Share

Brondongku Psikopat
Brondongku Psikopat
Penulis: KaoruTheLovers

Ilusi Setahun

Penulis: KaoruTheLovers
last update Tanggal publikasi: 2026-07-08 09:25:49

"Sungguh, aku tak menyangka akan menghabiskan satu tahun dengan pria yang delapan tahun lebih muda dariku," ucap Kiana tiba-tiba, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.

Tadinya hanya terdengar alunan musik akustik bertempo lambat mengalun lembut di sudut kafe bernuansa kayu yang hangat ini. Aroma kopi dan aroma hujan yang baru saja membasahi jalanan Jakarta menciptakan atmosfer yang begitu syahdu.

Kiana menyesap red wine-nya perlahan, matanya menatap pria di seberang meja yang sedang sibuk memotong steak dengan begitu telaten. Gerakan tangannya tenang dan teratur. Pria itu mengenakan kaos berkerah berwarna biru tua yang membuat kulit coklatnya terlihat kontras di bawah lampu temaram.

Arya menghentikan gerakan pisau dan garpunya. Ia mendongak, menatap Kiana dengan sepasang mata elangnya yang selalu berhasil membuat Kiana salah tingkah, bahkan setelah satu tahun berlalu. Pria dua puluh sembilan tahun itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dulu sempat Kiana anggap sebagai senjata untuk menggoda semua perempuan.

"Kenapa? Masih merasa jalan sama anak kemarin sore?" goda Arya, suaranya yang berat dan bariton terdengar begitu seksi di telinga Kiana.

Kiana terkekeh, menggelengkan kepalanya. "Bukan gitu. Cuma... kalau ingat awal kita kenal di DM I*******m setahun lalu, rasanya masih agak absurd. Ingat nggak waktu kamu panggil aku 'Kak'?"

"Ingat," Arya meletakkan alat makannya, lalu menopang dagu dengan satu tangan, menatap Kiana lekat-lekat. "Dan ingat banget gimana ketusnya kamu waktu itu. Bilang kalau pria umur dua puluh sembilan itu biasanya cuma sibuk main game atau cari jati diri."

"Ya wajar, kan? Aku tiga puluh tujuh tahun, Arya. Aku realistis, nggak punya waktu buat main-main," bela Kiana sambil mengerucutkan bibirnya tanpa sadar.

"Tapi malam itu di sini, kamu akhirnya tahu kalau aku nggak sedang main-main," balas Arya dengan nada penuh percaya diri khas seorang provider. Arya datang membawa draf analisis proyeksi kawasan industry di tabletnya, dan membayar semua bill makan malam kemudian mengantar Kiana pulang.

Kiana tersenyum, pipinya mendadak terasa hangat. "Iya, iya. Pria matang yang paling tahu cara bikin perempuan bertekuk lutut."

"Bukan cuma soal uang atau proyek, Kiana. Aku serius tertarik sama kamu," ucap Arya lembut, tangannya terulur di atas meja, menggenggam jemari Kiana yang terasa dingin. Kehangatan tangan Arya langsung menjalar, membuat hati Kiana terasa hangat juga.

Selama satu tahun ini, hubungan mereka memang tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan usia satu dekade sering kali mendatangkan riak kecil, terutama dari ketakutan-ketakutan internal Kiana sendiri. Kiana ingat betul momen enam bulan lalu, saat dia mendadak insecure karena melihat Arya dikelilingi oleh rekan-rekan kerja wanita yang jauh lebih muda, modis, dan seumuran dengan pria itu. Malam itu, Kiana meminta putus lewat pesan singkat, tiba-tiba, tanpa aba-aba.

"Ingat nggak waktu aku tiba-tiba chat minta putus?" tanya Kiana lirih.

Arya menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Malam di mana kamu tiba-tiba mematikan ponsel dan mengunci diri di apartemen? Tentu saja aku ingat."

"Aku benar-benar takut waktu itu, Arya. Aku merasa kita jalan di dua dunia yang berbeda. Aku dan kamu."

"Dan apa yang aku lakukan?" Arya menuntut jawaban dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.

"Kamu nekat menyetir dari Bekasi ke apartemenku jam dua pagi tembus hujan lebat. Kamu berdiri di depan pintuku sampai basah kuyup, cuma buat bilang kalau umur itu cuma angka di KTP, dan satu-satunya wanita yang kamu inginkan saat itu cuma aku." Kiana tersenyum haru mengingat kejadian itu. Sisi protektif dan matang dari Arya malam itu benar-benar mengunci hatinya rapat-rapat.

