LOGINPria tua itu menatap Wandi dengan serius. Matanya yang tajam menembus jiwa Wandi. "Musuhmu tidak hanya satu. Andre mungkin dalang di balik penculikan. Tapi ada yang lebih besar di balik Andre. Seseorang yang menginginkan keris ini. Seseorang yang menginginkan kekuatannya. Seseorang yang tidak akan berhenti sampai keris ini jatuh ke tangannya.""Siapa, Kakek?""Aku tidak tahu namanya. Tapi aku bisa merasakan kehadirannya. Dia gelap. Dia jahat. Dia tidak segan membunuh."Wandi menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal."Kakek, apa yang harus aku lakukan?""Lindungi keris ini. Lindungi Noval. Lindungi Arini. Jangan biarkan mereka jatuh ke tangan musuh.""Tapi aku tidak cukup kuat, Kakek.""Kamu cukup kuat, Wandi. Kamu memiliki keturunan prajurit. Kamu memiliki keris ini. Kamu memiliki hati yang bersih. Itu sudah lebih dari cukup."Pria tua itu mengulurkan tangannya, meletakkan telapak tangannya yang keriput di dada Wandi."Rasakan, Wandi. Rasakan detak jantungmu. Itu adalah detak jant
Malam itu, Jakarta terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit di luar jendela kamar Wandi gelap gulita, tidak ada bintang, tidak ada bulan. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah masih menyala, memancarkan cahaya jingga temaram yang nyaris tidak cukup untuk menembus kegelapan. Burung-burung pipit sudah lama berhenti berkicau, digantikan oleh suara jangkrik yang bersahutan dari halaman belakang dan sesekali suara knalpot motor dari jalan raya yang terdengar samar-samar.Wandi berbaring di kasur, di samping Arini yang sudah terlelap. Wajah Arini tenang, dadanya naik turun perlahan, rambutnya terurai di atas bantal. Di sisi lain kasur, Noval juga sudah tidur, dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya memeluk boneka kecil peninggalan ibunya, tangan kirinya terulur ke arah Wandi seolah mencari perlindungan. Kotak musik peninggalan ibunya diletakkan di samping bantal, tidak jauh dari jangkauan tangannya.Wandi me
Arini menghela napas panjang. "Baiklah. Aku percaya. Kamu tidak pernah berbohong padaku.""Terima kasih, Rin."Noval yang dari tadi asyik bermain dengan mobil-mobilan Hot Wheel di lantai, tiba-tiba berhenti. Dia menatap tas ransel hitam di atas meja."Pa, itu tas apa? Kok belum pernah diliat?" tanya Noval.Wandi menoleh ke tas ransel. "Itu tas Papa, Nak. Isinya keris.""Keris? Apa itu keris?""Keris itu... senjata tradisional Jawa. Bentuknya seperti pisau, tapi berkelok-kelok.""Kayak apa, Pa? Noval mau lihat."Wandi ragu sejenak. Dia menatap Arini. Arini mengangguk."Perlihatkan saja, Wan. Dia anak-anak. Tidak akan mengerti.""Baik."Wandi berdiri, mengambil tas ransel, lalu membukanya perlahan. Dia mengeluarkan bungkusan kain beludru hitam, lalu meletakkannya di atas meja. Dengan hati-hati, dia membuka kain beludru itu.Keris itu tergeletak di atas meja, bilahnya yang berkelok sebelas luk berkilauan di bawah cahaya matahari siang yang masuk melalui jendela. Gagang kayu hitam dengan
Wandi membungkus keris itu dengan kain beludru, memasukkannya ke tas ransel, lalu berdiri. Dia menyalami Kyai Slamet, memberinya amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih."Kyai, saya pamit.""Hati-hati di jalan, Mas. Keris ini sekarang titipan Tuhan kepada Mas. Jangan sia-siakan.""Tidak akan, Kyai."Wandi berjalan keluar. Di luar, matahari sudah semakin tinggi. Wandi menaiki NMAX hitamnya, menyalakan mesin, dan melaju meninggalkan gang sempit.Pikirannya masih kacau. Tapi hatinya tenang."Aku keturunan prajurit Kerajaan Sunda. Keris ini adalah warisanku. Dan aku akan menjaganya."Di luar, matahari sudah semakin tinggi. Jakarta di pagi hari tetap sibuk, tetapi Wandi tidak merasakan kebisingan. Pikirannya masih dipenuhi dengan penglihatan di alam batin, sosok pria tua dengan janggut putih, cahaya keemasan, kata-kata tentang keturunan prajurit Kerajaan Sunda."Kamu tidak sendirian."Wandi menaiki NMAX hitamnya, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan gang sempit. Minimap
Kyai Slamet mengambil cobek kecil berisi kemenyan, lalu menyalakannya dengan korek api. Api kecil membakar kemenyan, mengeluarkan asap putih tipis yang mengepul ke udara. Aroma kemenyan yang khas, wangi, sedikit tajam, tetapi menenangkan, mulai memenuhi ruangan."Mas Wandi, duduk yang tenang. Pejamkan mata. Atur napas. Biarkan pikiran Mas kosong."Wandi memejamkan mata. Dadanya naik turun perlahan. Tangannya di atas pangkuan, telapak tangan menghadap ke atas. Dia mencoba mengosongkan pikirannya, mencoba tidak memikirkan Arini, Noval, Andre, atau masalah-masalah lain. Fokus hanya pada keris. Pada getaran yang dia rasakan ketika memegang keris itu."Mas Wandi, sekarang buka mata."Wandi membuka mata. Asap kemenyan mengepul di depannya, membentuk lingkaran-lingkaran yang perlahan menghilang."Mas Wandi, ambil keris itu. Pegang dengan kedua tangan. Rasakan."Wandi meraih keris itu. Gagang kayu hitam terasa dingin di telapak tangannya. Tapi tidak lama kemudian, dingin itu berubah menjadi h
Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Wandi tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan ritual yang akan dia jalani pagi ini. Dia sudah memeluk Arini dan Noval sebelum mereka tidur, dan Arini sempat bertanya, "Wan, kamu kenapa gelisah?" Wandi hanya menjawab, "Besok aku ada urusan penting, Rin. Doakan aku." Arini mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut.Wandi bangkit dari kasur, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap bayangannya di cermin, wajah yang kini tidak lagi kusam, mata yang tajam, dan tubuh yang kekar. Dia mengambil handuk, mengelap wajahnya, lalu berjalan ke lemari.Di dalam lemari, terbungkus kain beludru hitam, keris







