共有

Puzzle Pertama

last update 公開日: 2026-07-08 10:03:30

Tiniiiiiiittttt!

Suara klakson panjang yang memekakkan telinga merobek kesunyian, disusul oleh hantaman logam yang sangat dahsyat. Tubuh Kiana terlempar hebat ke depan. Pandangannya mendadak memutih, diselimuti rasa sakit yang teramat sangat, sebelum akhirnya segalanya berubah menjadi kegelapan total.

Tidak, aku tidak mau berakhir seperti ini... Kalimat terakhir itu terus bergema di dalam kepalanya, berputar seperti kaset rusak di tengah kehampaan.

"Kiana! Woii, Ki! Malah bengong. Sadar, Sis!"

Sebuah tepukan keras di bahu mengejutkan Kiana. Ia tersentak, napasnya memburu seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam. Kiana menoleh dengan panik, matanya bergerak liar menyapu sekeliling.

Tidak ada truk kontainer. Tidak ada SUV hitam. Tidak ada Bram.

Kiana mendapati dirinya sedang duduk di sebuah kafe semi-terbuka yang sangat familier di dekat kampusnya Depok. Di hadapannya, berserakan beberapa gelas es kopi susu yang sudah mencair, camilan kentang goreng setengah habis, dan sebuah map jinjing plastik transparan berisi bundel kertas tebal bertuliskan: SKRIPSI.

"Lo kenapa sih? Muka lo pucat banget kayak ngelihat hantu," tanya Dika, pria yang duduk di depannya, sambil sibuk mengunyah kentang goreng.

Kiana terpaku. Ia menatap Dika dengan mulut setengah terbuka. Dika tampak lebih muda. Tidak ada gurat stres atau pakaian tahanan. Pria itu memakai kaus oblong longgar dan jins belel, persis seperti penampilannya saat masih kuliah dulu.

"Di... Dika?" bisik Kiana, suaranya bergetar. Ia meraba wajahnya sendiri, lalu buru-buru memeriksa tangannya. Kulitnya mulus, tidak ada bekas cengkeraman kuat dari Bram.

"Iyalah, ini gue. Masa jadi Nicholas Saputra," canda Dika sambil tertawa. "Gue tahu lo masih syok gara-gara revisian dari dosen penguji tadi siang. Tapi tenang, Ki, lo udah lulus sidang skripsi! Kita resmi jadi sarjana!"

Kiana langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat saat melihat layar kunci.

Senin, 29 November 2015.

Otak Kiana mendadak mati rasa. November? Ini berarti sebulan penuh sebelum malam tahun baru yang terkutuk itu. Malam di mana kecelakaan maut yang menewaskan adik Bram terjadi.

"Gue... gue beneran balik?" gumam Kiana pelan, nyaris tak terdengar.

"Balik apaan? Lo dari tadi di sini, nyemilin kentang gue," sahut Dika heran. "Oiya, bulan depan kan kita rencana mau ke Bandung atas pas tahun baru. Anak-anak udah mulai bahas villa nih. Si Fani sama Riko katanya mau ikut juga."

Mendengar kata-kata itu, Kiana langsung merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Ingatan tentang ruangan gelap, belasan foto pengintaian, dan tatapan mata elang Bram yang dingin mendadak berkelebat di benaknya. Semua horor itu berakar dari kecelakaan maut yang bahkan belum terjadi.

Tuhan tidak hanya menyelamatkannya dari kecelakaan truk, tapi memberinya waktu yang cukup lapang untuk memotong benang takdir yang berdarah itu.

"Gue balik duluan ya, Dik. Badan gue beneran nggak enak," pamit Kiana mendadak. Ia buru-buru merapikan skripsinya ke dalam tas.

"Lah, kok buru-buru amat? Kopi lo belum abis, Ki," panggil Dika heran.

"Gue butuh istirahat, Dik. Nanti gue kabarin lagi," potong Kiana, lalu melangkah cepat meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi.