"Aku nggak pernah main-main dengan kata-kataku, Kiana," ujar Arya mantap, meremas pelan jemari wanita itu. "Satu tahun ini baru permulaan. Aku sudah menyiapkan banyak hal untuk masa depan kita. Termasuk rencana investasi rumah yang kemarin kita lihat di daerah BSD."

“Kenapa?” Kiana bertanya lagi.

“Kamu pikir aku akan dengan mudah melepaskan perempuan yang aku dekati susah payah, yang membuat hidupku kembali berwarna, yang membuatku menjadi seorang pria yang tidak hanya dibutuhkan karena menghasillkan?” Ucap Arya panjang.

Kiana menatap Arya dengan binar mata penuh cinta. Pria di depannya ini benar-benar sosok provider idaman. Dia misterius tentang beberapa hal pribadi keluarganya, tapi dia selalu terbuka dan luar biasa konkret jika menyangkut kesejahteraan dan kebahagiaan Kiana. Dia lebih banyak aksi daripada bicara.

"Terima kasih ya, Arya. Sudah mau menerima dan bertahan sama aku selama satu tahun ini," ucap Kiana tulus.

"Sama-sama, Sayang. Sebentar ya, aku ke toilet dulu," pamit Arya seraya berdiri dari kursinya. Ia mengusap rambut Kiana pelan sebelum melangkah pergi menuju bagian belakang kafe.

Kiana menatap punggung tegap Arya yang menjauh dengan perasaan lega yang membuncah. Dia merasa sangat beruntung. Ketakutannya tentang "pria yang lebih muda" perlahan-lahan menguap. Arya membuktikannya bahwa kedewasaan tidak diukur dari umur, melainkan dari tanggung jawab dan cara memperlakukan wanita.

Kiana melirik ke atas meja kayu di depannya. Dompet kulit hitam Arya dan ponselnya tergeletak di sana, tepat di sebelah gelas lilin yang bergoyang ditiup angin malam.

Tiba-tiba, layar ponsel Arya menyala terang. Ponsel itu bergetar di atas meja, memecah kesyahduan musik akustik kafe.

Kiana awalnya berniat mengabaikannya, mengira itu hanya telepon dari rekan bisnis atau grup pekerjaan Arya yang biasa berisik di malam hari. Namun, karena getarannya tak kunjung berhenti, mata Kiana tanpa sengaja melirik ke arah layar digital tersebut.

Detik itu juga, napas Kiana seolah tercekat di tenggorokan. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa dingin membeku.

Di layar ponsel Arya, sebuah panggilan video masuk dari sebuah kontak yang disimpan dengan nama yang sangat jelas, tanpa kode, tanpa inisial:

“ISTRIKU”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
KaoruTheLovers
Terima kasih banyak kak atas komen yang diberikan. Kakak adalah komentator pertama karya saya... Terus dukung saya ya kak. Terima kasih.
goodnovel comment avatar
Sub Handi Madjiah
Sudah membaca beberapa chapter karena saking asik bacanya. Terlepas dari beberapa hal yang masih perlu dibenahi seperti typo dan tatacara penggunaan kata serapan, overall ceritanya bagus dan immersive. Bab 1 ini sangat mind-blowing penutupannya dan pas untuk membuka petualangan Kiana ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (10)

    Bram langsung menyambar remot TV di atas meja coffee dengan gerakan sigap, sementara Natasya dengan cepat menyetel siaran berita bisnis nasional melalui layar datar tersebut. Layar televisi di ruang keluarga seketika menampilkan tayangan langsung wawancara eksklusif Rendra Mahardika di pelataran Mahardika Group pagi tadi. Suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kepanikan kecil Natasya mendadak menghening."...dan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Mahardika Group bukan milik saya pribadi," ucap Rendra di layar kaca. Pria muda itu mengenakan jas hitam rapi buatan penjahit ternama, berdiri tegap dengan raut wajah yang tampak begitu berwibawa namun tetap rendah hati. "Semua pencapaian ini adalah hasil fondasi kuat dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh sosok mentor sekaligus panutan saya, Bapak Bramantya Yudha. Beliau mengajari saya bahwa pemimpin sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang bisa ia angkat dari keterpuru

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (9)

