Partager

Awal dari Akhir

last update Date de publication: 2026-07-08 09:54:33

Percikan daya listrik biru keunguan menyengat udara, memantul di dinding ruang tamu yang kosong. Kiana refleks memejamkan mata, merapatkan tubuhnya ke dinding beton yang dingin. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

"Bram... jangan..." bisik Kiana lirih, suaranya habis tertahan di tenggorokan.

Bram menghentikan jarinya yang menekan tombol alat kejut listrik itu. Suara bising itu hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Bram berlutut tepat di hadapan Kiana, jarak wajah mereka hanya sejauh sejengkal. Aroma parfum maskulinnya bercampur dengan bau debu ruangan.

"Kamu takut?" tanya Bram datar. Ia memasukkan kembali alat itu ke dalam saku celananya. "Jangan takut. Aku nggak akan pakai ini ke kamu, kecuali kamu coba-coba lari lagi. Aku cuma mau kamu dengerin aku, Kiana. Duduk tenang, dan dengerin."

Kiana hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya menetes melewati pipi. Logikanya berteriak untuk melawan, tapi tubuhnya lumpuh oleh ketakutan.

Bram menunjuk ke arah deretan foto di dalam ruangan remang-remang itu. "Kamu pasti mikir aku ini penguntit psikopat yang terobsesi sama kamu, kan? Kamu pikir aku dapet kontak kamu cuma karena kebetulan algoritma I*******m?" Bram terkekeh, suara tawanya terdengar hambar dan dingin. "Nggak ada yang kebetulan di dunia ini, Kiana."

Bram duduk bersila di atas lantai berdebu, menatap Kiana dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Tujuh tahun lalu, sebelum aku nikah sama Laura, aku punya adik perempuan. Namanya Raisha," ucap Bram memulai cerita. Nadanya mendadak berubah agak getir. "Dia segalanya buat aku. Ayah sama Ibu udah lama meninggal, jadi cuma Raisha yang aku punya."

Kiana mengerutkan kening, mencoba mencari korelasi nama itu dengan dirinya, tapi ia sama sekali tidak mengenal nama Raisha.

"Kamu nggak akan inget nama itu, Kiana," lanjut Bram, seolah bisa membaca pikiran wanita di depannya. "Tapi kamu pasti inget kejadian malam tahun baru di Bandung, lima tahun lalu. Saat mobil SUV merah milik temen-temen kuliahmu menabrak lari sebuah motor di daerah Dago."

Jantung Kiana mencelos. Napasnya mendadak tercekat. Kenangan buruk yang sudah lama ia kubur dalam-dalam kini dipaksa menyeruak naik ke permukaan.

"M-mobil merah...?" cicit Kiana dengan bibir bergetar.

"Ya. Mobil yang kamu tumpangi malam itu," potong Bram cepat, matanya menatap Kiana dengan kilat kemarahan yang tertahan. "Malam itu, adikku Raisha yang mengendarai motor. Dia tewas di tempat. Kepalanya membentur trotoar. Dan tahu apa yang dilakukan mobil merah itu? Kabur. Meninggalkan adikku di pinggir jalan kayak bangkai binatang."

"Bram, sumpah... bukan aku yang nyetir!" Kiana histeris, mencoba membela diri. "Itu mobilnya Dika! Aku cuma numpang di kursi belakang, aku bener-bener nggak tahu kalau malam itu kita nabrak orang! Mereka bilang itu cuma nabrak pembatas jalan!"

"Aku tahu!" bentak Bram, suaranya menggelegar di dalam rumah kosong itu. "Aku tahu bukan kamu yang nyetir! Makanya Dika sekarang membusuk di penjara setelah aku bongkar kasusnya setahun lalu! Aku yang kirim bukti-bukti rekaman CCTV tersembunyi ke polisi secara anonim!"

Kiana terperangah. Jadi, alasan Dika, teman kuliahnya tiba-tiba ditangkap polisi setahun lalu atas kasus lama yang sudah ditutup adalah karena ulah Bram?

"Lalu... kalau kamu tahu bukan aku yang nyetir, kenapa kamu deketin aku? Kenapa kamu jebak aku kayak gini?!" tanya Kiana berteriak, frustrasi bercampur takut.

Bram menghela napas, kemarahannya mendadak surut, digantikan oleh senyuman manipulatif yang biasa ia tunjukkan. Ia mengulurkan tangan, kali ini berhasil memegang dagu Kiana karena wanita itu terlalu syok untuk menghindar.

