LOGINDeru mesin SUV hitam itu menggelegar di dalam basemen yang sunyi. Kiana tersentak ke belakang saat mobil mendadak melesat maju, ban mobil mencicit keras bergesekan dengan lantai beton.
"Bram! Kamu gila, ya?! Buka pintunya! Aku mau turun!" teriak Kiana, tangannya panik menggedor kaca jendela.
Bram tidak menjawab. Wajahnya yang semula tenang kini mengeras. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mobil dengan cepat melewati palang pintu parkir otomatis dan meluncur masuk ke jalan raya, membelah arus lalu lintas yang mulai padat.
"Bramantya! Kamu denger aku nggak sih?! Hentikan mobilnya!" Kiana meraih gagang pintu, mencoba membukanya paksa, namun sistem auto-lock menguncinya rapat.
"Tenang, Kiana," ucap Bram. Suaranya tidak lagi melembut seperti tadi. Nada suaranya datar, dingin, dan penuh perintah. "Kita perlu tempat yang lebih tenang untuk bicara. Di sini terlalu bising."
"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan! Kamu udah bohongin aku setahun ini! Buka kuncinya, Bram! Ini udah penculikan namanya!"
Bram terkekeh pendek, sebuah suara yang terdengar begitu asing dan mengerikan di telinga Kiana. "Penculikan? Jangan berlebihan. Aku cuma bawa pacarku jalan-jalan. Kita mau lihat rumah kita di BSD, ingat?"
Mendengar kata rumah, bulu kuduk Kiana langsung berdiri. Pria di sampingnya ini bukan lagi Arya yang penyayang dan penuh perhatian yang ia kenal selama setahun terakhir. Pria ini adalah orang asing yang manipulatif dan berbahaya.
Kiana meraba tasnya, mencari ponsel. Begitu jemarinya menyentuh benda pipih itu, sebuah tangan besar dengan cepat menyambar pergelangan tangannya. Cengkeraman Bram begitu kuat hingga Kiana meringis kesakitan.
"Lepas, Bram! Sakit!"
Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, Bram merebut ponsel Kiana dengan tangan kirinya, lalu melempar benda itu ke kursi belakang.
"Jangan mulai, Kiana," kata Bram, suaranya kembali tenang, namun ketenangan itu justru terasa ribuan kali lebih mengancam. "Aku nggak mau ada gangguan. Handphone kamu biar di situ dulu."
"Kamu bener-bener sakit mental, ya?" Kiana menatap Bram dengan tatapan horor. Air matanya mengalir, bukan lagi karena sedih, melainkan karena rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. "Kamu punya istri, Bram! Punya anak! Pulang ke mereka! Lepasin aku!"
"Aku udah bilang, aku sayang kalian berdua!" Bram memukul kemudi dengan keras, membuat Kiana terlonjak. "Kenapa susah banget sih dipahami? Laura punya porsinya sendiri, dan kamu punya porsimu sendiri. Aku bisa penuhin semua kebutuhan kamu, Kiana. Rumah, uang, apa aja. Kamu cuma perlu tetep di samping aku. Tetep jadi Kiana-ku. Apa itu sesulit itu?"
"Itu menjijikkan, Bram!" sentak Kiana. "Aku bukan barang yang bisa kamu sekat-sekat fungsinya! Aku mau turun!"
Bram tidak membalas lagi. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil melaju cepat memasuki jalur tol arah Tangerang. Kiana memandang ke luar jendela dengan putus asa. Mobil-mobil lain berlalu-lalang di sekitar mereka, namun tidak ada satu pun yang tahu bahwa di dalam SUV mewah ini, ia sedang terjebak bersama seorang psikopat.
Otak Kiana berputar cepat, mencoba mencari cara untuk menyelamatkan diri. Berantem fisik di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam sama saja dengan bunuh diri. Ia harus menunggu mobil ini melambat atau berhenti.
Hampir empat puluh menit keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Mobil akhirnya keluar di gerbang tol BSD. Kiana memperhatikan jalanan sekitarnya. Bram membawa mobil masuk ke sebuah kawasan kluster perumahan elite yang baru dibangun. Suasananya masih sangat sepi, banyak rumah yang belum berpenghuni.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai bergaya modern minimalis yang masih tampak gres. Halamannya belum ditanami rumput, dan posisinya berada di ujung jalan, agak terisolasi dari rumah lainnya.
Bram mematikan mesin mobil. Bunyi klik terdengar saat ia membuka kunci pintu.
"Turun," perintah Bram.
Kiana tidak berpikir dua kali. Begitu kunci terbuka, ia langsung mendorong pintu mobil dan berniat langsung kabur keluar dari area kluster. Namun, gerakannya kalah cepat. Baru dua langkah Kiana berlari, Bram sudah berhasil mengejarnya. Pria itu memeluk pinggang Kiana dari belakang dan mengangkat tubuhnya paksa.
