"Lepaskan bajumu," perintah Baskara. Nadinya tidak meninggi, tidak memohon, hanya sebuah instruksi mutlak yang tidak bisa dibantah."Tuan... Baskara..." Kiara tergagap, tangannya mencengkeram tepi blusnya. "Haruskah... sekarang?"Baskara menyipitkan matanya, sorotnya menggelap berbahaya. "Aku tidak suka mengulang perintahku, Kiara. Atau kau ingin Raja masuk ke kamar ini dan membantumu?"Ancaman halus itu membuat darah Kiara berdesing. Dengan tangan yang kini gemetar bukan karena gairah, melainkan karena intensitas tatapan pria itu, Kiara mulai membuka kancing blusnya. Ia melucuti blazer, blus, hingga roknya, membiarkan pakaian-pakaian itu jatuh ke lantai. Kini ia hanya mengenakan bra hitam dan celana dalam yang kontras dengan kulit pucatnya.Baskara hanya menonton dari atas kursi rodanya. Wajahnya tetap menjadi topeng es yang sempurna, namun mata gelapnya menyapu setiap inci kulit Kiara yang tersingkap dengan tatapan lapar yang terkontrol. Ia menikmati pemandangan wanita yang biasanya
Last Updated : 2026-08-28 Read more