"Karena malam itu, setelah kecelakaan, kamu adalah satu-satunya orang di mobil itu yang nangis dan minta Dika buat berhenti. Aku denger semua rekaman dashcam mobil Dika yang berhasil aku retas," bisik Bram lembut, ibu jarinya mengusap bibir Kiana. "Teman-temanmu yang lain bajingan, tapi kamu... kamu punya hati. Kamu merasa bersalah."

Bram mendekatkan wajahnya, menatap lekat ke dalam manik mata Kiana yang ketakutan.

"Raisha mati karena kelalaian orang lain. Hidupku hancur, Kiana. Pernikahanku sama Laura? Itu cuma bisnis, perjodohan keluarga yang hambar. Aku nggak pernah ngerasa hidup setelah Raisha pergi. Sampai akhirnya aku nemuin kamu. Aku ngeliat kamu lewat media sosial, memantau kamu selama berbulan-bulan. Dan waktu aku berhasil kenalan sama kamu lewat DM setahun lalu, aku sadar satu hal."

"Apa...?"

"Kamu adalah pengganti Raisha yang dikirim Tuhan buat aku," kata Bram dengan nada bicara yang teramat yakin, seolah teorinya adalah kebenaran mutlak. "Kamu punya mata yang sama kayak dia. Sifat yang sama. Kebaikan yang sama. Aku deketin kamu bukan cuma buat balas dendam ke temen-temen kamu, tapi untuk mengambil apa yang hilang dari hidupku. Kamu harus gantiin posisi Raisha di sampingku."

Kiana menatap Bram dengan pandangan horor yang semakin menjadi-jadi. Pria ini benar-benar gila. Dia tidak sedang mencari pacar atau simpanan, pria ini sedang mencari proyeksi dari adiknya yang sudah mati pada diri Kiana.

"Kamu sakit, Bram... aku bukan adik kamu! Aku Kiana!" jerit Kiana, mencoba menyentakkan dagunya dari cengkeraman Bram.

"Kamu bakal jadi siapa pun yang aku mau, Kiana," jawab Bram dingin. "Di rumah ini, nggak akan ada Laura, nggak akan ada masa lalu yang ganggu kita. Kita bakal mulai hidup baru. Kamu bakal aman di sini, sama aku."

Bram berdiri, menggandeng tangan Kiana dan membawanya kembali ke mobil.

Di mobil, sambil menyalakan mesin dan berkendara, Bram bicara panjang lebar.

“Aku akan mengantarmu kembali ke apartemenmu sekarang. Tapi seminggu setelah itu, kamu akan pindah kesini setelah aku selesai mengisinya dengan perabotan yang kamu pilih waktu itu. Setiap hari lakukan hal yang biasa kamu lakukan, tapi pulangnya tetap kesini. Aku juga akan melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan. Aku tidak akan ada tiap hari disini, tapi disini sudah aku pasang CCTV, jadi aku tau kamu pulang kesini atau tidak.”

“Jangan mencoba kabur Kiana, aku sudah mengetahui semua tentangmu apapun itu, cukup turuti semua kemauanku!”

Kiana hanya menangis dalam diam, tapi otaknya sudah merancang berbagai cara untuk pergi dari kehidupan laki-laki psikopat ini. Untungnya masih ada satu minggu, Kiana pasti bisa kabur, dia rela meninggalkan kehidupannya saat ini hanya untuk lepas dari laki-laki gila ini.

Kiana sedang melamun, ketika sebuah truk kontener melenggang bebas dari awah berlawanan menuju mobil yang dikendarai Bram dan dirinya. Sekilas hanya lampu truk yang semakin lama semakin terang. Kecelakaan tidak bisa dihindari. Dalam pikiran Kiana “Tidak, aku tidak mau berakhir seperti ini. Aku ingin pergi dari laki-laki ini. Tidaaakkk…”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (10)

    Bram langsung menyambar remot TV di atas meja coffee dengan gerakan sigap, sementara Natasya dengan cepat menyetel siaran berita bisnis nasional melalui layar datar tersebut. Layar televisi di ruang keluarga seketika menampilkan tayangan langsung wawancara eksklusif Rendra Mahardika di pelataran Mahardika Group pagi tadi. Suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kepanikan kecil Natasya mendadak menghening."...dan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Mahardika Group bukan milik saya pribadi," ucap Rendra di layar kaca. Pria muda itu mengenakan jas hitam rapi buatan penjahit ternama, berdiri tegap dengan raut wajah yang tampak begitu berwibawa namun tetap rendah hati. "Semua pencapaian ini adalah hasil fondasi kuat dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh sosok mentor sekaligus panutan saya, Bapak Bramantya Yudha. Beliau mengajari saya bahwa pemimpin sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang bisa ia angkat dari keterpuru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (9)

