LOGINSuasana di telepon mendadak sunyi total. Kiana hanya bisa mendengar suara napasnya yang gemetar.
"Kiana..."
Suara di seberang sana akhirnya terdengar kembali. Nada bariton yang biasanya terdengar seksi dan menenangkan kini berubah, merendah dengan getaran berat yang menahan sesuatu. Tidak ada kepanikan yang meledak-ledak. Pria itu terlalu matang untuk langsung kehilangan kendali logika.
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Arya atau Bram dengan suara yang mendadak begitu datar, menguras ketenangan yang coba Kiana bangun sejak pagi.
Kiana tersenyum hambar, masih dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya. "Bramantya Yudha. Nama yang bagus. Sangat maskulin untuk seorang pria yang punya dua kehidupan berbeda, bukan?"
"Aku di depan kantor kamu," potong Bram cepat, nadanya mutlak tanpa bantahan. "Turun sekarang. Kita bicara di mobil. Nggak lucu kalau kita bahas ini di telepon."
"Aku sibuk, Arya ah atau Bram?" Kiana sengaja menekankan nama asli pria itu, merasakan sensasi perih yang aneh setiap kali melafalkannya.
"Lima menit, Kiana. Atau aku yang naik ke lantai atas dan menjemput kamu di meja kerja kamu," ancam Bram, masih dengan ketenangan yang intimidatif.
Kiana tahu pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia merapikan helai rambutnya, meraih tas, dan melangkah menuju lift dengan kaki yang terasa seperti dipasangi bandul besi.
Di dalam mobil SUV hitam milik Bram yang terparkir di sudut basemen yang sepi, atmosfernya terasa begitu menyesakkan. Wangi parfum maskulin khas Bram yang biasanya membuat Kiana nyaman, kini justru memicu rasa mual. Bram duduk di balik kemudi, masih mengenakan kemeja kerja yang rapi. Tatapan matanya yang tajam bak elang lurus menatap ke depan, sebelum perlahan menoleh ke arah Kiana.
"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Bram membuka konfrontasi, langsung menusuk ke inti masalah tanpa basa-basi basa-basi emosional.
"Sejak semalam, saat 'Istriku' menelepon," jawab Kiana lirih, menatap lurus ke kaca depan. "Dan diperjelas pagi ini oleh algoritma I*******m. Menarik, ya? Dunia digital ternyata lebih jujur daripada pria yang telah memelukku setahun ini."
Bram menghela napas panjang, bersandar pada kursi kemudi. "Laura yang menelepon semalam. Dan nama asliku memang Bramantya Yudha. Arya adalah nama panggilan masa kecilku yang biasa dipakai keluarga besar."
"Oh, jadi itu pembenaran kamu?" Kiana menoleh, menatap Bram dengan pandangan tidak percaya. Logikanya benar-benar diputarbalikkan. "Kamu membiarkan aku memanggilmu Arya selama setahun, membuat akun media sosial palsu tanpa nama belakang, dan menyembunyikan fakta kalau kamu sudah menikah tujuh tahun dan punya anak? Kamu mengatasnamakan nama panggilan masa kecil untuk penipuan terstruktur ini, Bram?!"
Bram memutar tubuhnya menghadap Kiana. Tatapannya tidak menunjukkan kilat kemarahan, melainkan sebuah keyakinan yang dingin. "Kiana, dengerin aku. Aku nggak pernah membuat akun palsu untuk menipumu. Aku memang jarang main sosmed. Soal Laura, pernikahanku memang benar, dia istriku.”
"Istrimu?” Kiana tertawa getir, suaranya bergetar menahan amarah yang menguras mentalnya. "Tiga minggu lalu kamu berfoto mesra di taman bermain bersamanya, memegang balon bersama anakmu, di saat sebelumnya kita memadu kasih di apartemenku?! Kamu bahkan berniat membelikan rumah di BSD atas namaku! Untuk apa, Bram? Untuk menjadikanku pelacur yang sah di mata kamu?!"
"Jaga bicaramu, Kiana! Aku tidak pernah menganggapmu rendah seperti itu!" Untuk pertama kalinya, suara Bram meninggi, memotong kalimat Kiana dengan tegas. Namun dengan cepat ia meredam emosinya kembali, menarik napas dalam-dalam. "Rumah di BSD itu nyata. Rencana masa depanku denganmu itu nyata. Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku ke kamu. Perasaan ini nyata, dan ya aku memang mencintai kalian berdua, tapi ada yang kurang di pernikahan ini, dan aku menemukannya di kamu."
"Apa yang kamu temukan? Apa yang kamu temukan di aku tapi tidak di istrimu? Kamu mencintai dua wanita?" cecar Kiana. "Logika kamu di mana, Bram? Kamu berusia dua puluh sembilan tahun, kamu punya karier cerah, tapi kamu hidup dalam dua dunia. Kamu bilang hidupmu kembali berwarna karena aku, tapi warna apa yang kamu bawa ke hidupku selain warna hitam?"
