Mag-log inKiana buru-buru memalingkan wajah saat mendengar derap langkah mendekat. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Ketika Arya duduk kembali di kursinya dengan senyum tanpa dosa, Kiana buru-buru menyeruput sisa red wine-nya hingga tandas, berusaha membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.
"Hei, kamu kenapa? Kok mukanya pucat banget?" tanya Arya, dahi pria itu berkerut penuh perhatian. Tangannya terulur, berniat menyentuh kening Kiana.
Kiana refleks menghindar dengan berpura-pura membetulkan posisi rambutnya. "Ah, nggak apa-apa. Tiba-tiba pusing aja. Kayaknya efek angin malam."
Arya langsung melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap ponselnya yang sudah kembali gelap di atas meja. Kiana menahan napas, menunggu reaksi Arya jika pria itu memeriksa ponselnya. Namun, Arya hanya memasukkan ponsel itu ke saku celananya tanpa melihat layarnya sama sekali.
"Ya sudah, kita pulang sekarang ya? Aku antar," kata Arya lembut, suaranya yang berat terdengar begitu menenangkan, atau lebih tepatnya, terasa ironis di telinga Kiana sekarang.
"Nggak usah, Arya. Aku... aku mau langsung naik taksi online aja. Kebetulan searah sama temen kantor yang tadi chat aku, dia lagi di dekat sini," dusta Kiana, lancar tanpa terbata. Otaknya mendadak bekerja dua kali lebih cepat dalam mode bertahan hidup.
Arya tampak tidak suka. "Kiana, sejak kapan aku membiarkanmu pulang malam naik taksi sendirian? Aku ini pacar kamu."
Pacar? Atau selingkuhan? Batin Kiana menjerit, namun mulutnya tetap terkunci rapat.
"Pusingku agak parah, Arya. Aku cuma pengen rebahan di mobil dan nggak mau bikin kamu muter balik jauh ke Bekasi. Tolong ya?" Kiana menatap Arya, menggunakan sisa-sisa kemampuan aktingnya untuk memohon.
Arya menghela napas panjang, lalu mengalah. "Oke. Tapi begitu sampai apartemen, langsung kabari aku. Mengerti?"
"Iya, pasti."
Kiana sampai di apartemennya begitu cepat, dan lalu pertahanannya runtuh begitu saja. Di dalam bilik apartemen yang sepi itu, kekecewaan dan amarahnya tumpah dalam tangisan yang panjang. Ia tidak pernah menyangka, di umur sematang ini, dia masih begitu mudah untuk dibohongi dan dipermainkan.
Lalu keesokan paginya, di tengah-tengah kesibukan kantor dan patah hatinya, Kiana punya satu misi. Misi untuk menguatkan kecurigaannya.
Ia membuka i*******m, app dimana dia dan Arya kenal. Wanita itu mengintip dan menelusuri semua akun yang terhubung dengan Arya, sampai dia melihat satu nama yang entah kenapa menarik perhatiannya.
@laura.anindya.
Seketika, cukuplah bukti-bukti yang dia butuhkan. Semua ada di dalam akun itu. Dari foto pernikahan hingga foto paling baru keluarga kecil sang pacar. Termasuk nama asli dari pria yang selama ini dia kenal sebagai Arya.
Temuan itu sukses membuat Kiana runtuh kembali, tepat saat ponselnya berdering. Kekasihnya menelpon. Dia susah payah mengatur nafasnya sebelum mengangkat panggilan masuk tersebut.
“Hai sayang. Sudah makan? Mau aku pesankan sesuatu?” sapa dan tanya Arya dari seberang sana.
“Nggak usah. Aku lagi nggak nafsu makan,” jawab Kirana berusaha menahan getaran di suaranya.
“Kamu sakit? Suara kamu kok serak gitu? Mau aku jemput di kantor sekarang?” Nada suara pria itu berubah khawatir. Akting luar biasa menurut Kiana.
Gadis itu tersenyum getir menatap laptopnya yang masih menampilkan akun i*******m Laura dan keluarga kecilnya.
“Nggak perlu. Aku Cuma mau tanya sesuatu.”
“Tanya apa, Sayang? Tanyain aja. Tumben kamu minta izin? Biasanya kan kalau ada pertanyaan, kamu langsung tanya aja. Tanpa izin-izin segala.” Arya mempersilahkan wanitanya.