    Dua hari kemudian, rumah Bram dan Kiana disulap menjadi tempat syukuran keluarga besar. Suasana hangat dan meriah langsung terasa begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar. Aroma daging yang dipanggang dengan bumbu rempah pilihan merambah memanjakan hidung hingga ke area halaman depan, menggugah selera setiap orang yang hadir.Di ruang tengah, karpet bulu merah tebal tergelar luas menutup lantai keramik yang dingin. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap dalam suasana yang begitu hangat dan akrab: Bram, Kiana, Natasya, Nathan, Jeremy, Laura, Elano, serta Rendra, Arini, dan Arka kecil yang kini sibuk mengoceh menggemaskan sambil memegangi kaki celana Rendra."Papa! Pa... liat Arka! Liat ini!" oceh balita dua tahun itu memamerkan mobil-mobilan plastiknya yang berwarna merah menyala.Rendra bertekuk lutut di atas karpet, mengusap kepala Arka dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ayah. "Wah, mobilnya kencang banget ya, Jagoan? Jalan mobilnya lurus banget. Mainnya sama

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (8)

    Waktu berjalan tanpa terasa, membawa ritme kehidupan yang lebih tenang di kediaman Bram. Dua tahun berlalu sejak kehadiran Arka Mahardika di tengah keluarga kecil Rendra dan Arini. Bayi mungil yang dulu mengadopsi kasih sayang mereka kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, cerdas, dan menjadi pusat kebahagiaan baru di Mahardika Group.Sore itu, halaman belakang rumah Bram tampak begitu semarak oleh tawa anak-anak. Nathan yang kini menginjak usia empat tahun sibuk berlari mengejar bola plastik di atas rumput hijau. Di belakangnya, Arka yang baru berusia dua tahun berusaha mengejar dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan."Nathan! Oper bolanya ke Dek Arka, Nak!" seru Arini dari kursi taman."Arka, ayo tembak bolanya ke gawang!" sahut Nathan riang sambil mengoper bola plastik merah itu.Arka tertawa geli, menendang bola itu kencang hingga bergulir ke arah pot bunga. Arini berdiri sebentar, merapikan baju Arka yang sedikit kotor terkena noda rumput basah.Kiana yang

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (7)

    Rendra refleks menggeser posisi tubuh tegapnya, pasang badan membentengi Arini dan bayi mungil dalam dekapannya dari tatapan tajam nan penuh amarah ibunya. Suasana pelataran panti asuhan yang tenang mendadak berubah tegang."Mama? Mau apa Mama ke sini?" tanya Rendra dengan suara dingin, dalam, dan mengintimidasi.Ibu Rendra, Heni, melangkah mendekat dengan wajah merah padam oleh emosi yang membakar. Perhiasan di pergelangan tangannya berkilau saat jemarinya menunjuk kasar ke arah bayi di dekapan Arini. Bayi kecil itu mulai gelisah dan menggeliat pelan akibat nada suara tinggi di sekitarnya."Mama minta kamu sadar, Rendra!" bentak Heni tanpa rasa canggung di tempat umum. "Mama dengar kabar burung kalau Arini ini mandul, dan sekarang Mama lihat kamu malah mau adopsi anak entah berantah ini? Kamu itu Direktur Utama Mahardika Group! Kamu mendapatkan titel itu dengan susah payah bertahun-tahun! Apa kata relasi bisnis kita kalau pewaris tunggal Mahardika ternyata anak adopsi tanpa asal-usul

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (6)

    Suara jeritan melengking memecah keheningan Minggu pagi yang tenang di kediaman Bram. Suasana rumah yang tadinya damai mendadak berubah riuh saat baby Nathan, yang baru berusia dua tahun, berlari wira-wiri di ruang tengah tanpa selembar benang pun yang melekat di tubuh mulusnya. Balita itu tertawa riang sambil menepuk-nepuk perutnya, sementara Bram mengikutinya dari belakang dengan napas memburu sambil memegang selembar popok perekat dan minyak telon."Nathan! Jangan lari, Nak! Sini dulu, Papanya capek!" seru Bram dengan suara yang mulai serak dan napas terengah-engah.Pria itu akhirnya tersungkur pasrah di atas sofa empuk ruang tamu, memegangi pinggang bawahnya yang mendadak terasa nyut-nyutan hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan, sementara kemeja santai berwarna krem yang dikenakannya agak kusut terkena tumpahan susu balitanya beberapa menit yang lalu."Aduh... pinggangku rasanya mau copot," keluh Bram pelan sambil meringis kesakitan, memejamkan matan

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (5)

    Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status