Kata-kata Aruna menghantam Adrian bagaikan petir di siang bolong. Pria itu memegang kepalanya dengan kedua tangan, menyapu amplop itu hingga bergeser, lalu menatap Aruna dengan raut wajah penuh keputusasaan yang sangat kentara. "Nggak! Nggak bisa gitu, Runa!" raung Adrian, air matanya menetes melintasi pipinya yang kotor. "Aku ini suamimu! Aku tahu aku salah, tapi ini semua gara-gara Nadya! Wanita ular itu yang menjebakku dari awal! Tolong cabut laporan polisinya, Runa... kasihanilah aku! Aku bisa mati di dalam sel ini!" Adrian memohon-mohon, bahkan mencoba meraih ujung lengan blazer Aruna dengan tangan gemetar melalui sekat meja. Namun, Aruna memundurkan posisi berdirinya secara teratur. Tidak ada setitik pun simpati atau belas kasihan di matanya. "Ini bukan hukuman dariku, Adrian," potong Aruna dingin, tatapannya menusuk lurus ke dalam sanubari pria itu. "Ini adalah akibat dari keserakahan, kebohongan, dan kebusukan dirimu sendiri. Kamu yang memilih untuk menipuku, kamu
Last Updated : 2026-08-09 Read more