Bram tidak menjawab tapi meraih jemari Kiana, namun Kiana dengan cepat menarik tangannya menjauh. Bram menatap telapak tangannya yang kosong, lalu beralih ke mata Kiana yang sembab.
"Aku tahu aku salah karena tidak jujur dari awal," ucap Bram lambat, suaranya kembali melembut, mencoba menyusup ke dalam sisi humanis Kiana yang biasanya rapuh oleh perhatiannya. "Aku takut kamu pergi, Kiana. Kamu wanita matang yang realistis. Kalau dari awal aku bilang aku sudah beristri, apa kamu mau membalas DM I*******m-ku setahun lalu? Nggak, kan?"
"Tentu saja tidak! Karena aku punya harga diri!" seru Kiana, dadanya naik turun memburu.
"Tapi setahun ini kita bahagia, Kiana. Perasaanku ke kamu bukan fiktif ini nyata, bukan hanya gombalan semata, namun semuanya aku serahkan kepada kamu, tapi jika kamu bertanya apakah aku akan pergi dari kamu? Nggak, aku berat melepaskan kamu. Sangat berat. Tapi aku tau ini juga menyakiti kamu. Aku tau itu. Tapi aku mohon pertimbangkan terlebih dahulu" pinta Bram, menatap Kiana dengan binar mata yang begitu memohon, seolah dialah korban dari keadaan ini.
Kiana terdiam. Kata-kata Bram begitu rapi, tersusun dengan logika yang manipulatif, mencoba membuat Kiana merasa bahwa cinta mereka layak dipertahankan meskipun fondasinya adalah kebohongan dan nafsu. Pikiran Kiana berkecamuk hebat, lelah secara mental menghadapi ketenangan pria di hadapannya ini.
Kiana menatap lekat-lekat wajah Bram, mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin masih tertinggal di balik mata elang itu. Ia sengaja mengunci mulutnya, menunggu. Ia menunggu Bram membuka satu rahasia lagi, menunggu pria itu mengakui hal lain yang mungkin belum ia temukan di akun I*******m Laura.
Kiana memberikan jeda yang panjang, memberi ruang agar Bram mengatakan sesuatu, apa saja tentang kebohongan lain yang barangkali masih disembunyikannya.
Namun, Bram hanya diam. Pria itu membalas tatapannya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca, tidak menambahkan satu patah kata pun, tidak juga memberikan pengakuan lain yang Kiana harapkan keluar secara sukarela dari bibirnya. Ketidakjujuran yang masih menggantung itu membuat rasa tidak puas di dada Kiana semakin berkejaran dengan rasa ngeri.
"Buka kuncinya," bisik Kiana dingin, memutus kontak mata mereka. "Aku mau turun."
Bram tidak bergerak, jemarinya masih mengepal di atas kemudi, membiarkan keheningan misterius kembali merayap di antara mereka tanpa ada kata sepakat yang selesai. Dan tiba-tiba Bram menyalakan mesin mobilnya dan melaju, tanpa menghiraukan teriakan Kiana untuk mengeluarkannya dari mobil.
"KIANA!!!"Jeritan Bram menggema, menyayat keheningan gudang itu. Dunianya runtuh dalam satu detik saat suara letusan senjata api itu menembus pelantang suara ponsel Jeremy.Akan tetapi, tubuh Bram tidak lagi peduli pada rasa sakit atau tali yang baru saja dilepas kasar. Menggunakan sisa adrenalin yang membakar dadanya, Bram menerjang maju. Dia melompati meja kaca, menggunakan seluruh berat badannya untuk merobohkan Jeremy Baran.Bruk! Prang!Meja kaca itu bergeser, botol dan gelas wine mahal hancur berkeping-keping di atas lantai marmer hitam. Bram berhasil mencengkeram kerah jas abu-abu Jeremy, menekan pria itu ke lantai dengan mata yang memerah dan air mata kemarahan yang mulai mengalir."Bajingan! Kamu bunuh dia! Kamu bilang mau lepasin dia, brengsek!" teriak Bram histeris. Kepalan tangannya melayang, menghantam rahang Jeremy hingga kepala pria itu terhentak ke samping."Bram! Hentikan! Diam kamu!" Jeremy mengerang, mencoba menahan lengan Bram yang kembali terangkat. Pengawal Jere
Kepala Bram rasanya mau pecah. Denyut di pelipisnya terasa begitu menyiksa saat kesadarannya perlahan kembali. Bau obat bius yang menyengat dan kimiawi masih tertinggal pekat di indra penciumannya, membuat perutnya mual."Sial..." lenguh Bram, mencoba menggerakkan kedua tangannya.Nihil. Tangannya terikat erat ke belakang di sebuah kursi besi. Sentuhan logam dingin itu terasa menusuk kulit pergelangan tangannya yang mulai lecet. Kokoh dan sama sekali tidak memberikan ruang untuk bergerak sedikit pun.Mata Bram mengerjap beberapa kali. Pandangannya buram dan berbayang, sebelum akhirnya dia berusaha keras menyesuaikan diri dengan pencahayaan ruangan yang temaram. Begitu pandangannya jernih, jantungnya langsung mencelos ke dasar lambung. Ruangan ini bukan lagi gudang tua Mainkai yang kotor, basah, dan berbau amis sungai. Ini adalah sebuah ruangan penthouse mewah berlantai marmer hitam mengilat dengan dinding kaca besar yang menampilkan lanskap gemerlap kota Frankfurt dari ketinggian, ter
