Tubuh Naya menegang sesaat. Nalurinya untuk memberontak meronta-ronta di dalam dada, ingin rasanya ia menjerit, menampar wajah palsu itu, dan melompat keluar dari mobil yang melaju kencang ini. Namun logika bertahan hidupnya dengan cepat mengambil alih kemudi. Naya tahu, jika ia menunjukkan sedikit saja perlawanan sekarang, jika ia membongkar bahwa ia telah mengetahui kebusukan Arga, pria psikopat ini tidak akan segan-segan menghukumnya dengan cara yang jauh lebih mengerikan dari sekadar merantai kakinya. Arga bisa membunuhnya malam ini juga, atau yang lebih buruk, benar-benar melumpuhkannya secara fisik. Naya harus berpura-pura bodoh. Ia harus kembali memakai topeng boneka penurut yang telah dipahat Arga di wajahnya. Naya menghela napas panjang, memaksakan tubuhnya untuk rileks, lalu menyandarkan kepalanya perlahan ke bahu kiri Arga. Ia memejamkan mata, membiarkan wajahnya memancarkan kepasrahan yang sempurna. "Aku nggak apa-apa, Mas," bisik Naya lembut, meremas balik tangan A
آخر تحديث : 2026-08-27 اقرأ المزيد