demam serta pusing yang sengaja ia ambil dari kotak P3K sekretariat. "Minum ini dulu, Bu," desak Pak Pram dengan tatapan yang sangat cemas. "Wajah Anda makin merah. Tolong, minum obat ini dulu sebelum turun ke bawah. Jangan paksakan diri terlalu keras." Aruna menatap dua butir obat di tangan Pak Pram. Tenggorokannya terasa sangat kering dan panas, tapi ia tahu obat ini tidak akan langsung menghilangkan rasa pusing yang bagaikan ditusuk ribuan jarum di kepalanya. Tapi, melihat perhatian tulus dari sekretaris seniornya, Aruna akhirnya mengangguk. Ia mengambil obat itu, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meminum air hangat itu hingga tandas. "Terima kasih, Pak Pram," bisik Aruna parau. Ia mengusap sudut bibirnya
Dernière mise à jour : 2026-07-31 Read More