FAZER LOGINAku mengetukkan jemari ke permukaan meja kaca, berusaha menahan gejolak yang sejak tadi mengusik pikiranku. Di seberang meja, seorang pria berpakaian serba gelap berdiri tegap sambil menunggu perintahku. Jaket hitamnya tampak lusuh, sementara topi yang dikenakannya menutupi sebagian wajahnya.“Naomi Saraswati, kau benar-benar berurusan dengan orang yang salah,” desisku.Senyum tipis tersungging di bibirku.Kalau saja Attila tidak berada di sana, mungkin kau sudah mati tenggelam. Anggap saja kau beruntung waktu itu.Pria di hadapanku mengulurkan sebuah map cokelat. Aku segera meraihnya.“Apa kau sudah menemukan data yang kuminta mengenai teman-teman Naomi?”“Sudah, Nona.”Ia meluruskan bahunya sebelum melanjutkan laporannya.“Ines Zafira sudah bertunangan dengan pria bernama Berk Chan Tekin. Pertunangan mereka dilaksanakan di Margaret River setelah Ines menyelesaikan studi S2-nya di University of New South Wales.”Tanganku terhenti di atas map."Tunggu ... mengapa nama itu terasa tidak
“Jadi, Pak Attila itu CEO? Ya Tuhan, apakah aku akan dipecat? Sepertinya sikapku sangat menyebalkan saat bertemu dengannya di lokasi proyek tempo hari,” gumam Ines sambil menatap nanar tumpukan berkas di atas meja.Aku, yang sedang mengecek approval material di kubikel sebelah, mendongak. Tawa kecil lolos dari bibirku.“Tidak. Menurutku, Pak Attila bukan orang yang mudah tersinggung.”“Semoga saja. Lalu, mengapa dia menyembunyikan identitasnya?”“Entahlah. Mungkin dia tidak ingin disorot media?”“Kalau tidak ingin disorot, dia nggak mungkin terjun ke kolam renang untuk menyelamatkanmu, Kak. Sepertinya dia menyukaimu.“Itu tidak masuk akal.”“Itu justru paling masuk akal. Bisa saja dia memang dijodohkan dengan Dilara, tetapi belum tentu dia mencintai perempuan itu. Mungkin dia sengaja menyembunyikan identitasnya karena ingin dekat dengan Kak Naomi. Sekaligus, itu caranya melindungi Kak Naomi agar tidak mendapat tekanan dari keluarga besarnya.”“Melindungi?” tanyaku ragu. “Kau terlalu ba
Dengan langkah lebar, aku menerobos kerumunan tamu yang masih sibuk berbisik-bisik, meninggalkan ruang utama rooftop menuju area terbuka di dekat kolam renang.Angin malam Sydney berembus kencang menerpa tubuhku. Aku berhenti sejenak, menatap riak air kolam yang jernih. Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tanganku dari belakang.“Naomi, dengarkan aku dulu,” pinta Attila dengan suara parau.Aku berbalik perlahan, lalu melepaskan tanganku. Kedua lenganku bersedekap di depan dada saat kutatap pria dalam setelan tuksedo itu dengan tatapan dingin.“Jadi, gopher itu malam ini berubah menjadi CEO. Sebaiknya penjelasanmu masuk akal, Pak Attila Donmez.”Attila menatapku. Mata hijaunya menyiratkan rasa bersalah yang begitu dalam.“Aku minta maaf, Naomi. Aku pikir ... kau tentu tidak akan sedekat ini denganku jika mengetahui identitas asliku.”Aku menahan napas sejenak sebelum maju selangkah.“Apa sebenarnya tujuan Anda?”Sesaat, aku membayangkan pria di depanku sebagai sosok
Malam itu, rooftop gedung pencakar langit di kawasan North Sydney CBD disulap menjadi tempat perayaan yang luar biasa megah. Lumina Atelier menggelar Year-End Corporate Party untuk merayakan pergantian tahun sekaligus penyerahan plakat kepada Naomi Saraswati sebagai pemenang sayembara global.Alunan musik jazz bertempo cepat mengisi udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan gelak tawa para undangan. Di bawah temaram lampu gantung, ratusan tamu berbalut busana elegan memenuhi area semi-terbuka. Sementara itu, di kejauhan, cahaya kota berpendar di permukaan Sydney Harbour, menambah kemeriahan malam.Aku sedang berada di tengah kerumunan ketika pergerakan di dekat pintu masuk utama menarik perhatianku.Langkahku terhenti.Naomi baru saja tiba. Di sampingnya berdiri seorang pria mengenakan setelan jas berwarna navy, lalu mereka melangkah bersama.Malam ini, Naomi menanggalkan pakaian kerja formal yang biasa dikenakannya. Sebagai gantinya, sebuah dress satin panjang berwarna hijau min
Begitu Naomi membuka pintu apartemen, aroma mentega cair dari adonan yang berasal dari pantry langsung menguar hangat. Naomi berdiri di ambang pintu dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.“Erul, kau datang di saat yang tepat!”Aku sempat terdiam. Rupanya, ia mengira aku adalah orang lain.Naomi baru menyadari kekeliruannya setelah mendongak. Tatapannya beralih kepadaku, lalu melebar sedikit.“Attila, ternyata kau. Masuklah.”Aku melangkah masuk sambil membawa buket mawar merah. Naomi menatap bunga-bunga itu sejenak, seolah berusaha menebak maksudku.“Apakah ini untukku?”Aku mengangguk kecil.“Aku melihat seorang nenek berjualan bunga. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau tidak. Namun, menurutku, mawar merah cocok denganmu.” Aku mengulurkan buket itu kepadanya. “Lagi pula, nenek itu memberiku potongan harga.”Naomi menerima bunga tersebut. Senyum samar menghiasi wajahnya, membuatku merasa lega karena keputusanku untuk membeli bunga ternyata tidak keliru.
“Di mana Attila Dönmez?”Aku menoleh ketika seorang perempuan baru saja menduduki kursi CEO. Ia menyilangkan kaki dengan santai, seolah kursi itu memang miliknya.“Nona Dilara, mengapa tidak memberi tahu saya kalau Anda akan berkunjung ke kantor hari ini?” tanyaku, berusaha menjaga nada bicara tetap tenang.Ia menyandarkan tubuhnya.“Apakah aku harus memberitahukanmu? Terserah aku mau datang kapan saja.”Aku menahan napas sejenak.“Di mana Attila, Pak Robinson?” tanyanya lagi.“Tuan Attila sedang ada urusan di luar kantor.”“Apakah dia sedang melakukan kunjungan ke lokasi proyek?”“Tuan—”Aku mengurungkan kalimatku. Tatapan Dilara membuatku memilih kata-kata dengan hati-hati.“Saya akan menghubungi Tuan Attila untuk memberitahukan bahwa Nona Dilara sedang mencarinya.”“Itu tidak perlu.” Ia bangkit dari kursi. “Aku ini calon istrinya. Sudah sewajarnya aku menemuinya.”“Tapi, Nona—”“Antarkan aku sekarang.”Nada suaranya berubah tegas hingga membuatku tak punya alasan untuk menolaknya.“