"Kamu lagi di mana sekarang?"
“Lagi di jalan, dekat kantor kamu.”
“Dari mana?”“Dari kantor, ambil beberapa berkas, lalu meeting sama klien. Kenapa Ki?”
“Kiana mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Di kantor kamu? Kantor yang mana, Ya? Kantor yang fiktif atau kantor yang asli?" Dia tidak menyangka, ternyata ada pertanyaan yang lebih berat dilontarkan, dari pada menjawab pertanyaan itu sendiri.
Hening sesaat di seberang sana. "Maksud kamu apa, Ki? Aku nggak paham."
Kali ini Kiana hampir lepas kendali atas emosinya. Membuatnya harus mengatur nafas untuk bisa melanjutkan percakapan ini tanpa meledak.
"Kiana..." Suara Arya akhirnya terdengar lagi setelah hampir semenit diam. Namun nadanya mendadak berubah rendah. Kehilangan keceriaannya yang biasa.
"Foto tiga minggu lalu di taman bermain itu bagus banget, Ya," lanjut Kiana, air matanya yang tadi sudah dia usap kering, kini kembali mengalir deras, dengan suara yang tetap ditekan agar tidak pecah. Dia tidak mau artikulasinya tidak jelas hanya karena menangisi pria itu. "Anak kamu, Elano, mirip banget sama kamu. Mata elangnya persis punya kamu. Dan.... video akad nikah itu. Kenapa nama kamu di sana berubah jadi Bramantya Yudha?"
Kemudian kembali hening.."Bram, naik helikopter aja sekarang! Kalau pakai mobil jalurnya macet, butuh tiga jam lebih buat sampai ke sana!" pangkas Jeremy cepat sembari memegang gagang telepon darurat.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bram, Jeremy, dan Rendra berlari menuju helipad di atap gedung Mahardika Group. Baling-baling helikopter eksekutif meraung kencang, membelah angin menuju Rumah Sakit Harapan Kasih.Di dalam kabin helikopter yang bising, wajah Rendra sepucat kertas. Pikirannya kacau balau. Ia mencengkeram lututnya rapat-rapat, berdoa dalam hati agar Arini baik-baik saja. Bram dan Jeremy memperhatikan perubahan wajah dari Rendra yang biasanya hanya terlihat dingin, oleh karena itu mereka hanya diam.Sementara itu, di Rumah Sakit Harapan Kasih, suasana pagi terasa tenang dan hangat. Arini sedang merapikan beberapa berkas rekam medis di meja kerjanya saat pintu ruang pemeriksaannya diketuk pelan."Permisi... Dokter Arini?"Seorang wanita berpenampilan sangat anggun dengan gaun bermerek dan kacama
"Ada apa, Ren? Kenapa kamu mendadak ngerem begini?" suara Bram sontak membuyarkan lamunan Rendra, membuat mobil SUV mewah itu tersentak pelan di tengah lampu merah.Rendra buru-buru mengatur napasnya, menyembunyikan kepanikan yang sempat merajalela di dadanya. "Ah, maaf, Pak Bram. Tadi ada motor nyelonong dari gang sebelah," alibinya cepat sambil kembali menginjak pedal gas. “Dan kenapa kamu manggil aku Pak? Sejak kapan?” Rendra hanya tersenyum canggung dalam diam.Di kursi belakang, Kiana membuka matanya perlahan, melirik suaminya lalu kembali merapikan selimut tipis yang ia sampirkan ke tubuhnya. Suasana kabin kembali hening, namun tidak bagi kepala Rendra. Peringatan keras dari Alana terus berdengung di telinganya bagaikan alarm bahaya.24 jam. Waktu yang diberikan Alana sangat singkat, dan wanita itu bukanlah tipe gertak sambal. Jika Alana benar-benar membongkar rahasia liciknya kepada Bramantya, bukan hanya 30% saham Mahardika yang melayang, tapi seluruh kerja kerasnya selama ini
