เข้าสู่ระบบ“Kamu pernah kasih aku kerjaan renovasi interior apartemen, kan? Jadi, ini salah satu material yang aku butuhkan.”Arvin berkedip cepat. Mulutnya terbuka lebar. Hilang sudah citra CEO yang dingin dan tenang melihat pemandangan cabul di hadapannya.“Lala,” suara Arvin serak. Dia sampai perlu berdeham-deham untuk membersihkan tenggorokan. “Ruangan mana yang kamu renov?”“Kamar di samping tangga.” Lala tersenyum lebar. “Pintunya kubuat tersembunyi. Aku sudah koordinasi dengan manajemen gedung. Mereka mau kasih izin buat ubah tata letak pintu.”Arvin mengangkat borgol berlapis bulu. Ada banyak tipe borgol terpajang di hadapannya. Belum lagi deretan cambuk dalam berbagai warna, ukuran, dan jenis.“Lala.” Arvin menarik wanita itu ke sudut ruangan. Wajahnya sudah merah padam. “Ini … apa?”“Kamar bercinta kita,” jawab Lala dengan volume normal. Arvin sontak membekap mulut Lala, tetapi wanita itu segera menurunkan tangan suaminya. Tawanya renyah.“Tenang aja. Di sini cuma ada kita berdua, kok
“Selamat, Ibu. Perkiraan usianya sekitar delapan minggu. Lihat, ukuran janinnya sebesar buah berry.”Lala mengusap foto USG. Ingatannya kembali memutar percakapan dengan dokter kandungan beberapa menit lalu.Sekarang dia sedang duduk di ruang tunggu. Sembari menanti resep vitaminnya selesai dibuat, Lala memandangi kertas kecil dengan gambar lingkaran yang tidak bisa dia baca.“Kamu ada, Nak. Kamu beneran ada.” Lala mengusap perutnya. “Sebesar buah berry. Ya ampun, kamu kecil banget. Padahal bapakmu udah kayak gapura kabupaten gitu.”Senyum Lala perlahan sirna saat teringat Arvin. Dia menelan ludah. Segumpal rasa panas menyumbat tenggorokannya.[Gimana kalau Arvin tahu aku hamil? Apa dia bakalan lebih protektif lagi? Apa dia bakal maksa aku berhenti kerja?]Lala menggigit bibir. Ketakutan harus berhenti dari pekerjaannya dan dikurung di rumah karena hamil terus menghantui pikiran Lala.[Aku nggak boleh kasih tahu Arvin soal kehamilanku. Nggak sekarang. Mending nunggu aja pas perutku ud
Dua garis merah muda.Pandangan Lala nanar. Jarinya yang memegang setrip kehamilan gemetar. “Ini … hamil?” tanyanya lirih kepada diri sendiri.Tok. Tok. Tok.“Lala. Sayang. Kamu masih lama di dalam?”Lala terlonjak kaget. Refleks dia menyembunyikan setrip test pack ke dalam branya. Kemudian, dengan terburu-buru Lala membuang bungkus dan cawan penguji kehamilan ke tong sampah.“Pakai kamar mandi luar saja, Vin!” teriak Lala.“Kamu butuh privasi? Biasanya pintu nggak dikunci.”Lala memutar bola mata. “Pakai kamar mandi luar saja!” teriak wanita itu setengah kesal.Arvin menggerutu. Detik berikutnya terdengar suara langkah kaki menjauh. Lala duduk di toilet sambil mengelus-ngelus dadanya yang berdebar kencang.“Kenapa aku setakut ini?” Lala menghembuskan napas panjang. Dia mengambil lagi bungkus test pack dan menyembunyikannya di balik baju. Memanfaatkan Arvin yang masih berada di kamar mandi luar, Lala menyelinap keluar dan bergegas memasukkan semua pernak-pernik penguji kehamilan itu
“Kalian mending cari kamar aja, deh. Eneg aku lihat kemesraan kalian.”Celetukan dari Arlo itu menyadarkan Lala di mana dia berada sekarang. Lala tersentak kaget dan cepat-cepat melepaskan diri dari Arvin.“Om. Tante. Paman. Bude. Ya, kayak gini ini yang aku lihat tiap hari. Mereka pamer kemesraan terus,” imbuh Arlo lagi.Lala melotot penuh peringatan kepada adik iparnya. Arvin malah memberikan tatapan penuh terima kasih kepada adiknya satu itu.“Kamu benar. Kami memang mau pulang cepat.” Arvin meletakkan serbet di atas meja dan berdiri.“Loh, acaranya belum selesai, Vin.” Bude Makasar terkejut.Arvin menggenggam tangan Lala. “Maafkan kami, Bude. Tapi Arlo akan tinggal di sini sampai selesai. Kami masih harus melakukan … banyak hal.”Arvin sengaja menekankan kata-kata terakhirnya seolah ingin melempar umpan yang ambigu. Hasilnya persis seperti yang dia inginkan. Semua orang jadi salah paham.“Ya. Ya. Pengantin baru memang sedang masa panas-panasnya.”“Wah, gerak cepat juga kamu, Vin!”
“Keluargamu brutal semua. Ampun, deh. Kalau tahu bakal kayak gini, aku nggak mau nikah sama kamu. Belum telat buat cerai.”Arvin mendorong Lala ke dinding. Tatapan tajamnya menusuk sepasang mata Lala.“Kamu menyesal menikah denganku?” Arvin menjepit dagu Lala. “Terlambat. Sangat terlambat buat cerai, Sayang.”Satu sudut bibir Lala tertarik ke belakang. “Nggak ada kata terlambat, Suamiku.”Arvin memiringkan kepala. Tatapannya mengunci Lala. Sayup-sayur terdengar suara musik pesta yang teredam. Aroma lavender dari pengharum ruangan bercampur dengan bau lezat masakan yang terbawa angin.“Kalau aku ngapa-ngapain kamu, nggak ada yang bakal tahu,” bisik Arvin.Lala melirik kanan kiri. Pria itu benar. Mereka kini ada di salah satu sudut taman yang remang-remang.“Kenapa kamu narik aku ke tempat gelap-gelapan kayak gini? Mau ngelecehin aku, Pak CEO?”Bahkan di dalam gelapnya malam, Lala bisa melihat seringai licik di wajah pria itu. Anehnya dia merasa senang dengan ekspresi Arvin.Baru seteng
“Bude, ini istriku. Namanya Nalani Shakila. Panggilannya Lala.”Arvin melepas rangkulan Bude di tangannya. Pria itu menoleh ke arah Lala dan mengulurkan tangannya. “Lala.”Wanita itu bergerak canggung menerima uluran tangan Arvin. Sementara Bude menatap Lala dengan ekspresi dingin dan tatapan datar.“Istri barumu?” tanya Bude dingin.Lala merutuk dalam hati. Ternyata keturunan Dirgantara punya sistem default dalam cara bicara. Dingin dan tegas.“Benar.” Arvin mengangguk.“Si anak pembantu itu?”Ada keheningan yang memekakkan di antara mereka. Suasana tegang menyelimuti tempat itu.“Bude–”“Benar. Saya si anak pembantu itu.” Lala memotong perkataan Arvin. Bude mengangkat alis. Kembali ada keheningan mencekam di antara mereka. Sampai Bude memecahkannya dengan komentar yang menusuk.“Kamu benar-benar downgrade, Arvin.”Tangan Lala mengepal di genggaman Arvin. Pria itu tersenyum dingin.“Kurasa tidak, Bude. Aku justru naik level karena sudah menikah dengan wanita sesempurna Lala.”Wajah







