Share

Topeng Digital

last update publish date: 2026-07-08 09:29:27

Kiana buru-buru memalingkan wajah saat mendengar derap langkah mendekat. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Ketika Arya duduk kembali di kursinya dengan senyum tanpa dosa, Kiana buru-buru menyeruput sisa red wine-nya hingga tandas, berusaha membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.

"Hei, kamu kenapa? Kok mukanya pucat banget?" tanya Arya, dahi pria itu berkerut penuh perhatian. Tangannya terulur, berniat menyentuh kening Kiana.

Kiana refleks menghindar dengan berpura-pura membetulkan posisi rambutnya. "Ah, nggak apa-apa. Tiba-tiba pusing aja. Kayaknya efek angin malam."

Arya langsung melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap ponselnya yang sudah kembali gelap di atas meja. Kiana menahan napas, menunggu reaksi Arya jika pria itu memeriksa ponselnya. Namun, Arya hanya memasukkan ponsel itu ke saku celananya tanpa melihat layarnya sama sekali.

"Ya sudah, kita pulang sekarang ya? Aku antar," kata Arya lembut, suaranya yang berat terdengar begitu menenangkan, atau lebih tepatnya, terasa ironis di telinga Kiana sekarang.

"Nggak usah, Arya. Aku... aku mau langsung naik taksi online aja. Kebetulan searah sama temen kantor yang tadi chat aku, dia lagi di dekat sini," dusta Kiana, lancar tanpa terbata. Otaknya mendadak bekerja dua kali lebih cepat dalam mode bertahan hidup.

Arya tampak tidak suka. "Kiana, sejak kapan aku membiarkanmu pulang malam naik taksi sendirian? Aku ini pacar kamu."

Pacar? Atau selingkuhan? Batin Kiana menjerit, namun mulutnya tetap terkunci rapat.

"Pusingku agak parah, Arya. Aku cuma pengen rebahan di mobil dan nggak mau bikin kamu muter balik jauh ke Bekasi. Tolong ya?" Kiana menatap Arya, menggunakan sisa-sisa kemampuan aktingnya untuk memohon.

Arya menghela napas panjang, lalu mengalah. "Oke. Tapi begitu sampai apartemen, langsung kabari aku. Mengerti?"

"Iya, pasti."

Kiana sampai di apartemennya begitu cepat, dan lalu pertahanannya runtuh begitu saja. Di dalam bilik apartemen yang sepi itu, kekecewaan dan amarahnya tumpah dalam tangisan yang panjang. Ia tidak pernah menyangka, di umur sematang ini, dia masih begitu mudah untuk dibohongi dan dipermainkan.

Lalu keesokan paginya, di tengah-tengah kesibukan kantor dan patah hatinya, Kiana punya satu misi. Misi untuk menguatkan kecurigaannya.

Ia membuka i*******m, app dimana dia dan Arya kenal. Wanita itu mengintip dan menelusuri semua akun yang terhubung dengan Arya, sampai dia melihat satu nama yang entah kenapa menarik perhatiannya.

@laura.anindya.

Seketika, cukuplah bukti-bukti yang dia butuhkan. Semua ada di dalam akun itu. Dari foto pernikahan hingga foto paling baru keluarga kecil sang pacar. Termasuk nama asli dari pria yang selama ini dia kenal sebagai Arya.

Temuan itu sukses membuat Kiana runtuh kembali, tepat saat ponselnya berdering. Kekasihnya menelpon. Dia susah payah mengatur nafasnya sebelum mengangkat panggilan masuk tersebut.

“Hai sayang. Sudah makan? Mau aku pesankan sesuatu?” sapa dan tanya Arya dari seberang sana.

“Nggak usah. Aku lagi nggak nafsu makan,” jawab Kirana berusaha menahan getaran di suaranya.

“Kamu sakit? Suara kamu kok serak gitu? Mau aku jemput di kantor sekarang?” Nada suara pria itu berubah khawatir. Akting luar biasa menurut Kiana.

Gadis itu tersenyum getir menatap laptopnya yang masih menampilkan akun i*******m Laura dan keluarga kecilnya.

“Nggak perlu. Aku Cuma mau tanya sesuatu.”

“Tanya apa, Sayang? Tanyain aja. Tumben kamu minta izin? Biasanya kan kalau ada pertanyaan, kamu langsung tanya aja. Tanpa izin-izin segala.” Arya mempersilahkan wanitanya.

"Kamu lagi di mana sekarang?"

“Lagi di jalan, dekat kantor kamu.”

“Dari mana?”

“Dari kantor, ambil beberapa berkas, lalu meeting sama klien. Kenapa Ki?”

“Kiana mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Di kantor kamu? Kantor yang mana, Ya? Kantor yang fiktif atau kantor yang asli?" Dia tidak menyangka, ternyata ada pertanyaan yang lebih berat dilontarkan, dari pada menjawab pertanyaan itu sendiri.

Hening sesaat di seberang sana. "Maksud kamu apa, Ki? Aku nggak paham."

Kali ini Kiana hampir lepas kendali atas emosinya. Membuatnya harus mengatur nafas untuk bisa melanjutkan percakapan ini tanpa meledak.

"Kiana..." Suara Arya akhirnya terdengar lagi setelah hampir semenit diam. Namun nadanya mendadak berubah rendah. Kehilangan keceriaannya yang biasa.

"Foto tiga minggu lalu di taman bermain itu bagus banget, Ya," lanjut Kiana, air matanya yang tadi sudah dia usap kering, kini kembali mengalir deras, dengan suara yang tetap ditekan agar tidak pecah. Dia tidak mau artikulasinya tidak jelas hanya karena menangisi pria itu. "Anak kamu, Elano, mirip banget sama kamu. Mata elangnya persis punya kamu. Dan.... video akad nikah itu. Kenapa nama kamu di sana berubah jadi Bramantya Yudha?"