Pagi yang cerah di kediaman Bramantya tak mampu mengikis canggung yang mengendap di dada Arini. Hampir dua bulan ia menumpang di rumah megah ini, dirawat, dan dijaga bak keluarga sendiri. Namun, garis batas di hatinya menolak untuk terus menjadi beban.Di sudut taman samping, Arini melipat pakaiannya yang sudah rapi ke dalam tas kain sederhana. Kiana melangkah mendekat dengan nampan berisi teh hangat, matanya membelalak melihat tumpukan barang Arini."Arini? Kamu mau ke mana?" tanya Kiana, meletakkan nampan ke meja taman dengan panik. "Kenapa barang-barang kamu dikemas begini?"Arini tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh tekad. "Mbak Kiana... Arini udah hampir dua bulan di sini. Luka fisik Arini udah sembuh berkat Mbak Kiana dan Pak Bram. Arini ngerasa gak enak kalau terus-terusan numpang di sini.""Numpang gimana, sih? Kamu tuh udah aku anggap seperti adik aku sendiri!" bentak Kiana pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu gak punya siapa-siapa lagi di sana, Arini...""Arini
Bram bersandar di kursi kerjanya, menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap Jakarta. Kalimat Rendra di basemen tadi masih berputar liar di kepalanya.“Ya cukup beri saya saham lagi hingga saya punya hak mengelola Mahardika!”Bram menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Pria itu benar-benar jenuh. Ia muak dengan siklus tak berujung ini, balas dendam dari para keturunan orang-orang jahat yang pernah ia dijebloskan ke penjara. Rendra, Peter, Adrian... siapa lagi besok?"Mahardika ini kayak kena kutukan," gumam Bram pelan pada diri sendiri. "Tiap kali mau tenang, ada aja benalu yang mau ngerusak."Pintu ruang kerja terdorong pelan. Jeremy melangkah masuk membawa map tebal."Bram, Adrian udah ditangani polisi," kata Jeremy, lalu mengamati raut wajah sahabatnya. "Lo kenapa? Muka lo kayak orang abis nanggung beban dunia.""Jer," potong Bram cepat. "Gue mau bagi ulang saham Mahardika."Jeremy terperanjat. "Maksud lo apa?!""Gue capek, Jer. Gue mau lepas ke
Suasana di area pemakaman umum tampak begitu kelam dibalut gerimis tipis. Tanah merah tempat peristirahatan terakhir Pak Dharma masih basah berhiaskan taburan bunga mawar. Pak Dharma tidak berhasil diselamatkan setelah serangan jantung mendadak yang menghantamnya di koridor rumah sakit malam itu.Di sudut pemakaman, Arini duduk di atas kursi roda dengan pakaian serba hitam. Wajahnya sangat pucat, dan luka tembak di perutnya, yang belum sepenuhnya sembuh, masih terasa menutut napasnya."Ayah..." bisik Arini parau, air matanya menetes tanpa henti menembus tanah merah. "Kenapa Ayah ninggalin Arini sendirian...?"Bram berdiri di belakang kursi roda Arini bersama Kiana. Rasa bersalah menghantam dada Bram begitu dalam. Arini baru saja siuman dua hari setelah operasi berat dan transfusi darah dari Kiana. Namun, alih-alih kedamaian, kabar duka atas kepergian sang ayah menjadi pil pahit pertama yang harus ditelannya."Arini... maafkan aku," gumam Bram penuh penyesalan. "Kalau bukan karena aku,
DOR!Suara letusan senjata memekakkan telinga. Bau mesiu menyengat beradu dengan debu gudang tua yang mengepul.Bram tidak merasakan peluru itu menembus dadanya. Namun, jeritan tertahan yang memilukan terdengar tepat di balik punggungnya."Ugh..."Tubuh Arini melemas, ambruk dalam pelukan Bram. Baju luarnya yang kusam seketika basah oleh noda darah merah pekat yang merembes cepat di bagian perut sampingnya. Wanita itu telah mendorong Bram di detik terakhir demi menahan timah panas yang seharusnya bersarang di dada Bram!"Arini!" jerit Bram histeris. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pria itu dengan cepat menangkap tubuh Arini yang terkulai lemah. "Arini! Buka matamu! Arini!""Hahaha! Mampus kalian berdua!" teriak Peter histeris dari lantai dengan tangan memegang pistol yang masih berasap. "Kalau aku nggak bisa bunuh kamu, biarkan wanita ini mati di tanganmu, Bramantya!"Brak!Pintu besi gudang didobrak paksa dari luar. Puluhan personel polisi bersenjata lengkap membanjiri ruangan,







