Share

Logika Cinta

last update publish date: 2026-07-08 09:32:18

Suasana di telepon mendadak sunyi total. Kiana hanya bisa mendengar suara napasnya yang gemetar. 

"Kiana..."

Suara di seberang sana akhirnya terdengar kembali. Nada bariton yang biasanya terdengar seksi dan menenangkan kini berubah, merendah dengan getaran berat yang menahan sesuatu. Tidak ada kepanikan yang meledak-ledak. Pria itu terlalu matang untuk langsung kehilangan kendali logika.

"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Arya atau Bram dengan suara yang mendadak begitu datar, menguras ketenangan yang coba Kiana bangun sejak pagi.

Kiana tersenyum hambar, masih dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya. "Bramantya Yudha. Nama yang bagus. Sangat maskulin untuk seorang pria yang punya dua kehidupan berbeda, bukan?"

"Aku di depan kantor kamu," potong Bram cepat, nadanya mutlak tanpa bantahan. "Turun sekarang. Kita bicara di mobil. Nggak lucu kalau kita bahas ini di telepon."

"Aku sibuk, Arya ah atau Bram?" Kiana sengaja menekankan nama asli pria itu, merasakan sensasi perih yang aneh setiap kali melafalkannya.

"Lima menit, Kiana. Atau aku yang naik ke lantai atas dan menjemput kamu di meja kerja kamu," ancam Bram, masih dengan ketenangan yang intimidatif.

Kiana tahu pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia merapikan helai rambutnya, meraih tas, dan melangkah menuju lift dengan kaki yang terasa seperti dipasangi bandul besi.

Di dalam mobil SUV hitam milik Bram yang terparkir di sudut basemen yang sepi, atmosfernya terasa begitu menyesakkan. Wangi parfum maskulin khas Bram yang biasanya membuat Kiana nyaman, kini justru memicu rasa mual. Bram duduk di balik kemudi, masih mengenakan kemeja kerja yang rapi. Tatapan matanya yang tajam bak elang lurus menatap ke depan, sebelum perlahan menoleh ke arah Kiana.

"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Bram membuka konfrontasi, langsung menusuk ke inti masalah tanpa basa-basi basa-basi emosional.

"Sejak semalam, saat 'Istriku' menelepon," jawab Kiana lirih, menatap lurus ke kaca depan. "Dan diperjelas pagi ini oleh algoritma I*******m. Menarik, ya? Dunia digital ternyata lebih jujur daripada pria yang telah memelukku setahun ini."

Bram menghela napas panjang, bersandar pada kursi kemudi. "Laura yang menelepon semalam. Dan nama asliku memang Bramantya Yudha. Arya adalah nama panggilan masa kecilku yang biasa dipakai keluarga besar."

"Oh, jadi itu pembenaran kamu?" Kiana menoleh, menatap Bram dengan pandangan tidak percaya. Logikanya benar-benar diputarbalikkan. "Kamu membiarkan aku memanggilmu Arya selama setahun, membuat akun media sosial palsu tanpa nama belakang, dan menyembunyikan fakta kalau kamu sudah menikah tujuh tahun dan punya anak? Kamu mengatasnamakan nama panggilan masa kecil untuk penipuan terstruktur ini, Bram?!"

Bram memutar tubuhnya menghadap Kiana. Tatapannya tidak menunjukkan kilat kemarahan, melainkan sebuah keyakinan yang dingin. "Kiana, dengerin aku. Aku nggak pernah membuat akun palsu untuk menipumu. Aku memang jarang main sosmed. Soal Laura, pernikahanku memang benar, dia istriku.”

"Istrimu?” Kiana tertawa getir, suaranya bergetar menahan amarah yang menguras mentalnya. "Tiga minggu lalu kamu berfoto mesra di taman bermain bersamanya, memegang balon bersama anakmu, di saat sebelumnya kita memadu kasih di apartemenku?! Kamu bahkan berniat membelikan rumah di BSD atas namaku! Untuk apa, Bram? Untuk menjadikanku pelacur yang sah di mata kamu?!"

"Jaga bicaramu, Kiana! Aku tidak pernah menganggapmu rendah seperti itu!" Untuk pertama kalinya, suara Bram meninggi, memotong kalimat Kiana dengan tegas. Namun dengan cepat ia meredam emosinya kembali, menarik napas dalam-dalam. "Rumah di BSD itu nyata. Rencana masa depanku denganmu itu nyata. Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku ke kamu. Perasaan ini nyata, dan ya aku memang mencintai kalian berdua, tapi ada yang kurang di pernikahan ini, dan aku menemukannya di kamu."

