“Aku ada janji bertemu klien penting satu jam lagi, Sayang. Gimana kalau kamu pergi sama Rina aja?” Mendengar penolakan itu, binar bahagia di wajah Kania seketika meredup. Alis cantiknya bertaut rapat. “Kamu nggak bisa batalin sebentar? Aku lagi butuh self-reward setelah seharian pusing mikirin Mas Dewa.” “Kania, dengerin aku!” kekeh Evan lembut. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mengusap pipi Kania dengan penuh kehangatan yang manipulatif. “Klien kali ini sangat krusial buat agensi kita. Lagipula, situasi di luar lagi panas gara-gara caption kamu tadi. Kalau aku jalan bareng kamu sekarang, takutnya ada wartawan atau paparazzi yang ngintip dan curiga.” “Tapi aku mau pergi sama kamu, Evan,” gumam Kania dengan nada merajuk. “Aku tahu, Sayang. Tapi demi keamanan posisimu, mending kamu jalan sama Rina! Jangan terlalu mencolok di luar. Pakai kacamata hitam, bawa mobil yang biasa, dan jangan buat kehebohan ekstra. Paham?” pesan Evan seraya mendaratkan kecupan singkat di dahi Kania. Kan
Última atualização : 2026-09-12 Ler mais