Sepanjang perjalanan pulang ke kosannya menggunakan ojek, Kiana terus menatap jalanan kota Depok dengan tatapan linglung. Semuanya terasa begitu nyata. Angin yang menerpa wajahnya, aroma knalpot kendaraan, hingga klakson yang bersahut-sahutan. Ini bukan mimpi. Ini benar-benar kesempatan kedua.

Begitu sampai di kamar kosannya yang berukuran tiga kali empat meter, Kiana langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, lalu merosot duduk di lantai. Kepalanya terasa sangat pening. Otaknya dipaksa bekerja keras untuk beradaptasi antara memori mengerikan di masa depan dan realitas santai masa kuliah yang sedang ia jalani sekarang.

Ia buru-buru membuka ponselnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah membuka aplikasi I*******m. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengetikkan nama akun Bram yang ia ingat diluar kepala.

Bramantya Yudha.

Tidak ada, nihil..

Ia kemudian mencari akun

Laura Anindya..

Lagi-lagi, tidak ada, nihil..

Kiana menghela nafas, “Dasar Bodoh Kiana.” Ucap otaknya

"Mikir, Kiana, mikir!" bisik logikanya, mencoba menuntut kendali penuh atas otaknya yang mulai kacau. "Kalau sekarang tahun 2015, Bram baru umur delapan belas tahun. Dia belum jadi pria matang di SUV hitam yang nyulik lo. Dia baru lulus SMA, atau mungkin baru masuk kuliah."

"Tapi gimana gue bisa nemuin dia di antara jutaan remaja di negara ini?" sahut batinnya sendiri, nyaris putus asa. "Gue bahkan nggak tahu dia sekolah di mana, tinggal di mana, atau hobi dia apa waktu remaja!"

Kiana memejamkan mata erat-erat. Ia memaksa memorinya memutar kembali rekaman suara Bram di rumah kosong di BSD, mengingat setiap jengkal cerita yang keluar dari bibir pria itu sebelum kecelakaan truk terjadi.

“Tujuh tahun lalu, sebelum aku nikah sama Laura, aku punya adik perempuan. Namanya Raisha... Ayah sama Ibu udah lama meninggal, jadi cuma Raisha yang aku punya.”

Mata Kiana mendadak terbuka sempurna. "Yatim piatu!" seru Kiana tertahan. "Bram bilang orang tuanya udah lama meninggal. Berarti dia cuma tinggal berdua sama adiknya, Raisha."

Kiana kembali meraih ponselnya. Kali ini, ia tidak mencari di I*******m, melainkan membuka mesin pencari G****e. Jemarinya dengan cepat mengetikkan beberapa kata kunci: Bramantya Yudha prestasi, Bramantya Yudha sekolah, Raisha Yudha.

Bingoo..

Ternyata Bramantya Yudha adalah siswa berprestasi. Dia muncul di sebuah artikel online dari sebuah majalah arsitektur bergengsi. Disana ia memegang maket buatannya yang memenangkan kompetisi arsitektur untuk usia SMA. Dan Bingoo… Kompetisi itu diadakan oleh salah satu kontraktor terbesar di Indonesia Widya Anindya..

“Ah.. Anindya.. Jadi ini maksudnya, tentang pernikahannya hanya bisnis belaka?” Ternyata hubungan itu sudah dimulai sejak dini. Semua puzzle mulai tersusun pelan-pelan.

Dan disana tertera kalo Bram adalah siswa dari sebuah SMA Negeri unggulan di Bandung. Apa yang harus dilakukan sekarang ya? Mungkin dengan mencegah Dika dan lainnya untuk pergi ke Bandung adalah langkah awal.

Keesokan harinya, Kiana mencoba menjalani aktivitasnya dengan normal di kampus, meski pikirannya melayang jauh. Di koridor fakultas, ia berpapasan dengan Dika yang langsung merangkul pundaknya dengan akrab.

