로그인“Kalian butuh uang, kan?” Pertanyaan itu diulang oleh Rio. Masalahnya, bukan Arvin yang merasa panas telinga, melainkan Lala. Wanita itu sontak maju sejajar dengan Arvin, setelah sebelumnya dia bersembunyi di belakang punggung suaminya. Lala berkata dengan emosi tertahan. “Butuh uang?” Wanita itu membeo. “Yakin, Pak Rio? Apa Anda lupa siapa Pak Arvin Dirgantara ini?” Rio berkedip-kedip cepat. Otaknya butuh waktu memproses informasi sederhana itu. Dia benar-benar lupa latar belakang pria di hadapannya ini, karena emosi yang menggelegak setelah melihat kedatangan Mew ke sini. Sampai akhirnya matanya membelalak lebar dan mulutnya ternganga. “Sudah ingat?” tanya Lala sinis. “Aku ….” Rio gelagapan. Arvin menarik lembut tangan Lala. Dia maju selangkah, melindungi istrinya dengan tubuhnya yang jangkung. “Kami adalah arsitek dan desainer yang akan merancang rumah Anda. Kami sudah menawarkan waktu untuk berdiskusi. Tapi diskusi tak mungkin berlangsung kalau kalian berdua bahkan tidak
Lala membaca chat dari Rio yang ditujukan kepadanya. Lagi-lagi lelaki itu berusaha mendekatinya dengan alasan desain.“Pagi-pagi udah dibikin badmood sama ini orang.” Lala menggerutu.Dia turun dari tempat tidur. Saat melewati walk in closet, Lala teringat dengan luka-luka di tubuhnya.Gang yang sempit.Aspal yang terasa menyakitkan di kulit.Ketakutan tak akan pernah bisa bertemu Arvin lagi.Lala menelan ludah. Tanpa sadar badannya sedikit gemetar. Setelah perasaannya memburuk karena bertemu dengan Rio kemarin, siangnya Lala langsung dihantam dengan pertemuan mengerikan dengan seseorang dari masa lalunya.“Maafkan saya. Tapi saya benar-benar tidak bisa.”Perhatian Lala teralihkan. Dia melihat suaminya sedang bicara di balkon. Ponsel menempel di telinga kirinya. Saat pandangan mereka bertemu, Arvin bicara tanpa suara memberi tahu siapa yang meneleponnya.Mew, istri dari Rio.Lala tak berminat menguping. Dia bergegas masuk kamar mandi dan segera bersiap untuk pekerjaan hari ini. Saat
“Aku jatuh.” Jantung Arvin serasa berhenti berdetak. Darah seolah berhenti mengalir di wajahnya. “Ayo, ke dokter.” Arvin membungkuk untuk membopong Lala. “Arvin, nggak usah.” Lala yang pucat pasi menolak. Dia memperbaiki posisi bajunya yang sedikit berantakan. Rambutnya yang sedikit acak-acakan juga dirapikannya secepat mungkin. “Aku nggak apa-apa,” ujar Lala lirih. “Tadi aku lari dari parkiran ke sini, terus kepeleset.” Mata Arvin menyipit. Jelas dia tidak percaya dengan penjelasan istrinya. Hanya terpeleset tidak mungkin membuat bajunya berantakan dan rambutnya awut-awutan. Kecuali …. Arvin mengenyahkan prasangkanya. Dia tetap membungkuk dan membopong Lala. Tidak peduli dirinya kini menjadi tontonan pengunjung restoran, Arvin berjalan tegap membawa Lala keluar. “Arvin.” Wanita itu menyembunyikan wajah di dada suaminya. Rahang Arvin mengeras merasakan kemejanya basah. Wanitanya menangis tanpa suara. Saat berada di pintu resto, pandangan Arvin tidak sengaja berserobok dengan
“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Ternyata susah sekali membuat janji temu dengan desainer interior yang cantik dan berbakat sepertimu, Nalani.” Lala menggarisbawahi pilihan kata Rio. Cantik diucapkan lebih dulu dibandingkan bakat. Jika yang bicara adalah Arvin, sudah pasti sekarang dia melambung tinggi. Sayangnya, yang memujinya adalah suami orang. “Sesuai dengan schedule kita. Pertemuan kedua adalah hari ini.” Lala tersenyum manis. Rio menarikkan kursi untuknya, sementara Lala duduk dengan perasaan tidak nyaman. Dia langsung blak-blakan bertanya kepada kliennya. “Anda menyukai ruang tertutup untuk pertemuan rupanya.” Rio terkekeh. “Ini private room yang sangat susah reservasinya. Makanan di sini enak. Aku ingin bawa kamu ke pengalaman kuliner baru.” “Terima kasih untuk tawarannya. Tapi saya datang ke sini khusus untuk menbicarakan desain rumah Anda.” Lala sec
Ubud memang menawan. Namun, faktanya pesona Ubud tak bisa dinikmati Lala secara maksimal karena Arvin menahannya tanpa henti di atas ranjang! “Arvin, aku capek.” Lala merayap dari balik selimut. “Biarin aku tidur bentar.” Memang sebentar. Arvin mengizinkannya memejamkan mata selama dua jam. Namun, Lala terbangun dengan situasi yang sangat merangsang. Suaminya sudah memasukinya dan memompanya tanpa henti, bahkan saat Lala tertidur. Begitu membuka mata, hantaman orgasme datang beruntun memenuhi jiwa Lala. “Aku kangen kamu,” bisik Arvin di telinga istrinya. Lala melenguh. Entah sudah berapa kali mereka bercinta. Hingga di penghujung hari kedua, baru Arvin dan Lala keluar dari kamar hotel. “Ponselmu bunyi terus dari tadi.” Arvin berkata saat mereka makan malam di salah satu restoran cozy yang menghadap langsung ke persawahan Ubud. Lala mengerjapkan mata. Nama Rio Pramudya muncul di l
“Kiriman bunga untuk Nona Nalani Shakila.” Driver ojek online menyodorkan satu buket besar bunga mawar dan lili kepada Lala. Dia menyodorkan papan tablet untuk ditandatangani. “Siapa yang mengirim?” Lala bertanya. “Nggak ada kartu namanya.” “Di resi tercantum nama Rio Pramudya.” Lala mendongak. Gerakan refleks pertamanya adalah menengok suaminya yang sedang mengembalikan kartu kamar ke resepsionis di lobi. “Terima kasih,” ujar Lala dan cepat-cepat mengarah ke tong sampah di samping pintu putar. Driver bengong melihat Lala membuang buket bunga mahal itu ke tong sampah. Namun, dia tidak ambil pusing. Tugasnya hanya mengantar. Urusan diterima atau tidak, bukan masalahnya. Sementara itu, Lala mengabaikan pandangan penuh tanda tanya dari resepsionis. Jantungnya berdebar-debar kencang. Dia berusaha memastikan Arvin tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi. “Darimana R







