LOGINPercikan daya listrik biru keunguan menyengat udara, memantul di dinding ruang tamu yang kosong. Kiana refleks memejamkan mata, merapatkan tubuhnya ke dinding beton yang dingin. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"Bram... jangan..." bisik Kiana lirih, suaranya habis tertahan di tenggorokan.
Bram menghentikan jarinya yang menekan tombol alat kejut listrik itu. Suara bising itu hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Bram berlutut tepat di hadapan Kiana, jarak wajah mereka hanya sejauh sejengkal. Aroma parfum maskulinnya bercampur dengan bau debu ruangan.
"Kamu takut?" tanya Bram datar. Ia memasukkan kembali alat itu ke dalam saku celananya. "Jangan takut. Aku nggak akan pakai ini ke kamu, kecuali kamu coba-coba lari lagi. Aku cuma mau kamu dengerin aku, Kiana. Duduk tenang, dan dengerin."
Kiana hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya menetes melewati pipi. Logikanya berteriak untuk melawan, tapi tubuhnya lumpuh oleh ketakutan.
Bram menunjuk ke arah deretan foto di dalam ruangan remang-remang itu. "Kamu pasti mikir aku ini penguntit psikopat yang terobsesi sama kamu, kan? Kamu pikir aku dapet kontak kamu cuma karena kebetulan algoritma I*******m?" Bram terkekeh, suara tawanya terdengar hambar dan dingin. "Nggak ada yang kebetulan di dunia ini, Kiana."
Bram duduk bersila di atas lantai berdebu, menatap Kiana dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Tujuh tahun lalu, sebelum aku nikah sama Laura, aku punya adik perempuan. Namanya Raisha," ucap Bram memulai cerita. Nadanya mendadak berubah agak getir. "Dia segalanya buat aku. Ayah sama Ibu udah lama meninggal, jadi cuma Raisha yang aku punya."
Kiana mengerutkan kening, mencoba mencari korelasi nama itu dengan dirinya, tapi ia sama sekali tidak mengenal nama Raisha.
"Kamu nggak akan inget nama itu, Kiana," lanjut Bram, seolah bisa membaca pikiran wanita di depannya. "Tapi kamu pasti inget kejadian malam tahun baru di Bandung, lima tahun lalu. Saat mobil SUV merah milik temen-temen kuliahmu menabrak lari sebuah motor di daerah Dago."
Jantung Kiana mencelos. Napasnya mendadak tercekat. Kenangan buruk yang sudah lama ia kubur dalam-dalam kini dipaksa menyeruak naik ke permukaan.
"M-mobil merah...?" cicit Kiana dengan bibir bergetar.
"Ya. Mobil yang kamu tumpangi malam itu," potong Bram cepat, matanya menatap Kiana dengan kilat kemarahan yang tertahan. "Malam itu, adikku Raisha yang mengendarai motor. Dia tewas di tempat. Kepalanya membentur trotoar. Dan tahu apa yang dilakukan mobil merah itu? Kabur. Meninggalkan adikku di pinggir jalan kayak bangkai binatang."
"Bram, sumpah... bukan aku yang nyetir!" Kiana histeris, mencoba membela diri. "Itu mobilnya Dika! Aku cuma numpang di kursi belakang, aku bener-bener nggak tahu kalau malam itu kita nabrak orang! Mereka bilang itu cuma nabrak pembatas jalan!"
"Aku tahu!" bentak Bram, suaranya menggelegar di dalam rumah kosong itu. "Aku tahu bukan kamu yang nyetir! Makanya Dika sekarang membusuk di penjara setelah aku bongkar kasusnya setahun lalu! Aku yang kirim bukti-bukti rekaman CCTV tersembunyi ke polisi secara anonim!"
Kiana terperangah. Jadi, alasan Dika, teman kuliahnya tiba-tiba ditangkap polisi setahun lalu atas kasus lama yang sudah ditutup adalah karena ulah Bram?
"Lalu... kalau kamu tahu bukan aku yang nyetir, kenapa kamu deketin aku? Kenapa kamu jebak aku kayak gini?!" tanya Kiana berteriak, frustrasi bercampur takut.
Bram menghela napas, kemarahannya mendadak surut, digantikan oleh senyuman manipulatif yang biasa ia tunjukkan. Ia mengulurkan tangan, kali ini berhasil memegang dagu Kiana karena wanita itu terlalu syok untuk menghindar.
"Karena malam itu, setelah kecelakaan, kamu adalah satu-satunya orang di mobil itu yang nangis dan minta Dika buat berhenti. Aku denger semua rekaman dashcam mobil Dika yang berhasil aku retas," bisik Bram lembut, ibu jarinya mengusap bibir Kiana. "Teman-temanmu yang lain bajingan, tapi kamu... kamu punya hati. Kamu merasa bersalah."
Bram mendekatkan wajahnya, menatap lekat ke dalam manik mata Kiana yang ketakutan.