"Ki! Lo ke mana aja sih? Semalem gue grup telepon kagak diangkat. Fani sama Riko nanyain lo mulu nih, villa di Bandung atas udah mau DP nih," cerocos Dika tanpa jeda.

Kiana melepaskan rangkulan Dika perlahan, mencoba bersikap sealami mungkin agar temannya tidak curiga. "Gue lagi agak pusing, Dik. Berkas kelulusan gue ada yang kurang di sekretariat."

"Halah, ntar juga beres. Jadi gimana? Lo ikut kan tahun baru? Liburan terakhir kita sebagai mahasiswa, nih!"

Kiana menatap wajah Dika yang masih bersih tanpa dosa. Pria ini tidak tahu bahwa dalam sebulan lagi, tangannya akan berlumuran darah karena menabrak seorang gadis remaja di daerah Dago.

"Gue... gue belum bisa pastiin, Dik. Kayaknya nyokap minta gue balik ke Jakarta pas akhir tahun," jawab Kiana berbohong, mencoba menanamkan umpan pertama untuk membatalkan rencana tersebut.

Dika cemberut. "Ah, nggak seru lo. Masa gara-gara lo doang kita batal? Pokoknya lo harus ikut. Lagian gue udah dapet izin bawa CX5 merah bokap gue, aman lah ongkos hemat."

Mendengar kata merah, dada Kiana kembali berdesir ngilu. "Dik, kalau... kalau kita nggak usah ke Bandung gimana? Di Jakarta atau di Depok aja gitu, nongkrong biasa?"

Dika mengernyitkan alis, menatap Kiana heran. "Kiana, lo aneh banget deh sejak kemarin. Kita kan udah ngerencanain ini berbulan-bulan. Kenapa mendadak parnoan gini sih?"

Kiana terdiam, kehabisan kata-kata. Ia tahu, bersikeras melarang Dika tanpa alasan yang logis hanya akan membuat temannya itu semakin menganggapnya gila dan mengabaikan peringatannya. Satu-satunya cara untuk memutus takdir ini adalah dengan menemukan Bram atau Raisha sebelum tanggal 31 Desember. Dia harus ke Bandung..

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (10)

    Bram langsung menyambar remot TV di atas meja coffee dengan gerakan sigap, sementara Natasya dengan cepat menyetel siaran berita bisnis nasional melalui layar datar tersebut. Layar televisi di ruang keluarga seketika menampilkan tayangan langsung wawancara eksklusif Rendra Mahardika di pelataran Mahardika Group pagi tadi. Suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kepanikan kecil Natasya mendadak menghening."...dan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Mahardika Group bukan milik saya pribadi," ucap Rendra di layar kaca. Pria muda itu mengenakan jas hitam rapi buatan penjahit ternama, berdiri tegap dengan raut wajah yang tampak begitu berwibawa namun tetap rendah hati. "Semua pencapaian ini adalah hasil fondasi kuat dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh sosok mentor sekaligus panutan saya, Bapak Bramantya Yudha. Beliau mengajari saya bahwa pemimpin sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang bisa ia angkat dari keterpuru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (9)

    Dua hari kemudian, rumah Bram dan Kiana disulap menjadi tempat syukuran keluarga besar. Suasana hangat dan meriah langsung terasa begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar. Aroma daging yang dipanggang dengan bumbu rempah pilihan merambah memanjakan hidung hingga ke area halaman depan, menggugah selera setiap orang yang hadir.Di ruang tengah, karpet bulu merah tebal tergelar luas menutup lantai keramik yang dingin. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap dalam suasana yang begitu hangat dan akrab: Bram, Kiana, Natasya, Nathan, Jeremy, Laura, Elano, serta Rendra, Arini, dan Arka kecil yang kini sibuk mengoceh menggemaskan sambil memegangi kaki celana Rendra."Papa! Pa... liat Arka! Liat ini!" oceh balita dua tahun itu memamerkan mobil-mobilan plastiknya yang berwarna merah menyala.Rendra bertekuk lutut di atas karpet, mengusap kepala Arka dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ayah. "Wah, mobilnya kencang banget ya, Jagoan? Jalan mobilnya lurus banget. Mainnya sama

