Keesokan harinya, gerimis tipis mengguyur kawasan Jardin du Luxembourg, membasahi bangku-bangku kayu antik dan trotoar batu di bawah pepohonan yang mulai memudar warnanya. Udara dingin khas Paris meresap hingga ke balik mantel tebal yang dikenakan Zora.Zora duduk di sudut kafe terbuka yang terlindung atap kanopi, menatap cangkir teh kamomil di hadapannya yang perlahan mendingin.Di seberang meja, Alex baru saja meletakkan cangkir espresonya. Pria itu menyunggingkan senyum hangat, senyuman santai yang biasanya mampu mencairkan suasana."Kau tampak begitu serius ketika memintaku bertemu di sini, Zora," tutur Alex lembut, jemarinya memutar-mutar gagang cangkir. "Apakah ini ada hubungannya dengan rancangan perhiasan barumu?"Zora menatap lurus ke dalam manik mata hazel milik Alex. Ia tidak menyentuh cangkir tehnya, menolak mencair dalam keramahan palsu yang disuguhkan pria itu."Aku ingin kita bicara jujur, Alex," suara Zora mengalun datar,
Last Updated : 2026-09-17 Read more