"Raisha mati karena kelalaian orang lain. Hidupku hancur, Kiana. Pernikahanku sama Laura? Itu cuma bisnis, perjodohan keluarga yang hambar. Aku nggak pernah ngerasa hidup setelah Raisha pergi. Sampai akhirnya aku nemuin kamu. Aku ngeliat kamu lewat media sosial, memantau kamu selama berbulan-bulan. Dan waktu aku berhasil kenalan sama kamu lewat DM setahun lalu, aku sadar satu hal."
"Apa...?"
"Kamu adalah pengganti Raisha yang dikirim Tuhan buat aku," kata Bram dengan nada bicara yang teramat yakin, seolah teorinya adalah kebenaran mutlak. "Kamu punya mata yang sama kayak dia. Sifat yang sama. Kebaikan yang sama. Aku deketin kamu bukan cuma buat balas dendam ke temen-temen kamu, tapi untuk mengambil apa yang hilang dari hidupku. Kamu harus gantiin posisi Raisha di sampingku."
Kiana menatap Bram dengan pandangan horor yang semakin menjadi-jadi. Pria ini benar-benar gila. Dia tidak sedang mencari pacar atau simpanan, pria ini sedang mencari proyeksi dari adiknya yang sudah mati pada diri Kiana.
"Kamu sakit, Bram... aku bukan adik kamu! Aku Kiana!" jerit Kiana, mencoba menyentakkan dagunya dari cengkeraman Bram.
"Kamu bakal jadi siapa pun yang aku mau, Kiana," jawab Bram dingin. "Di rumah ini, nggak akan ada Laura, nggak akan ada masa lalu yang ganggu kita. Kita bakal mulai hidup baru. Kamu bakal aman di sini, sama aku."
Bram berdiri, menggandeng tangan Kiana dan membawanya kembali ke mobil.
Di mobil, sambil menyalakan mesin dan berkendara, Bram bicara panjang lebar.
“Aku akan mengantarmu kembali ke apartemenmu sekarang. Tapi seminggu setelah itu, kamu akan pindah kesini setelah aku selesai mengisinya dengan perabotan yang kamu pilih waktu itu. Setiap hari lakukan hal yang biasa kamu lakukan, tapi pulangnya tetap kesini. Aku juga akan melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan. Aku tidak akan ada tiap hari disini, tapi disini sudah aku pasang CCTV, jadi aku tau kamu pulang kesini atau tidak.”
“Jangan mencoba kabur Kiana, aku sudah mengetahui semua tentangmu apapun itu, cukup turuti semua kemauanku!”
Kiana hanya menangis dalam diam, tapi otaknya sudah merancang berbagai cara untuk pergi dari kehidupan laki-laki psikopat ini. Untungnya masih ada satu minggu, Kiana pasti bisa kabur, dia rela meninggalkan kehidupannya saat ini hanya untuk lepas dari laki-laki gila ini.
Kiana sedang melamun, ketika sebuah truk kontener melenggang bebas dari awah berlawanan menuju mobil yang dikendarai Bram dan dirinya. Sekilas hanya lampu truk yang semakin lama semakin terang. Kecelakaan tidak bisa dihindari. Dalam pikiran Kiana “Tidak, aku tidak mau berakhir seperti ini. Aku ingin pergi dari laki-laki ini. Tidaaakkk…”
Suara pintu gerbang besi yang berdecit nyaring membuat Elano refleks melepaskan pergelangan tangan Natasya. Bram melangkah keluar dari balik pagar rumahnya, postur tubuhnya tegap dengan kemeja santai yang digulung sebatas siku. Wajahnya tampak tenang, namun tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke manik mata Elano."Elano? Ada perlu sama Om?" tanya Bram, suara beratnya yang penuh wibawa mengalun datar di udara sore yang sejuk.Elano menelan ludahnya kaku, berusaha keras menyembunyikan kegugupan yang mendadak melumpuhkan lidahnya. "Eh, enggak Om... ini cuma mau kasih gantungan kunci buat Natasya. Tadi kebetulan lewat daerah sini.""Oh," Bram mengangguk pelan, menyilangkan dadanya santai. "Makasih ya. Yaudah, masuk dulu kalau mau minum. Papamu baru aja pulang tadi.""Gak usah, Om, terima kasih banyak. Elano langsung pulang aja, udah mau magrib," pamit Elano cepat, tangannya bergetar sedikit saat meraih stang motornya. Ia melirik Natasya sekilas dengan binar penuh arti. "Sya, aku
Dua hari setelah pesta pernikahan Rendra dan Arini yang meriah, suasana di kediaman Bram terasa begitu hangat dan menenangkan. Di ruang tengah yang dilapisi karpet bulu tebal, Bram sedang tengkurap santai, membiarkan baby Nathan menunggangi punggungnya seperti kuda-kudaan."Ayo Kuda Papa, jalan! Cepat, Papa!" seru Nathan riang sambil menepuk-nepuk bahu Bram."Aduh, anak Papa berat juga ya sekarang," pangkas Bram sembari tertawa terkekeh, mencoba merangkak pelan meski napasnya sedikit terengah-engah.Kiana melangkah anggun dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat dan potongan buah segar. Melihat suaminya yang berusia 40 tahun rela bergulingan di lantai demi menuruti kemauan anak balita mereka, senyum Kiana tak bisa dibendung."Sayang, ingat umur, siapa yang bilang tua ya kemarin?" goda Kiana seraya meletakkan nampan di atas coffee table. "Nanti pinggangnya kumat lagi baru kapok.""Siapa bilang aku tua?? Biarin, Sayang. Mumpung Nathan masih mau main sama Papanya," jawab Bram sem