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (8)

    Waktu berjalan tanpa terasa, membawa ritme kehidupan yang lebih tenang di kediaman Bram. Dua tahun berlalu sejak kehadiran Arka Mahardika di tengah keluarga kecil Rendra dan Arini. Bayi mungil yang dulu mengadopsi kasih sayang mereka kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, cerdas, dan menjadi pusat kebahagiaan baru di Mahardika Group.Sore itu, halaman belakang rumah Bram tampak begitu semarak oleh tawa anak-anak. Nathan yang kini menginjak usia empat tahun sibuk berlari mengejar bola plastik di atas rumput hijau. Di belakangnya, Arka yang baru berusia dua tahun berusaha mengejar dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan."Nathan! Oper bolanya ke Dek Arka, Nak!" seru Arini dari kursi taman."Arka, ayo tembak bolanya ke gawang!" sahut Nathan riang sambil mengoper bola plastik merah itu.Arka tertawa geli, menendang bola itu kencang hingga bergulir ke arah pot bunga. Arini berdiri sebentar, merapikan baju Arka yang sedikit kotor terkena noda rumput basah.Kiana yang

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (7)

    Rendra refleks menggeser posisi tubuh tegapnya, pasang badan membentengi Arini dan bayi mungil dalam dekapannya dari tatapan tajam nan penuh amarah ibunya. Suasana pelataran panti asuhan yang tenang mendadak berubah tegang."Mama? Mau apa Mama ke sini?" tanya Rendra dengan suara dingin, dalam, dan mengintimidasi.Ibu Rendra, Heni, melangkah mendekat dengan wajah merah padam oleh emosi yang membakar. Perhiasan di pergelangan tangannya berkilau saat jemarinya menunjuk kasar ke arah bayi di dekapan Arini. Bayi kecil itu mulai gelisah dan menggeliat pelan akibat nada suara tinggi di sekitarnya."Mama minta kamu sadar, Rendra!" bentak Heni tanpa rasa canggung di tempat umum. "Mama dengar kabar burung kalau Arini ini mandul, dan sekarang Mama lihat kamu malah mau adopsi anak entah berantah ini? Kamu itu Direktur Utama Mahardika Group! Kamu mendapatkan titel itu dengan susah payah bertahun-tahun! Apa kata relasi bisnis kita kalau pewaris tunggal Mahardika ternyata anak adopsi tanpa asal-usul

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (6)

    Suara jeritan melengking memecah keheningan Minggu pagi yang tenang di kediaman Bram. Suasana rumah yang tadinya damai mendadak berubah riuh saat baby Nathan, yang baru berusia dua tahun, berlari wira-wiri di ruang tengah tanpa selembar benang pun yang melekat di tubuh mulusnya. Balita itu tertawa riang sambil menepuk-nepuk perutnya, sementara Bram mengikutinya dari belakang dengan napas memburu sambil memegang selembar popok perekat dan minyak telon."Nathan! Jangan lari, Nak! Sini dulu, Papanya capek!" seru Bram dengan suara yang mulai serak dan napas terengah-engah.Pria itu akhirnya tersungkur pasrah di atas sofa empuk ruang tamu, memegangi pinggang bawahnya yang mendadak terasa nyut-nyutan hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan, sementara kemeja santai berwarna krem yang dikenakannya agak kusut terkena tumpahan susu balitanya beberapa menit yang lalu."Aduh... pinggangku rasanya mau copot," keluh Bram pelan sambil meringis kesakitan, memejamkan matan

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (5)

    Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status