"Apa yang kamu temukan? Apa yang kamu temukan di aku tapi tidak di istrimu? Kamu mencintai dua wanita?" cecar Kiana. "Logika kamu di mana, Bram? Kamu berusia dua puluh sembilan tahun, kamu punya karier cerah, tapi kamu hidup dalam dua dunia. Kamu bilang hidupmu kembali berwarna karena aku, tapi warna apa yang kamu bawa ke hidupku selain warna hitam?"

Bram tidak menjawab tapi meraih jemari Kiana, namun Kiana dengan cepat menarik tangannya menjauh. Bram menatap telapak tangannya yang kosong, lalu beralih ke mata Kiana yang sembab.

"Aku tahu aku salah karena tidak jujur dari awal," ucap Bram lambat, suaranya kembali melembut, mencoba menyusup ke dalam sisi humanis Kiana yang biasanya rapuh oleh perhatiannya. "Aku takut kamu pergi, Kiana. Kamu wanita matang yang realistis. Kalau dari awal aku bilang aku sudah beristri, apa kamu mau membalas DM I*******m-ku setahun lalu? Nggak, kan?"

"Tentu saja tidak! Karena aku punya harga diri!" seru Kiana, dadanya naik turun memburu.

"Tapi setahun ini kita bahagia, Kiana. Perasaanku ke kamu bukan fiktif ini nyata, bukan hanya gombalan semata, namun semuanya aku serahkan kepada kamu, tapi jika kamu bertanya apakah aku akan pergi dari kamu? Nggak, aku berat melepaskan kamu. Sangat berat. Tapi aku tau ini juga menyakiti kamu. Aku tau itu. Tapi aku mohon pertimbangkan terlebih dahulu" pinta Bram, menatap Kiana dengan binar mata yang begitu memohon, seolah dialah korban dari keadaan ini.

Kiana terdiam. Kata-kata Bram begitu rapi, tersusun dengan logika yang manipulatif, mencoba membuat Kiana merasa bahwa cinta mereka layak dipertahankan meskipun fondasinya adalah kebohongan dan nafsu. Pikiran Kiana berkecamuk hebat, lelah secara mental menghadapi ketenangan pria di hadapannya ini.

Kiana menatap lekat-lekat wajah Bram, mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin masih tertinggal di balik mata elang itu. Ia sengaja mengunci mulutnya, menunggu. Ia menunggu Bram membuka satu rahasia lagi, menunggu pria itu mengakui hal lain yang mungkin belum ia temukan di akun I*******m Laura.

Kiana memberikan jeda yang panjang, memberi ruang agar Bram mengatakan sesuatu, apa saja tentang kebohongan lain yang barangkali masih disembunyikannya.

Namun, Bram hanya diam. Pria itu membalas tatapannya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca, tidak menambahkan satu patah kata pun, tidak juga memberikan pengakuan lain yang Kiana harapkan keluar secara sukarela dari bibirnya. Ketidakjujuran yang masih menggantung itu membuat rasa tidak puas di dada Kiana semakin berkejaran dengan rasa ngeri.

"Buka kuncinya," bisik Kiana dingin, memutus kontak mata mereka. "Aku mau turun."

Bram tidak bergerak, jemarinya masih mengepal di atas kemudi, membiarkan keheningan misterius kembali merayap di antara mereka tanpa ada kata sepakat yang selesai. Dan tiba-tiba Bram menyalakan mesin mobilnya dan melaju, tanpa menghiraukan teriakan Kiana untuk mengeluarkannya dari mobil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (10)

    Bram langsung menyambar remot TV di atas meja coffee dengan gerakan sigap, sementara Natasya dengan cepat menyetel siaran berita bisnis nasional melalui layar datar tersebut. Layar televisi di ruang keluarga seketika menampilkan tayangan langsung wawancara eksklusif Rendra Mahardika di pelataran Mahardika Group pagi tadi. Suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kepanikan kecil Natasya mendadak menghening."...dan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Mahardika Group bukan milik saya pribadi," ucap Rendra di layar kaca. Pria muda itu mengenakan jas hitam rapi buatan penjahit ternama, berdiri tegap dengan raut wajah yang tampak begitu berwibawa namun tetap rendah hati. "Semua pencapaian ini adalah hasil fondasi kuat dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh sosok mentor sekaligus panutan saya, Bapak Bramantya Yudha. Beliau mengajari saya bahwa pemimpin sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang bisa ia angkat dari keterpuru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (9)