Kemudian kembali hening..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (10)

    Bram langsung menyambar remot TV di atas meja coffee dengan gerakan sigap, sementara Natasya dengan cepat menyetel siaran berita bisnis nasional melalui layar datar tersebut. Layar televisi di ruang keluarga seketika menampilkan tayangan langsung wawancara eksklusif Rendra Mahardika di pelataran Mahardika Group pagi tadi. Suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kepanikan kecil Natasya mendadak menghening."...dan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Mahardika Group bukan milik saya pribadi," ucap Rendra di layar kaca. Pria muda itu mengenakan jas hitam rapi buatan penjahit ternama, berdiri tegap dengan raut wajah yang tampak begitu berwibawa namun tetap rendah hati. "Semua pencapaian ini adalah hasil fondasi kuat dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh sosok mentor sekaligus panutan saya, Bapak Bramantya Yudha. Beliau mengajari saya bahwa pemimpin sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang bisa ia angkat dari keterpuru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (9)

    Dua hari kemudian, rumah Bram dan Kiana disulap menjadi tempat syukuran keluarga besar. Suasana hangat dan meriah langsung terasa begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar. Aroma daging yang dipanggang dengan bumbu rempah pilihan merambah memanjakan hidung hingga ke area halaman depan, menggugah selera setiap orang yang hadir.Di ruang tengah, karpet bulu merah tebal tergelar luas menutup lantai keramik yang dingin. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap dalam suasana yang begitu hangat dan akrab: Bram, Kiana, Natasya, Nathan, Jeremy, Laura, Elano, serta Rendra, Arini, dan Arka kecil yang kini sibuk mengoceh menggemaskan sambil memegangi kaki celana Rendra."Papa! Pa... liat Arka! Liat ini!" oceh balita dua tahun itu memamerkan mobil-mobilan plastiknya yang berwarna merah menyala.Rendra bertekuk lutut di atas karpet, mengusap kepala Arka dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ayah. "Wah, mobilnya kencang banget ya, Jagoan? Jalan mobilnya lurus banget. Mainnya sama

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (8)

    Waktu berjalan tanpa terasa, membawa ritme kehidupan yang lebih tenang di kediaman Bram. Dua tahun berlalu sejak kehadiran Arka Mahardika di tengah keluarga kecil Rendra dan Arini. Bayi mungil yang dulu mengadopsi kasih sayang mereka kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, cerdas, dan menjadi pusat kebahagiaan baru di Mahardika Group.Sore itu, halaman belakang rumah Bram tampak begitu semarak oleh tawa anak-anak. Nathan yang kini menginjak usia empat tahun sibuk berlari mengejar bola plastik di atas rumput hijau. Di belakangnya, Arka yang baru berusia dua tahun berusaha mengejar dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan."Nathan! Oper bolanya ke Dek Arka, Nak!" seru Arini dari kursi taman."Arka, ayo tembak bolanya ke gawang!" sahut Nathan riang sambil mengoper bola plastik merah itu.Arka tertawa geli, menendang bola itu kencang hingga bergulir ke arah pot bunga. Arini berdiri sebentar, merapikan baju Arka yang sedikit kotor terkena noda rumput basah.Kiana yang

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (7)

    Rendra refleks menggeser posisi tubuh tegapnya, pasang badan membentengi Arini dan bayi mungil dalam dekapannya dari tatapan tajam nan penuh amarah ibunya. Suasana pelataran panti asuhan yang tenang mendadak berubah tegang."Mama? Mau apa Mama ke sini?" tanya Rendra dengan suara dingin, dalam, dan mengintimidasi.Ibu Rendra, Heni, melangkah mendekat dengan wajah merah padam oleh emosi yang membakar. Perhiasan di pergelangan tangannya berkilau saat jemarinya menunjuk kasar ke arah bayi di dekapan Arini. Bayi kecil itu mulai gelisah dan menggeliat pelan akibat nada suara tinggi di sekitarnya."Mama minta kamu sadar, Rendra!" bentak Heni tanpa rasa canggung di tempat umum. "Mama dengar kabar burung kalau Arini ini mandul, dan sekarang Mama lihat kamu malah mau adopsi anak entah berantah ini? Kamu itu Direktur Utama Mahardika Group! Kamu mendapatkan titel itu dengan susah payah bertahun-tahun! Apa kata relasi bisnis kita kalau pewaris tunggal Mahardika ternyata anak adopsi tanpa asal-usul

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (6)

    Suara jeritan melengking memecah keheningan Minggu pagi yang tenang di kediaman Bram. Suasana rumah yang tadinya damai mendadak berubah riuh saat baby Nathan, yang baru berusia dua tahun, berlari wira-wiri di ruang tengah tanpa selembar benang pun yang melekat di tubuh mulusnya. Balita itu tertawa riang sambil menepuk-nepuk perutnya, sementara Bram mengikutinya dari belakang dengan napas memburu sambil memegang selembar popok perekat dan minyak telon."Nathan! Jangan lari, Nak! Sini dulu, Papanya capek!" seru Bram dengan suara yang mulai serak dan napas terengah-engah.Pria itu akhirnya tersungkur pasrah di atas sofa empuk ruang tamu, memegangi pinggang bawahnya yang mendadak terasa nyut-nyutan hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan, sementara kemeja santai berwarna krem yang dikenakannya agak kusut terkena tumpahan susu balitanya beberapa menit yang lalu."Aduh... pinggangku rasanya mau copot," keluh Bram pelan sambil meringis kesakitan, memejamkan matan

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (5)

    Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status