تسجيل الدخول"Ma, ini rumah siapa?" tanya Noval sambil menunjuk sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan pilar-pilar putih."Itu rumah orang kaya, Nak.""Noval kaya?"Arini tersenyum. "Noval tidak kaya. Tapi Noval punya orang tua yang kaya.""Berarti Noval kaya?""Tidak. Noval tetap anak biasa. Yang penting Noval baik, rajin sekolah, sayang Papa dan Mama. Itu lebih berharga dari uang."Noval mengangguk, meskipun mungkin tidak sepenuhnya mengerti.Wandi memutar setir ke kanan, memasuki gang kecil yang lebih sepi. Di ujung gang, berdiri sebuah rumah putih dengan pagar hijau, rumah Arini sebelum menikah. Rumah itu masih sama seperti yang Wandi ingat: dua lantai dengan arsitektur modern minimalis, taman kecil di depan dengan rumput sintetis dan beberapa pot bunga. Lampu taman berwarna kuning hangat menyala di sepanjang jalan setapak.Di garasi, mobil Porsche kuning terparkir rapi, tertutup kain penutup debu. Di sampingnya, terparkir mobil lain, mungkin mobil dinas atau mobil keluarga.Wandi memarkir BM
Arini mencondongkan tubuh ke depan. "Barang apa, Wan?"Wandi menunjuk ke kotak musik yang masih di pangkuan Noval. "Itu. Kotak musik. Tua. Dari zaman Belanda.""Zaman Belanda? Serius, Wan?"Wandi mengangguk. "Aku lihat deskripsinya. Kotak musik itu buatan Jerman, akhir abad ke-19. Dulu dibawa ke Batavia oleh keluarga kolonial Belanda. Selamat dari kebakaran besar tahun 1890."Arini terperangah. "Wah, berarti usianya sudah lebih dari seratus tahun?""Seratus empat puluh tahun, kurang lebih.""Dan harganya?"Wandi menghela napas. Dia melihat ke spion tengah, menatap Arini sekilas. "Dua setengah sampai tiga setengah miliar, Rin."Arini membelalak. Tangannya menutup mulut. "Astaga... itu... itu uang banyak, Wan.""Iya. Tapi itu milik Noval. Itu peninggalan ibunya. Dulu ibu Noval tidak tahu nilainya. Mbah Naryo bilang, ibu Noval tidak pernah mau menjualnya meskipun hidup susah."Arini menghela napas panjang. "Ibu Noval... dia lebih memilih menyimpan kenangan daripada menjualnya untuk uang.
Mobil BMW hitam melaju pelan di jalanan Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala terang, memancarkan cahaya jingga yang temaram di atas aspal yang sedikit basah karena gerimis sore tadi. Lampu merah di perempatan memaksa Wandi mengerem perlahan, berhenti tepat di belakang garis putih. Di samping kanan, sebuah truk tangki air berhenti dengan suara rem angin yang mendesis. Di samping kiri, seorang bapak-bapak dengan motor bebek butut sedang sibuk memeriksa ponselnya, mungkin melihat peta atau membalas pesan.Di kursi penumpang depan, Noval duduk dengan tenang, sesekali melihat ke luar jendela, sesekali memegang kotak musik tua di pangkuannya. Wajahnya masih berseri-seri, tidak seperti siang hari ketika dia menangis di depan rel kereta. Sekarang, dia tampak lebih tenang, lebih damai. Mungkin karena dia sudah melepas rindu dengan mengunjungi rumah lamanya. Mungkin karena dia sudah bertemu Mbah Naryo, satu-satunya sosok dari masa lalu yang masih mengingat ibunya. Atau mungkin ka
Arini menggendong Noval, mencium pipinya. "Noval, kamu sudah sampai? Papa jemput Mama?""Iya, Ma. Noval ikut. Noval liat kantor Mama. Tinggi banget!""Kamu suka?""Noval suka! Kantor Mama kayak istana."Arini tertawa. Dia memeluk Noval erat.Beberapa anggota tim keuangan yang masih di sekitar, tersenyum melihat interaksi itu. Mereka tahu Arini baru saja menikah, tetapi belum tahu bahwa dia sudah memiliki anak."Bu Arini, ini anak Ibu?" tanya seorang pria berkacamata."Iya, Pak. Anak saya, Noval.""Wah, selamat, Bu. Semoga menjadi anak yang berbakti.""Aamiin. Terima kasih."Tim keuangan mulai beranjak, meninggalkan Arini, Wandi, dan Noval di depan ruang CEO."Wan, masuk dulu," ucap Arini."Boleh?""Iya. Aku mau selesaikan administrasi sebentar."Mereka masuk ke ruangan Arini.Ruang CEO Arini luas dan elegan. Dinding kaca di sisi selatan menawarkan pemandangan langsung ke arah Gunung Salak di kejauhan, meskipun sekarang gunung itu hanya terlihat sebagai bayangan gelap di balik lampu-la
Mbak Rina kemudian melihat Noval di gendongan Wandi. Matanya membeliak. "Wah, ini siapa, Mas? Ganteng sekali."Wandi tersenyum. "Ini anak saya, Noval."Noval yang tadinya agak malu, kini tersenyum. "Selamat sore, Mbak," sapa Noval dengan sopan.Mbak Rina terkejut sekaligus gemas. "Wah, sopan sekali. Namanya Noval, ya? Umur berapa?""Empat tahun, Mbak.""Empat tahun? Besar sekali. Sudah sekolah?""Sudah, Mbak. TK Bunda Mulia.""Pintar. Kamu bisa apa, Noval?"Noval berpikir sejenak. "Noval bisa baca. Bisa tulis. Bisa main puzzle. Bisa... bisa naik motor sama Papa."Mbak Rina tertawa. "Wah, hebat. Nanti main ke sini lagi, ya.""Iya, Mbak.""Mas Wandi, Bu Arini di lantai 24. Mas langsung naik saja.""Baik, Mbak. Terima kasih."Wandi berjalan meninggalkan meja resepsionis, menuju deretan lift di ujung ruangan.Lift di gedung itu ada empat. Semuanya berlapis stainless steel mengkilap, dengan tombol-tombol digital yang berpendar biru. Wandi menekan tombol panggil lift. Beberapa detik kemudia
Wandi memperlambat laju mobil, lalu menunjuk ke arah gedung itu."Nak... lihat, itu kantor Mama."Noval menatap ke arah yang ditunjuk Wandi. Matanya membeliak. Mulutnya terbuka. Tangannya yang tadinya tenang di pangkuan, kini naik, kedua telapak tangannya menempel di kaca jendela."Wuuuiiiiihhh... kantornya Mama tinggi banget, Pa! Sampai nyentuh langit!" seru Noval dengan suara penuh kekaguman yang khas anak TK, jujur, polos, dan tidak dibuat-buat.Wandi tertawa. "Iya, Nak. Tinggi. Mama kerja di lantai 24.""Dua puluh empat? Itu berapa, Pa?""Banyak. Nanti Noval bisa lihat dari lift.""Noval mau naik lift! Noval mau naik lift!""Sebentar, Nak. Kita parkir dulu."Wandi memutar setir, memasuki area parkir gedung. Seperti biasa, dia akan memarkir mobil di tempat VIP yang disediakan khusus untuk Arini. Tetapi kali ini, dia ingin Noval melihat proses masuk ke gedung dari awal.Wandi mendekati pintu gerbang parkir. Sebuah palang pintu otomatis dengan sensor plat nomor terpasang di pintu mas