Denting gelas berkali-kali terdengar memecah keriuhan Ballroom Hotel Mulia malam itu. Rendra dan Arini berdiri anggun di atas pelaminan bertabur mawar putih, menyalami satu per satu tamu undangan yang tak henti-hentinya mengantre. Rendra, yang kini resmi kembali memegang kendali Mahardika Group, tampak mengikis habis sisa-sisa keangkuhannya, berganti dengan binar kebahagiaan yang tulus.Di sudut area VIP, Bramantya berdiri sambil memangku baby Nathan yang sibuk mengunyah biskuit bayi. Jas hitam buatan penjahit Italia yang melekat di tubuh Bram tampak begitu pas, meski raut wajahnya tak lagi memancarkan ambisi tajam seperti beberapa tahun lalu."Papa, Nathan mau balon yang itu," celetuk anak balita dua tahun itu sambil menunjuk dekorasi di dekat panggung.Bram terkekeh pelan, menepuk lembut punggung anak bungsunya. "Itu balon dekorasi, Sayang. Nanti kalau ditarik, panggungnya jadi tidak bagus lagi."Kiana melangkah mendekat, mengusap bahu Bram dengan kelembutan yang selalu berhasil men
Senin pagi yang melelahkan di lantai lima gedung Mahardika Group. Tidak ada lagi kemeja khusus buatan penjahit Italia atau ruang kerja luas ber-AC dingin. Rendra kini duduk di kubikel sempit staf pemasaran, berteman tumpukan berkas dan layar komputer tua yang sesekali berkedip."Hei, Rendra! Laporannya mana? Klien dari Surabaya udah nunggu dari tadi!" seru Bagas, kepala tim pemasaran yang terkenal sangat tegas, menepuk meja Rendra cukup kasar.Rendra mendongak, menyunggingkan senyum tulus tanpa sisa keangkuhan masa lalu. "Ini, Pak Bagas. Sudah saya revisi target pasarnya secara menyeluruh, lengkap sama analisis risikonya."Bagas meneliti lembaran kerja itu sejenak, lalu menatap Rendra keheranan. "Gila lu, ya... detail banget. Lu bekas Manajer di mana sih dulu?""Cuma orang biasa yang mau belajar dari nol, Pak," jawab Rendra pelan.Tidak ada yang tahu bahwa mantan direktur mereka kini menjadi staf paling bawah. Rendra bekerja dari jam delapan pagi hingga larut malam, tak pernah mengelu
Rendra terduduk kaku di lantai apartemennya yang dingin. Kalimat Arini yang terekam secara tak sengaja di ponselnya tadi pagi terus bergema di kepalanya:"Mas Rendra... tolong jangan menyerah dulu. Tolong buktikan kalau dokumen itu... bukan Mas yang buat.""Arini benar," gumam Rendra parau. Tangannya yang gemetar mengusap wajahnya yang pucat. "Kalau gue cuma pasrah dan diam, Bram bakal makin percaya kalau gue ini penjahatnya. Gue harus bersihin nama gue!"Dengan menahan perih luar biasa di lengan kanannya yang berbalut perban, Rendra merangkak mendekati meja dan membuka laptop pribadinya. Layar menyala terang, menampilkan puluhan riwayat obrolan dan dokumen yang pernah dikirimkan Alana kepadanya.Mata Rendra menatap tajam ke arah file draf eksekusi saham yang dilemparkan Alana ke meja Arini tadi pagi."Gue emang pernah tergiur ikut rencana Alana di awal..." bisik Rendra pada diri sendiri. "Tapi waktu gue sadar dan mau mundur, Alana malah ngirim draf baru tanpa persetujuan gue!"Jemari
Koridor Rumah Sakit Harapan Kasih mendadak hening. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan bau amis darah yang masih menetes pelan dari lengan kemeja Rendra. Jejak-jejak kekacauan yang ditinggalkan Alana terasa begitu pekat menyelimuti udara."Ayo, Arini. Kita pulang," panggil Bramantya pelan. Suaranya dingin tanpa emosi, melangkah mendahului tanpa sekali pun menoleh ke belakang.Arini menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu. Jemarinya meremas kain jas dokter yang dipakainya. Ia menatap Rendra yang masih terduduk kaku di lantai, menunduk dalam dengan bahu bergetar."Mas Rendra..." bisik Arini pelan.Rendra mendongak perlahan. Matanya merah, basah, dan penuh dengan keputusasaan yang teramat sangat. "Arini... maafkan aku. Demi Tuhan, aku...""Jangan minta maaf sama Arini, Mas," potong Arini lembut, namun ada jarak tak kasat mata yang terbentang di antara mereka. "Rasa sakit di tangan Mas bisa disembuhkan pakai perban. Tapi kebohongan... gak ada obatnya.""Rin,