    Dua hari kemudian, rumah Bram dan Kiana disulap menjadi tempat syukuran keluarga besar. Suasana hangat dan meriah langsung terasa begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar. Aroma daging yang dipanggang dengan bumbu rempah pilihan merambah memanjakan hidung hingga ke area halaman depan, menggugah selera setiap orang yang hadir.Di ruang tengah, karpet bulu merah tebal tergelar luas menutup lantai keramik yang dingin. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap dalam suasana yang begitu hangat dan akrab: Bram, Kiana, Natasya, Nathan, Jeremy, Laura, Elano, serta Rendra, Arini, dan Arka kecil yang kini sibuk mengoceh menggemaskan sambil memegangi kaki celana Rendra."Papa! Pa... liat Arka! Liat ini!" oceh balita dua tahun itu memamerkan mobil-mobilan plastiknya yang berwarna merah menyala.Rendra bertekuk lutut di atas karpet, mengusap kepala Arka dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ayah. "Wah, mobilnya kencang banget ya, Jagoan? Jalan mobilnya lurus banget. Mainnya sama

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (8)

    Waktu berjalan tanpa terasa, membawa ritme kehidupan yang lebih tenang di kediaman Bram. Dua tahun berlalu sejak kehadiran Arka Mahardika di tengah keluarga kecil Rendra dan Arini. Bayi mungil yang dulu mengadopsi kasih sayang mereka kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, cerdas, dan menjadi pusat kebahagiaan baru di Mahardika Group.Sore itu, halaman belakang rumah Bram tampak begitu semarak oleh tawa anak-anak. Nathan yang kini menginjak usia empat tahun sibuk berlari mengejar bola plastik di atas rumput hijau. Di belakangnya, Arka yang baru berusia dua tahun berusaha mengejar dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan."Nathan! Oper bolanya ke Dek Arka, Nak!" seru Arini dari kursi taman."Arka, ayo tembak bolanya ke gawang!" sahut Nathan riang sambil mengoper bola plastik merah itu.Arka tertawa geli, menendang bola itu kencang hingga bergulir ke arah pot bunga. Arini berdiri sebentar, merapikan baju Arka yang sedikit kotor terkena noda rumput basah.Kiana yang

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (7)

    Rendra refleks menggeser posisi tubuh tegapnya, pasang badan membentengi Arini dan bayi mungil dalam dekapannya dari tatapan tajam nan penuh amarah ibunya. Suasana pelataran panti asuhan yang tenang mendadak berubah tegang."Mama? Mau apa Mama ke sini?" tanya Rendra dengan suara dingin, dalam, dan mengintimidasi.Ibu Rendra, Heni, melangkah mendekat dengan wajah merah padam oleh emosi yang membakar. Perhiasan di pergelangan tangannya berkilau saat jemarinya menunjuk kasar ke arah bayi di dekapan Arini. Bayi kecil itu mulai gelisah dan menggeliat pelan akibat nada suara tinggi di sekitarnya."Mama minta kamu sadar, Rendra!" bentak Heni tanpa rasa canggung di tempat umum. "Mama dengar kabar burung kalau Arini ini mandul, dan sekarang Mama lihat kamu malah mau adopsi anak entah berantah ini? Kamu itu Direktur Utama Mahardika Group! Kamu mendapatkan titel itu dengan susah payah bertahun-tahun! Apa kata relasi bisnis kita kalau pewaris tunggal Mahardika ternyata anak adopsi tanpa asal-usul

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (6)

    Suara jeritan melengking memecah keheningan Minggu pagi yang tenang di kediaman Bram. Suasana rumah yang tadinya damai mendadak berubah riuh saat baby Nathan, yang baru berusia dua tahun, berlari wira-wiri di ruang tengah tanpa selembar benang pun yang melekat di tubuh mulusnya. Balita itu tertawa riang sambil menepuk-nepuk perutnya, sementara Bram mengikutinya dari belakang dengan napas memburu sambil memegang selembar popok perekat dan minyak telon."Nathan! Jangan lari, Nak! Sini dulu, Papanya capek!" seru Bram dengan suara yang mulai serak dan napas terengah-engah.Pria itu akhirnya tersungkur pasrah di atas sofa empuk ruang tamu, memegangi pinggang bawahnya yang mendadak terasa nyut-nyutan hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan, sementara kemeja santai berwarna krem yang dikenakannya agak kusut terkena tumpahan susu balitanya beberapa menit yang lalu."Aduh... pinggangku rasanya mau copot," keluh Bram pelan sambil meringis kesakitan, memejamkan matan

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (5)

    Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status