مشاركة

Ruang Debu

مؤلف: KaoruTheLovers
last update تاريخ النشر: 2026-07-08 09:45:07

Deru mesin SUV hitam itu menggelegar di dalam basemen yang sunyi. Kiana tersentak ke belakang saat mobil mendadak melesat maju, ban mobil mencicit keras bergesekan dengan lantai beton.

"Bram! Kamu gila, ya?! Buka pintunya! Aku mau turun!" teriak Kiana, tangannya panik menggedor kaca jendela.

Bram tidak menjawab. Wajahnya yang semula tenang kini mengeras. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mobil dengan cepat melewati palang pintu parkir otomatis dan meluncur masuk ke jalan raya, membelah arus lalu lintas yang mulai padat.

"Bramantya! Kamu denger aku nggak sih?! Hentikan mobilnya!" Kiana meraih gagang pintu, mencoba membukanya paksa, namun sistem auto-lock menguncinya rapat.

"Tenang, Kiana," ucap Bram. Suaranya tidak lagi melembut seperti tadi. Nada suaranya datar, dingin, dan penuh perintah. "Kita perlu tempat yang lebih tenang untuk bicara. Di sini terlalu bising."

"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan! Kamu udah bohongin aku setahun ini! Buka kuncinya, Bram! Ini udah penculikan namanya!"

Bram terkekeh pendek, sebuah suara yang terdengar begitu asing dan mengerikan di telinga Kiana. "Penculikan? Jangan berlebihan. Aku cuma bawa pacarku jalan-jalan. Kita mau lihat rumah kita di BSD, ingat?"

Mendengar kata rumah, bulu kuduk Kiana langsung berdiri. Pria di sampingnya ini bukan lagi Arya yang penyayang dan penuh perhatian yang ia kenal selama setahun terakhir. Pria ini adalah orang asing yang manipulatif dan berbahaya.

Kiana meraba tasnya, mencari ponsel. Begitu jemarinya menyentuh benda pipih itu, sebuah tangan besar dengan cepat menyambar pergelangan tangannya. Cengkeraman Bram begitu kuat hingga Kiana meringis kesakitan.

"Lepas, Bram! Sakit!"

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, Bram merebut ponsel Kiana dengan tangan kirinya, lalu melempar benda itu ke kursi belakang.

"Jangan mulai, Kiana," kata Bram, suaranya kembali tenang, namun ketenangan itu justru terasa ribuan kali lebih mengancam. "Aku nggak mau ada gangguan. Handphone kamu biar di situ dulu."

"Kamu bener-bener sakit mental, ya?" Kiana menatap Bram dengan tatapan horor. Air matanya mengalir, bukan lagi karena sedih, melainkan karena rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. "Kamu punya istri, Bram! Punya anak! Pulang ke mereka! Lepasin aku!"

"Aku udah bilang, aku sayang kalian berdua!" Bram memukul kemudi dengan keras, membuat Kiana terlonjak. "Kenapa susah banget sih dipahami? Laura punya porsinya sendiri, dan kamu punya porsimu sendiri. Aku bisa penuhin semua kebutuhan kamu, Kiana. Rumah, uang, apa aja. Kamu cuma perlu tetep di samping aku. Tetep jadi Kiana-ku. Apa itu sesulit itu?"

"Itu menjijikkan, Bram!" sentak Kiana. "Aku bukan barang yang bisa kamu sekat-sekat fungsinya! Aku mau turun!"

Bram tidak membalas lagi. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil melaju cepat memasuki jalur tol arah Tangerang. Kiana memandang ke luar jendela dengan putus asa. Mobil-mobil lain berlalu-lalang di sekitar mereka, namun tidak ada satu pun yang tahu bahwa di dalam SUV mewah ini, ia sedang terjebak bersama seorang psikopat.

Otak Kiana berputar cepat, mencoba mencari cara untuk menyelamatkan diri. Berantem fisik di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam sama saja dengan bunuh diri. Ia harus menunggu mobil ini melambat atau berhenti.

Hampir empat puluh menit keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Mobil akhirnya keluar di gerbang tol BSD. Kiana memperhatikan jalanan sekitarnya. Bram membawa mobil masuk ke sebuah kawasan kluster perumahan elite yang baru dibangun. Suasananya masih sangat sepi, banyak rumah yang belum berpenghuni.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai bergaya modern minimalis yang masih tampak gres. Halamannya belum ditanami rumput, dan posisinya berada di ujung jalan, agak terisolasi dari rumah lainnya.

Bram mematikan mesin mobil. Bunyi klik terdengar saat ia membuka kunci pintu.

"Turun," perintah Bram.

Kiana tidak berpikir dua kali. Begitu kunci terbuka, ia langsung mendorong pintu mobil dan berniat langsung kabur keluar dari area kluster. Namun, gerakannya kalah cepat. Baru dua langkah Kiana berlari, Bram sudah berhasil mengejarnya. Pria itu memeluk pinggang Kiana dari belakang dan mengangkat tubuhnya paksa.

"Lepasin! Tolong! Siapa aja tolong!" Kiana menjerit sekuat tenaga, kakinya menendang-nendang ke udara.

"Nggak akan ada yang denger, Kiana. Di sini sepi," bisik Bram di telinganya.

Bram menyeret Kiana masuk ke dalam rumah baru tersebut. Pintu depan dibuka, dan Kiana langsung dihempaskan ke atas lantai ruang tamu yang masih berdebu. Pintu langsung ditutup kembali oleh Bram, lalu dikunci rapat dari dalam. Bunyi anak kunci yang berputar terdengar seperti vonis mati bagi Kiana.

Kiana mundur merayap di lantai hingga punggungnya membentur dinding. Ia menatap Bram yang kini berdiri di depannya, menjulang tinggi dengan ekspresi wajah yang benar-benar kosong.

"Ini rumah kita," kata Bram sambil merentangkan kedua tangannya, tersenyum tipis yang terlihat sangat mengerikan di mata Kiana. "Bagus, kan? Aku sengaja pilih yang paling pojok supaya kita punya privasi. Kamu bakal suka tinggal di sini."

"Kamu... kamu mau nyekap aku di sini?" suara Kiana bergetar hebat.

Bram berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Kiana. Ia mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Kiana yang berantakan, namun Kiana langsung memalingkan wajahnya dengan jijik. Bram tidak marah. Ia hanya tersenyum maklum.

"Bukan nyekap, Kiana. Hari ini kita hanya sedang melihat-lihat rumah kita, bagian mana yang memerlukan renovasi," ralat Bram lembut.

"Bram, tolong..." Kiana mulai memohon, mencoba menurunkan ego demi keselamatan dirinya. "Kita bicarain baik-baik. Aku nggak bakal laporin kamu ke istri kamu, aku janji. Tapi tolong biarin aku pulang."

Bram menatap Kiana lama, seolah sedang menimbang-nimbang. Ia lalu menghela napas panjang dan berdiri. "Aku tahu kamu cuma panik sekarang. Aku kasih kamu waktu buat sendiri dulu ya, biar tenang."

Bram berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan di bagian belakang rumah. Kiana melihat ini sebagai kesempatan. Ia menahan napas, bersiap untuk bangkit dan berlari menuju jendela kaca di ruang tamu untuk memecahkannya.

Namun, sebelum Kiana sempat berdiri, langkah Bram terhenti di depan sebuah pintu kayu tebal yang tampaknya menuju ke ruang bawah tanah atau gudang belakang. Bram membuka pintu itu, lalu meraba dinding untuk menyalakan saklar lampu di dalamnya.

Saat lampu di dalam ruangan itu menyala, samar-samar Kiana bisa melihat bagian dalam ruangan dari sudut posisinya duduk. Matanya mendadak membelalak sempurna, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.

Di dalam ruangan minim ventilasi itu, tidak ada perabotan rumah baru. Yang ada hanyalah sebuah kasur tanpa seprei di lantai. Namun, bukan itu yang membuat darah Kiana mendadak berdesir dingin.

Di dinding ruangan itu, terpampang belasan foto dirinya. Foto-foto yang diambil secara diam-diam dari jarak jauh. Foto saat ia sedang berbelanja, saat ia berada di depan apartemennya, bahkan foto saat ia sedang tidur di kamarnya ketika bersama Bram.