Bram menatap layar ponselnya dengan dada yang mendadak lowbat. Napasnya tertahan. Pesan singkat dari nomor tak dikenal itu terasa seperti vonis mati.‘Wanitamu ada di tangan kami sekarang. Jika ingin dia selamat, bawa seluruh data enkripsi Anindya Karya ke dermaga tua Mainkai dalam waktu tiga puluh menit, atau kamu hanya akan menerima jasadnya.’"Bram? Ada apa? Wajahmu kok tiba-tiba pucat begitu?" Laura menyentuh lengan tuksedo Bram, mencoba mencari perhatian setelah drama tamparan Kiana tadi. "Ayo kembali ke meja investor. Jangan biarkan jalang itu merusak malam penting kita."Bram langsung menepis tangan Laura kasar. Sorot matanya yang semula sedingin es, kini berubah menjadi kilatan amarah yang menyala. "Lepas, Laura. Jangan pernah sentuh aku lagi.""Kamu berani membentakku demi dia?!" Laura berdesis, matanya melotot tajam. "Ingat posisimu, Bram! Satu telepon dariku, dan Kiana bisa membusuk di penjara Jakarta!"Bram tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat Laura mendadak merin
Bandara Internasional Frankfurt begitu riuh, namun bagi Kiana, dunia seakan mendadak hening. Akhirnya setelah pengajuan Visa selama satu minggu, ia berhasil mendarat di Frankfurt. Cengkeramannya pada tali tas selempang mengerat saat dia melangkah keluar dari area kedatangan. Udara dingin Jerman langsung menusuk pori-pori kulitnya. Matanya bergerak liar, menembus kerumunan orang asing yang berlalu-lalang.Kedatangannya ke Frankfurt dibilang begitu nekat dan seperti taruhan belaka, hanya berdasarkan Logo di latar belakang foto Bram dan Laura. Kiana googling bangunan itu dan Kiana menemukan itu adalah gedung Eurotower, kantor pusat operasional luar negeri Anindya Karya di sini. Dan Bram pasti ada di sekitar sana."Bram bukan orang seperti itu. Aku butuh penjelasan langsung dari mulutnya," tegas Kiana kepada hatinya.Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit kawasan finansial Frankfurt, Bram berdiri menatap hamparan kota dari balik jendela kaca besar. Kemeja hitamnya terkanc
Keheningan langsung mencekik udara di dalam penthouse mewah itu. Aroma anggur merah bercampur parfum mawar mahal yang menguar dari tubuh Laura Anindya mendadak terasa memuakkan di indra penciuman Bram. Ketegangan kasatmata merayap di antara mereka, sedingin es, setajam mata pisau."Katakan," suara Bram terdengar berat, serak, dan berbahaya. Tatapan matanya lurus mengunci manik mata Laura yang berkilat penuh kemenangan. "Jangan buang-buang waktuku, Laura."Laura terkekeh rendah, suara tawa yang begitu renyah namun sarat akan racun. Dia berjalan pelan memutari sofa beludru, lalu bersandar anggun di sana sembari menatap kuku-kuku jarinya yang dicat merah menyala. "Galak sekali. Padahal posisi wanitamu sekarang sedang di ujung tanduk, Bram.""Persyaratanmu. Sebutkan sekarang," potong Bram tanpa emosi. Denyut ngilu di lengan kirinya yang terbalut perban rajutan ketat sama sekali tak dialihkannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Kiana.Laura kembali menegakkan tubuhnya. Langkah kak
Brak!!Pintu apartemen di pusat kota Frankfurt itu tertendang kasar hingga engselnya berderit parah. Sebelum sempat Bram melangkah keluar membawa mantel dan paspornya, sesosok pria asing bertubuh kekar langsung menerobos masuk. Setelan jas hitamnya tampak ketat membungkus otot-ototnya yang masif, khas mantan militer Eropa Timur.Tanpa basa-basi, moncong pistol berperedam suara hitam pekat sudah ditodongkan tepat ke arah dada Bram."Mau pergi ke mana, Tuan Bram? Sayangnya, penerbangan Anda hari ini resmi dibatalkan," ucap pria itu dengan aksen Inggris yang kaku. Seringai dingin menghiasi wajahnya yang dipenuhi bekas luka parut.Bram tidak mundur selangkah pun. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendadak mendidih di dalam dadanya. Rian baru saja menelepon, mengabarkan bahwa Kiana ditangkap polisi di Jakarta akibat fitnah keji dari Aditama. Dan sekarang, jalan keluarnya diblokade oleh seorang pembunuh bayaran.Mata Bram sedingin es, menatap luru