"Lepasin! Tolong! Siapa aja tolong!" Kiana menjerit sekuat tenaga, kakinya menendang-nendang ke udara.
"Nggak akan ada yang denger, Kiana. Di sini sepi," bisik Bram di telinganya.
Bram menyeret Kiana masuk ke dalam rumah baru tersebut. Pintu depan dibuka, dan Kiana langsung dihempaskan ke atas lantai ruang tamu yang masih berdebu. Pintu langsung ditutup kembali oleh Bram, lalu dikunci rapat dari dalam. Bunyi anak kunci yang berputar terdengar seperti vonis mati bagi Kiana.
Kiana mundur merayap di lantai hingga punggungnya membentur dinding. Ia menatap Bram yang kini berdiri di depannya, menjulang tinggi dengan ekspresi wajah yang benar-benar kosong.
"Ini rumah kita," kata Bram sambil merentangkan kedua tangannya, tersenyum tipis yang terlihat sangat mengerikan di mata Kiana. "Bagus, kan? Aku sengaja pilih yang paling pojok supaya kita punya privasi. Kamu bakal suka tinggal di sini."
"Kamu... kamu mau nyekap aku di sini?" suara Kiana bergetar hebat.
Bram berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Kiana. Ia mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Kiana yang berantakan, namun Kiana langsung memalingkan wajahnya dengan jijik. Bram tidak marah. Ia hanya tersenyum maklum.
"Bukan nyekap, Kiana. Hari ini kita hanya sedang melihat-lihat rumah kita, bagian mana yang memerlukan renovasi," ralat Bram lembut.
"Bram, tolong..." Kiana mulai memohon, mencoba menurunkan ego demi keselamatan dirinya. "Kita bicarain baik-baik. Aku nggak bakal laporin kamu ke istri kamu, aku janji. Tapi tolong biarin aku pulang."
Bram menatap Kiana lama, seolah sedang menimbang-nimbang. Ia lalu menghela napas panjang dan berdiri. "Aku tahu kamu cuma panik sekarang. Aku kasih kamu waktu buat sendiri dulu ya, biar tenang."
Bram berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan di bagian belakang rumah. Kiana melihat ini sebagai kesempatan. Ia menahan napas, bersiap untuk bangkit dan berlari menuju jendela kaca di ruang tamu untuk memecahkannya.
Namun, sebelum Kiana sempat berdiri, langkah Bram terhenti di depan sebuah pintu kayu tebal yang tampaknya menuju ke ruang bawah tanah atau gudang belakang. Bram membuka pintu itu, lalu meraba dinding untuk menyalakan saklar lampu di dalamnya.
Saat lampu di dalam ruangan itu menyala, samar-samar Kiana bisa melihat bagian dalam ruangan dari sudut posisinya duduk. Matanya mendadak membelalak sempurna, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Di dalam ruangan minim ventilasi itu, tidak ada perabotan rumah baru. Yang ada hanyalah sebuah kasur tanpa seprei di lantai. Namun, bukan itu yang membuat darah Kiana mendadak berdesir dingin.
Di dinding ruangan itu, terpampang belasan foto dirinya. Foto-foto yang diambil secara diam-diam dari jarak jauh. Foto saat ia sedang berbelanja, saat ia berada di depan apartemennya, bahkan foto saat ia sedang tidur di kamarnya ketika bersama Bram.
Bram berbalik, memergoki arah pandangan Kiana. Senyum di wajah pria itu lenyap, digantikan oleh tatapan mata elang yang begitu tajam dan menusuk.
"Ah, kamu sudah lihat, ya?" tanya Bram dengan nada suara yang mendadak berubah sangat dingin. Ia melangkah perlahan kembali mendekati Kiana, sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya—sebuah alat kejut listrik portabel yang mengeluarkan bunyi percikan daya yang menyengat udara. "Tadinya aku mau nunggu sampai kamu tenang, Kiana. Tapi sepertinya, kamu sudah melihat semua..”
