Begitu Naomi membuka pintu apartemen, aroma mentega cair dari adonan yang berasal dari pantry langsung menguar hangat. Naomi berdiri di ambang pintu dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.“Erul, kau datang di saat yang tepat!”Aku sempat terdiam. Rupanya, ia mengira aku adalah orang lain.Naomi baru menyadari kekeliruannya setelah mendongak. Tatapannya beralih kepadaku, lalu melebar sedikit.“Attila, ternyata kau. Masuklah.”Aku melangkah masuk sambil membawa buket mawar merah. Naomi menatap bunga-bunga itu sejenak, seolah berusaha menebak maksudku.“Apakah ini untukku?”Aku mengangguk kecil.“Aku melihat seorang nenek berjualan bunga. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau tidak. Namun, menurutku, mawar merah cocok denganmu.” Aku mengulurkan buket itu kepadanya. “Lagi pula, nenek itu memberiku potongan harga.”Naomi menerima bunga tersebut. Senyum samar menghiasi wajahnya, membuatku merasa lega karena keputusanku untuk membeli bunga ternyata tidak keliru.
Last Updated : 2026-09-21 Read more