Bram berbalik, memergoki arah pandangan Kiana. Senyum di wajah pria itu lenyap, digantikan oleh tatapan mata elang yang begitu tajam dan menusuk.

"Ah, kamu sudah lihat, ya?" tanya Bram dengan nada suara yang mendadak berubah sangat dingin. Ia melangkah perlahan kembali mendekati Kiana, sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya—sebuah alat kejut listrik portabel yang mengeluarkan bunyi percikan daya yang menyengat udara. "Tadinya aku mau nunggu sampai kamu tenang, Kiana. Tapi sepertinya, kamu sudah melihat semua..”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Brondongku Psikopat   Dua Pilihan (2)

    Taman RSD Harapan Kasih seketika hening mencekam. Udara siang yang hangat mendadak membeku. Kiana berdiri terpaku, menatap jemari suaminya yang menggenggam erat tangan Arini."Bram... kamu bercanda, kan?" Kiana tertawa sumbang, air mata meluncur makin deras di pipinya yang tirus. "Kamu bercanda, kan?! Aku ini Kiana! Istri kamu!"Arya tak bergeming. Ia justru menyembunyikan Arini sedikit di belakang tubuhnya. "Maaf, Mbak. Saya mengerti Mbak sedang sedih dan kehilangan, tapi saya benar-benar tidak kenal Mbak. Saya Arya, bukan Bram.""Bramantya Yudha!" pekik Kiana histeris, melangkah maju hendak merampas tangan Arya, namun Jeremy bergerak cepat menahannya."Kiana, tenang dulu, Ki!" bisik Jeremy panik."Gimana aku bisa tenang, Jer?! Suamiku di depan mata, tapi dia pegang tangan perempuan lain dan bilang gak kenal aku!" Kiana menepis tangan Jeremy kasar, lalu menunjuk wajah Arini dengan telunjuk bergetar. "Kamu! Dokter macam apa kamu, hah?! Kenapa kamu tahan suami orang di sini padahal kam

  • Brondongku Psikopat   Dua Pilihan

    Malam di alun-alun kota terasa membeku bagi Arini. Berita tentang hilangnya pengusaha kaya bernama Bramantya Yudha terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Wajah gagah berbalut jas mewah di layar televisi besar itu adalah pria yang sama dengan yang kini sedang tersenyum menunggunya di seberang jalan dengan kaus polos bersahaja. Arya... atau Bramantya.Berhari-hari setelah malam itu, batin Arini berkecamuk hebat. Setiap kali ia memegang ponselnya, jemarinya gemetar hebat di atas layar. Haruskah ia menghubungi nomor darurat yang tertera di berita itu? Haruskah ia mengembalikan Bramantya kepada keluarganya di ibu kota?"Kalau aku kasih tahu mereka, Arya bakal pergi... Aku bakal kehilangan dia selamanya," bisik Arini pada cermin di kamar mandi rumah sakit. Matanya sembap, menahan beban rahasia yang teramat berat.Namun di sisi lain, nuraninya terus menjerit. Ada wanita lain di luar sana yang mungkin setiap malam menangis dan meratapi hilangnya sang suami. Arini berada di persimpanga

  • Brondongku Psikopat   Separuh Jiwa (5)

    Tiga bulan sudah berlalu. Tiga bulan yang terasa seperti tiga abad bagi Kiana.Sejak malam mengerikan di rumah sakit itu, l:saat pihak medis mengonfirmasi adanya kekeliruan data dan pasien Mr. X yang hilang, Bramantya benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada catatan rumah sakit lanjutan, tidak ada jejak di kediamannya.Setiap sudut kota, kantor polisi, hingga rumah sakit swasta di luar daerah sudah Kiana datangi bersama Jeremy dan Hendra. Hasilnya selalu sama, nihil."Masih nggak ada kabar, Kiana?" suara Jeremy memecah keheningan di ruang tamu rumah Kiana. Pria itu meletakkan secangkir teh hangat yang tak tersentuh di atas meja.Kiana hanya menggeleng pelan. Matanya sembap, lingkar hitam tebal menghiasi wajahnya yang kini kian tirus. Tangan wanitanya meremas erat jaket kesayangan Bram yang ditinggalkan di kursi."Jer, manusia seukuran Bram nggak mungkin hilang gitu aja tanpa ada yang menyembunyikan," gumam Kiana, suaranya parau dan bergetar. "Aku udah capek bolak-balik ke IG