Bram langsung menyambar remot TV di atas meja coffee dengan gerakan sigap, sementara Natasya dengan cepat menyetel siaran berita bisnis nasional melalui layar datar tersebut. Layar televisi di ruang keluarga seketika menampilkan tayangan langsung wawancara eksklusif Rendra Mahardika di pelataran Mahardika Group pagi tadi. Suasana ruangan yang tadinya tegang oleh kepanikan kecil Natasya mendadak menghening."...dan hari ini, saya ingin menegaskan bahwa kejayaan Mahardika Group bukan milik saya pribadi," ucap Rendra di layar kaca. Pria muda itu mengenakan jas hitam rapi buatan penjahit ternama, berdiri tegap dengan raut wajah yang tampak begitu berwibawa namun tetap rendah hati. "Semua pencapaian ini adalah hasil fondasi kuat dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh sosok mentor sekaligus panutan saya, Bapak Bramantya Yudha. Beliau mengajari saya bahwa pemimpin sejati tidak dilihat dari seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang bisa ia angkat dari keterpuru
Dua hari kemudian, rumah Bram dan Kiana disulap menjadi tempat syukuran keluarga besar. Suasana hangat dan meriah langsung terasa begitu melangkahkan kaki melewati pintu pagar. Aroma daging yang dipanggang dengan bumbu rempah pilihan merambah memanjakan hidung hingga ke area halaman depan, menggugah selera setiap orang yang hadir.Di ruang tengah, karpet bulu merah tebal tergelar luas menutup lantai keramik yang dingin. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul lengkap dalam suasana yang begitu hangat dan akrab: Bram, Kiana, Natasya, Nathan, Jeremy, Laura, Elano, serta Rendra, Arini, dan Arka kecil yang kini sibuk mengoceh menggemaskan sambil memegangi kaki celana Rendra."Papa! Pa... liat Arka! Liat ini!" oceh balita dua tahun itu memamerkan mobil-mobilan plastiknya yang berwarna merah menyala.Rendra bertekuk lutut di atas karpet, mengusap kepala Arka dengan binar mata penuh kasih sayang seorang ayah. "Wah, mobilnya kencang banget ya, Jagoan? Jalan mobilnya lurus banget. Mainnya sama
Waktu berjalan tanpa terasa, membawa ritme kehidupan yang lebih tenang di kediaman Bram. Dua tahun berlalu sejak kehadiran Arka Mahardika di tengah keluarga kecil Rendra dan Arini. Bayi mungil yang dulu mengadopsi kasih sayang mereka kini telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, cerdas, dan menjadi pusat kebahagiaan baru di Mahardika Group.Sore itu, halaman belakang rumah Bram tampak begitu semarak oleh tawa anak-anak. Nathan yang kini menginjak usia empat tahun sibuk berlari mengejar bola plastik di atas rumput hijau. Di belakangnya, Arka yang baru berusia dua tahun berusaha mengejar dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan."Nathan! Oper bolanya ke Dek Arka, Nak!" seru Arini dari kursi taman."Arka, ayo tembak bolanya ke gawang!" sahut Nathan riang sambil mengoper bola plastik merah itu.Arka tertawa geli, menendang bola itu kencang hingga bergulir ke arah pot bunga. Arini berdiri sebentar, merapikan baju Arka yang sedikit kotor terkena noda rumput basah.Kiana yang
Rendra refleks menggeser posisi tubuh tegapnya, pasang badan membentengi Arini dan bayi mungil dalam dekapannya dari tatapan tajam nan penuh amarah ibunya. Suasana pelataran panti asuhan yang tenang mendadak berubah tegang."Mama? Mau apa Mama ke sini?" tanya Rendra dengan suara dingin, dalam, dan mengintimidasi.Ibu Rendra, Heni, melangkah mendekat dengan wajah merah padam oleh emosi yang membakar. Perhiasan di pergelangan tangannya berkilau saat jemarinya menunjuk kasar ke arah bayi di dekapan Arini. Bayi kecil itu mulai gelisah dan menggeliat pelan akibat nada suara tinggi di sekitarnya."Mama minta kamu sadar, Rendra!" bentak Heni tanpa rasa canggung di tempat umum. "Mama dengar kabar burung kalau Arini ini mandul, dan sekarang Mama lihat kamu malah mau adopsi anak entah berantah ini? Kamu itu Direktur Utama Mahardika Group! Kamu mendapatkan titel itu dengan susah payah bertahun-tahun! Apa kata relasi bisnis kita kalau pewaris tunggal Mahardika ternyata anak adopsi tanpa asal-usul
Suara jeritan melengking memecah keheningan Minggu pagi yang tenang di kediaman Bram. Suasana rumah yang tadinya damai mendadak berubah riuh saat baby Nathan, yang baru berusia dua tahun, berlari wira-wiri di ruang tengah tanpa selembar benang pun yang melekat di tubuh mulusnya. Balita itu tertawa riang sambil menepuk-nepuk perutnya, sementara Bram mengikutinya dari belakang dengan napas memburu sambil memegang selembar popok perekat dan minyak telon."Nathan! Jangan lari, Nak! Sini dulu, Papanya capek!" seru Bram dengan suara yang mulai serak dan napas terengah-engah.Pria itu akhirnya tersungkur pasrah di atas sofa empuk ruang tamu, memegangi pinggang bawahnya yang mendadak terasa nyut-nyutan hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan, sementara kemeja santai berwarna krem yang dikenakannya agak kusut terkena tumpahan susu balitanya beberapa menit yang lalu."Aduh... pinggangku rasanya mau copot," keluh Bram pelan sambil meringis kesakitan, memejamkan matan
Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan







