Mentari melangkah dengan kepala terus menunduk saat membawa nampan berisi cangkir kopi hitam panas ke ruang tamu. Setiap kali mendengar helaan napas berat Dewa yang duduk di sofa, dada Mentari rasanya bagai dihantam batu besar. Namun, ancaman Kania beberapa hari yang lalu masih menjadi alasan utama baginya untuk terus tetap profesional. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari pria itu. "Ini kopinya, Pak Dewa," desis Mentari lirih, meletakkan cangkir di atas meja kaca dengan tangan yang agak gemetar. Mentari buru-buru menarik tangannya kembali, membungkuk kaku tanpa berani menatap mata coklat gelap milik majikannya. "Saya permisi ke belakang dulu, Pak." Dewa menatap cangkir kopi di meja, lalu mengalihkan pandangannya pada punggung mungil Mentari yang bergerak cepat meninggalkan ruangan. "Tari, tunggu sebentar," panggil Dewa pelan. Langkah Mentari membeku, namun ia tidak berbalik. "I- iya Pak Dewa? Apa ada yang Bapak butuhkan?" "Tidak ada," balas
Last Updated : 2026-08-28 Read more