Di dalam dadanya, Naya merasa ada sesuatu yang patah dan mati selamanya. Naya yang lugu, Naya yang penuh rasa iba, dan Naya sang korban, telah tewas di dalam kamar ini malam ini. Yang tersisa kini hanyalah seorang wanita yang otaknya telah berevolusi menjadi hakim dan algojo. Naya melengkungkan bibirnya, membentuk senyuman manis dan polos yang terlampau sempurna, meniru persis topeng yang selama ini digunakan Arga padanya. "Nggak apa-apa, Mas," balas Naya lembut, meraih tangan Arga dan mengecup punggung tangan pria itu dengan kepatuhan palsu yang menipu. "Aku bisa nunggu. Asal ada Mas Arga, aku rela nunggu sampai kapan pun." Mendengar itu, dada Arga membusung bangga. Sang psikopat merasa kemenangannya sudah mutlak, tak menyadari bahwa wanita yang sedang menunduk di hadapannya ini diam-diam telah mengasah sebilah belati tak kasat mata di dalam pikirannya. */'Nikmati kemenanganmu malam ini, Mas,' batin Naya dengan tatapan sedingin es di balik matanya yang terpejam. 'Karena be
آخر تحديث : 2026-08-30 اقرأ المزيد