Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Wandi tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan ritual yang akan dia jalani pagi ini. Dia sudah memeluk Arini dan Noval sebelum mereka tidur, dan Arini sempat bertanya, "Wan, kamu kenapa gelisah?" Wandi hanya menjawab, "Besok aku ada urusan penting, Rin. Doakan aku." Arini mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut.Wandi bangkit dari kasur, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap bayangannya di cermin, wajah yang kini tidak lagi kusam, mata yang tajam, dan tubuh yang kekar. Dia mengambil handuk, mengelap wajahnya, lalu berjalan ke lemari.Di dalam lemari, terbungkus kain beludru hitam, keris
Terakhir Diperbarui : 2026-09-01 Baca selengkapnya