    Dua hari kemudian, rumah Bram dan Kiana disulap menjadi tempat syukuran keluarga besar. Suasana hangat dan meriah langsung terasa begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar. Aroma daging yang dipanggang dengan bumbu rempah pilihan merambah memanjakan hidung hingga ke area halaman depan, menggugah selera setiap orang yang hadir.Di ruang tengah, karpet bulu merah tebal tergelar luas menutup lantai keramik yang dingin. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap dalam suasana yang begitu hangat dan akrab: Bram, Kiana, Natasya, Nathan, Jeremy, Laura, Elano, serta Rendra, Arini, dan Arka kecil yang kini sibuk mengoceh menggemaskan sambil memegangi kaki celana Rendra."Papa! Pa... liat Arka! Liat ini!" oceh balita dua tahun itu memamerkan mobil-mobilan plastiknya yang berwarna merah menyala.Rendra bertekuk lutut di atas karpet, mengusap kepala Arka dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ayah. "Wah, mobilnya kencang banget ya, Jagoan? Jalan mobilnya lurus banget. Mainnya sama

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (8)

    Waktu berjalan tanpa terasa, membawa ritme kehidupan yang lebih tenang di kediaman Bram. Dua tahun berlalu sejak kehadiran Arka Mahardika di tengah keluarga kecil Rendra dan Arini. Bayi mungil yang dulu mengadopsi kasih sayang mereka kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, cerdas, dan menjadi pusat kebahagiaan baru di Mahardika Group.Sore itu, halaman belakang rumah Bram tampak begitu semarak oleh tawa anak-anak. Nathan yang kini menginjak usia empat tahun sibuk berlari mengejar bola plastik di atas rumput hijau. Di belakangnya, Arka yang baru berusia dua tahun berusaha mengejar dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan."Nathan! Oper bolanya ke Dek Arka, Nak!" seru Arini dari kursi taman."Arka, ayo tembak bolanya ke gawang!" sahut Nathan riang sambil mengoper bola plastik merah itu.Arka tertawa geli, menendang bola itu kencang hingga bergulir ke arah pot bunga. Arini berdiri sebentar, merapikan baju Arka yang sedikit kotor terkena noda rumput basah.Kiana yang

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (7)

    Rendra refleks menggeser posisi tubuh tegapnya, pasang badan membentengi Arini dan bayi mungil dalam dekapannya dari tatapan tajam nan penuh amarah ibunya. Suasana pelataran panti asuhan yang tenang mendadak berubah tegang."Mama? Mau apa Mama ke sini?" tanya Rendra dengan suara dingin, dalam, dan mengintimidasi.Ibu Rendra, Heni, melangkah mendekat dengan wajah merah padam oleh emosi yang membakar. Perhiasan di pergelangan tangannya berkilau saat jemarinya menunjuk kasar ke arah bayi di dekapan Arini. Bayi kecil itu mulai gelisah dan menggeliat pelan akibat nada suara tinggi di sekitarnya."Mama minta kamu sadar, Rendra!" bentak Heni tanpa rasa canggung di tempat umum. "Mama dengar kabar burung kalau Arini ini mandul, dan sekarang Mama lihat kamu malah mau adopsi anak entah berantah ini? Kamu itu Direktur Utama Mahardika Group! Kamu mendapatkan titel itu dengan susah payah bertahun-tahun! Apa kata relasi bisnis kita kalau pewaris tunggal Mahardika ternyata anak adopsi tanpa asal-usul

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (6)

    Suara jeritan melengking memecah keheningan Minggu pagi yang tenang di kediaman Bram. Suasana rumah yang tadinya damai mendadak berubah riuh saat baby Nathan, yang baru berusia dua tahun, berlari wira-wiri di ruang tengah tanpa selembar benang pun yang melekat di tubuh mulusnya. Balita itu tertawa riang sambil menepuk-nepuk perutnya, sementara Bram mengikutinya dari belakang dengan napas memburu sambil memegang selembar popok perekat dan minyak telon."Nathan! Jangan lari, Nak! Sini dulu, Papanya capek!" seru Bram dengan suara yang mulai serak dan napas terengah-engah.Pria itu akhirnya tersungkur pasrah di atas sofa empuk ruang tamu, memegangi pinggang bawahnya yang mendadak terasa nyut-nyutan hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan, sementara kemeja santai berwarna krem yang dikenakannya agak kusut terkena tumpahan susu balitanya beberapa menit yang lalu."Aduh... pinggangku rasanya mau copot," keluh Bram pelan sambil meringis kesakitan, memejamkan matan

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (5)

    Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status