"Satu kali lagi orang-orangmu atau Kania menyentuh wilayah keluarga Mentari, aku pastikan seluruh investasi, kontrak brand, dan bisnismu di kota ini hancur total detik itu juga. Jangan pernah menguji batasku, Evan." Pesan itu masuk tepat pukul sebelas malam. Evan sedang duduk di tepi ranjang, tubuh masih basah keringat setelah bercinta dengan Kania, menatap layar ponselnya dengan mata menyipit. Kalimat singkat dari Dewa Mahendra terpampang jelas, dingin, dan penuh ancaman. Jari Evan mengepal. Rahangnya mengeras. Darahnya seolah mendidih. "Sialan…" geramnya pelan. "Dewa—si brengsek itu selalu berhasil satu langkah di depanku! Tsk, sial!" umpat Evan penuh rasa geram. Bagaimana dia tidak jengkel, hampir di tiap pencapaian Dewa selalu berada di atasnya. Selangkah lebih depan darinya. "Brengsek kamu Dewa!" desisnya. Di belakangnya, Kania masih terbaring telentang di atas kasur. Gaun tidur tipis berwarna hitam yang dia pakai sudah hampir terbuka sepenuhnya, tali bahunya turun, memperlih
Última atualização : 2026-09-07 Ler mais