Share

Panik (part 2)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-08-31 11:35:51

"Mas Wandi, selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?"

"Pak Budi, maaf mengganggu lagi. Saya ingin bertanya tentang keris yang dulu saya jual ke Bapak."

"Oh, keris Kerajaan Sunda itu? Ada apa, Mas?"

"Saya... saya ingin tahu lebih banyak tentang sejarahnya. Tentang kekuatannya. Tentang... apakah keris itu bisa hidup?"

Pak Budi terdiam sejenak. Wandi mendengar suara napas berat dari seberang.

"Mas Wandi, saya tidak tahu detailnya. Yang saya tahu, keris pusaka sering dianggap memiliki tuah. Ada yang pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Panik (part 4)

    Wandi tersenyum. "Selamat pagi, Kyai. Saya Wandi. Saya ingin berkonsultasi tentang keris."Kyai Slamet mengerjap. "Keris? Mas punya keris?""Iya, Kyai. Keris pusaka. Kerajaan Sunda. Abad ke-14."Kyai Slamet terdiam. Matanya membeliak. "Kerajaan Sunda? Abad ke-14? Mas, itu barang sangat langka. Boleh saya lihat?"Wandi menggeleng. "Maaf, Kyai. Kerisnya tidak saya bawa. Saya takut... takut terjadi sesuatu.""Takut terjadi apa?""Keris itu... aneh, Kyai. Beberapa hari yang lalu, keris itu sudah saya jual ke toko barang antik. Lalu toko itu menjualnya ke kolektor di Surabaya. Tapi kemarin malam... keris itu muncul di meja kamar saya."Kyai Slamet mengerjap. "Muncul? Maksud Mas, keris itu tiba-tiba ada di meja Mas?""Iya, Kyai. Saya tidak tahu bagaimana bisa. Pintu terkunci. Tidak ada yang masuk. Tiba-tiba keris itu sudah ada di sana."Kyai Slamet menarik napas panjang. "Mas, ini serius. Keris itu mungkin 'nggolek' mencari pemiliknya. Keris itu memilih Mas sebagai pemilik yang sah.""Tapi

  • Kurir Pemilik Sistem   Panik (part 3)

    Dia mengambil jaket jeans dari belakang pintu, jaket yang sama yang dia kenakan sejak dulu, jaket yang menemani perjuangannya dari kurir hingga menjadi kaya raya. Jaket itu sudah usang, sobek di siku, tetapi masih hangat. Dia mengenakannya, lalu mengambil helm hitam dari gantungan di samping pintu. Helm itu sudah lama, ada goresan di sisi kiri, tetapi masih layak pakai.Wandi membuka pintu, melangkah keluar. Udara pagi yang sejuk menyambutnya, membawa bau tanah basah dan dedaunan dari halaman. Dia berjalan ke NMAX, duduk di jok, dan memasukkan kunci kontak.Brumm... Mesin menyala dengan suara halus khas motor matic.Wandi tidak segera menarik gas. Dia duduk sejenak, memejamkan mata, mencoba memanggil minimap di sudut pandangannya."Minimap, tolong tunjukkan... siapa ahli keris di Jakarta? Siapa yang bisa aku temui? Siapa yang bisa mengajariku tentang benda ini?"Tidak ada suara. Tidak ada respons verbal. Tapi di pojok kanan bawah pandangannya, peta kecil berwarna biru gelap muncul. Ga

  • Kurir Pemilik Sistem   Panik (part 2)

    "Mas Wandi, selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?""Pak Budi, maaf mengganggu lagi. Saya ingin bertanya tentang keris yang dulu saya jual ke Bapak.""Oh, keris Kerajaan Sunda itu? Ada apa, Mas?""Saya... saya ingin tahu lebih banyak tentang sejarahnya. Tentang kekuatannya. Tentang... apakah keris itu bisa hidup?"Pak Budi terdiam sejenak. Wandi mendengar suara napas berat dari seberang."Mas Wandi, saya tidak tahu detailnya. Yang saya tahu, keris pusaka sering dianggap memiliki tuah. Ada yang percaya keris bisa melindungi pemiliknya. Ada yang percaya keris bisa mendatangkan keberuntungan. Ada yang percaya keris bisa... bergerak sendiri.""Bergerak sendiri?""Iya, Mas. Saya pernah dengar cerita dari kolektor tua, ada keris yang bisa berpindah tempat sendiri. Dari lemari ke meja, dari meja ke lemari. Bahkan ada yang bisa kembali ke pemilik aslinya meskipun sudah dijual."Wandi terdiam."Kembali ke pemilik aslinya. Itu yang terjadi. Keris ini kembali kepadaku.""Tapi Pak Budi, apakah keri