  • Brondongku Psikopat   Separuh Jiwa (4)

    "Gunting! Cepetan!""Dokter, detak jantung pasien mendadak drop! Sirkulasi darahnya melemah!"Bunyi nyaring monitor EKG mendadak berubah mendatar di balik pintu tebal Ruang Operasi 02. Garis lurus menyala kaku di layar digital. Suara bip panjang bertonasi tinggi menyayat dinginnya udara malam—seolah mengumumkan secara mutlak bahwa sebuah nyawa baru saja melayang dan terlepas dari raganya.Kiana tersentak berdiri dari kursi tunggu. Seluruh persendian di lututnya gemetar hebat, tak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya yang melemah. "Jer... suara monitor itu... Jer, suara apa itu?!"Jeremy langsung memegang kedua bahu Kiana, berupaya menahannya meski wajah pria itu sendiri ikut pucat pasi bagai mayat. "Kiana, tenang... Tenang dulu, jangan langsung mengambil kesimpulan!""Gimana aku bisa tenang?!" jerit Kiana. Benteng pertahanannya runtuh, tangisnya pecah seketika menjadi raungan histeris. Ia menerjang pintu kedap suara itu dan memukul kacanya keras-keras dengan telapak tangannya yang gem

  • Brondongku Psikopat   Separu Jiwa (3)

    "Jer, Bram nggak ada! Dimana dia?!"Suara Kiana gemetar hebat di balik telepon, bercampur napasnya yang terengah-engah. Di dalam kamar kontrakan sempit bernomor 4B itu, Kiana berdiri mematung. Matanya menyapu sekeliling—cangkir kopi dingin, gantungan baju yang bergoyang pelan, dan sepi yang menghantam dadanya.Di ujung telepon, Jeremy terdiam sejenak. "Nggak mungkin, Kiana. Hendra baru aja komunikasi sama dia. Dia bilang Bram ada di sana.""Tapi dia nggak ada, Jeremy! Pintu kamar ini bahkan nggak dikunci!" jerit Kiana, suara tangisnya pecah. "Kamu sengaja, ya? Kamu sama Hendra sekongkol buat bohongin aku?!""Demi Tuhan, Kiana, aku nggak bohong!" nada suara Jeremy mulai naik, panik. "Hendra! Sini kamu!"Sayup-sayup Kiana mendengar suara Jeremy yang berteriak memanggil Hendra di ujung sana. Tak lama, suara Jeremy kembali terdengar, lebih berat dan cemas."Kiana, dengerin aku. Hendra baru aja coba hubungi nomor Bram lagi. Nomornya udah nggak aktif. Sama sekali.""HP-nya ada disini. Dalam

  • Brondongku Psikopat   Separuh Jiwa (2)

    Kopi hitam pekat di meja kayu kontrakan sempit itu sudah mendingin. Bram menyandarkan punggung ke kursi yang berderit nyaring, memandangi langit-langit kusam dengan tatapan kosong. Suara getar ponsel di atas meja memecah kesunyian malam. Bram menatap layarnya. Nama Hendra tertera di sana. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya."Halo, Hendra.""Selamat malam, Pak Bram," suara Hendra terdengar dari seberang. Ada helaan napas berat sebelum asistennya itu melanjutkan. "Semua dokumen balik nama aset dan perwalian anak-anak sudah saya serahkan langsung ke Bu Kiana."Bram memejamkan mata erat-erat. Jemarinya mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. "Kiana... gimana keadaannya?" tanya Bram pelan. Suaranya serak."Bu Kiana marah besar, Pak," jawab Hendra ragu-ragu. "Beliau menolak percaya begitu saja. Beliau terus mendesak dan nanya keberadaan Pak Bram sekarang.""Kamu nggak bilang apa-apa, kan?""Sama sekali tidak, Pak. Saya pegang janji sa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status