Arumi membiarkan Elang tertidur. Ia menatap wajah pria yang berstatus suaminya yang tenang—meskipun masih pucat, napasnya sudah lebih teratur. Perlahan, ia melepaskan genggaman tangannya, lalu berjingkat keluar dari ruang perawatan. Ia berniat menemui Galih untuk menanyakan kondisi Elang lebih lanjut.Namun, baru saja ia melangkah ke koridor, seseorang menabrak bahunya. Cukup keras hingga Arumi terdorong ke samping.“Maaf, Mbak. Saya buru-buru,” kata wanita itu. Suaranya pelan, tapi ada nada gelisah di dalamnya.Arumi mengangguk, meskipun sedikit kesakitan. “Iya, tidak apa-apa, Mbak.”Ia menatap wanita itu sesaat—rambut panjang tergerai, wajah pucat, dan mata yang merah seperti baru menangis. Wanita itu mengenakan jaket abu-abu lusuh dan celana jeans yang kotor.Ada sesuatu di wajahnya yang membuat Arumi merasa tidak asing. Namun sebelum ia sempat mengingat, wanita itu sudah berjalan cepat menuju ujung koridor, menghilang di balik pintu ruang perawatan lain.Arumi mengerutkan dahi, la
最終更新日 : 2026-10-01 続きを読む