  • Kurir Pemilik Sistem   Panik (part 1)

    Matahari pagi belum sepenuhnya meninggi ketika Wandi duduk sendirian di ruang tamu rumahnya yang sederhana. Rumah itu sunyi tanpa kehadiran Arini yang sudah berangkat ke kantor lebih awal untuk menyelesaikan laporan keuangan yang tertunda, dan tanpa Noval yang sudah diantar ke sekolah oleh Arini. Wandi memilih untuk tinggal di rumah hari itu. Bukan karena malas, tetapi karena kepalanya terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Keris itu masih tergeletak di atas meja kayu di depannya, terbungkus kain beludru hitam yang sedikit longgar di sudut-sudutnya. Sesekali, ketika cahaya matahari pagi masuk melalui jendela, bilah keris itu berkilauan, memantulkan kilatan-kilatan kecil yang hampir seperti bintang jatuh.Wandi menatap keris itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa terhormat karena benda pusaka bersejarah kembali kepadanya. Di sisi lain, dia merasa bingung dan sedikit takut. Benda ini sudah dijual, sudah dikirim ke Surabaya, sudah dikonfirmasi

  • Kurir Pemilik Sistem   Topeng Keramahan (part 5)

    Ding. Lantai 24. Pintu terbuka.Wandi berjalan menyusuri koridor. Karpet tebal berwarna abu-abu membungkam langkah kakinya. Lampu-lampu LED di langit-langit menyala terang. Di ujung koridor, pintu ganda kayu jati dengan plakat "RUANG CEO - ARINI SUSANTO" terlihat.Wandi mengetuk pintu. Tok... tok... tok..."Masuk."Wandi membuka pintu. Arini sedang duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi sudah lebih baik dari semalam. Dia tersenyum ketika melihat Wandi."Wan, kamu ke sini? Nggak langsung pulang?""Enggak. Aku ingin lihat kamu. Pastikan kamu baik-baik saja."Arini berdiri, berjalan mendekat, memeluk Wandi. "Aku baik-baik saja, Wan. Kamu yang semalam terjepit di mobil.""Aku sudah sembuh. Lihat."Wandi memutar-mutar tubuhnya, memperlihatkan tidak ada luka.Arini tertawa. "Kamu ini. Ayo duduk. Ceritakan tentang keris."Mereka duduk di sofa di sudut ruangan. Wandi bercerita tentang keris yang kembali, tentang angka biru yang dia lihat, tentang fi

  • Kurir Pemilik Sistem   Topeng Keramahan (part 4)

    Wandi meletakkan keris itu kembali ke dashboard, menutupnya.Dia menyalakan mesin mobil sewaan itu, lalu menarik gigi mundur. Mobil bergerak perlahan meninggalkan area parkir sekolah, melaju di jalanan yang mulai ramai. Wandi tidak langsung pulang. Dia memutar setir ke arah kantor Arini. Dia ingin melihat istrinya. Ingin memastikan dia baik-baik saja.Sementara Wandi melaju menuju kantor Arini, di arah yang berlawanan, Innova hitam melaju di jalan tol menuju kantornya di pusat kota. Andre mengemudi dengan kecepatan stabil 100 kilometer per jam, sedikit di atas batas maksimal, tetapi tidak terlalu mencolok. Tangannya yang memegang setir sedikit gemetar, bukan karena takut, tetapi karena amarah yang tertahan.Di kursi penumpang depan, Tina duduk dengan tenang, menatap ponselnya. Dia membuka aplikasi pesan singkat, membaca chat dengan ibu-ibu pengurus komite sekolah. Sesekali dia tersenyum, sesekali dia mengetik balasan. Dia tidak menyadari perubahan suasana hati Andre. Baginya, Andre ad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status