Elang akhirnya meninggalkan lapak Gatot dan kembali ke Pak Karto. Wajahnya masih tegang, tetapi ia berusaha untuk menenangkan diri. Ia tahu bahwa Gatot hanya ingin memancing emosinya. Dan ia tidak akan memberinya kepuasan itu. "Pak, daripada penjual nggak pada ambil barang kita, kita jual langsung aja ke pembeli. Anterin aku keliling, Pak.” Pak Karto mengerutkan dahi, sedikit terkejut. “Kita ... Jualan keliling, Mas Elang? Mas yakin?” “Iya. Nggak masalah, Pak. Yang penting barang kita laku dan kita bisa pulang cepat.” Pak Karto mengangguk, meskipun ragu. “Ya sudah. Ayo naik, Mas. Biar aku antar Mas Elang keliling.” Mereka melaju ke desa Luhur, desa tetangga yang cukup ramai. Elang memarkir mobil di tempat yang banyak dilalui orang, dekat pasar kecil dan pertigaan jalan. Ia turun, lalu berpura-pura sibuk menata dagangannya di bak mobil. Wortel, kubis, buncis, dan beberapa sayuran lain tersusun rapi. Tak lama kemudian, seorang ibu paruh baya menghampiri. “Mas, ini wortel
最終更新日 : 2026-09-14 続きを読む