"Jer, Bram nggak ada! Dimana dia?!"Suara Kiana gemetar hebat di balik telepon, bercampur napasnya yang terengah-engah. Di dalam kamar kontrakan sempit bernomor 4B itu, Kiana berdiri mematung. Matanya menyapu sekeliling—cangkir kopi dingin, gantungan baju yang bergoyang pelan, dan sepi yang menghantam dadanya.Di ujung telepon, Jeremy terdiam sejenak. "Nggak mungkin, Kiana. Hendra baru aja komunikasi sama dia. Dia bilang Bram ada di sana.""Tapi dia nggak ada, Jeremy! Pintu kamar ini bahkan nggak dikunci!" jerit Kiana, suara tangisnya pecah. "Kamu sengaja, ya? Kamu sama Hendra sekongkol buat bohongin aku?!""Demi Tuhan, Kiana, aku nggak bohong!" nada suara Jeremy mulai naik, panik. "Hendra! Sini kamu!"Sayup-sayup Kiana mendengar suara Jeremy yang berteriak memanggil Hendra di ujung sana. Tak lama, suara Jeremy kembali terdengar, lebih berat dan cemas."Kiana, dengerin aku. Hendra baru aja coba hubungi nomor Bram lagi. Nomornya udah nggak aktif. Sama sekali.""HP-nya ada disini. Dalam
Last Updated : 2026-08-15 Read more