Nadia mencoba mempertahankan senyum manisnya meski raut dingin Reyhan begitu menusuk. Dia menggeser piring nasi goreng hangat itu makin dekat ke sisi meja."Kamu sarapan dulu aja, Rey. Sedikit aja, ya? Kan kasihan sudah aku buatkan,” bujuk Nadia halus, menatap suaminya penuh harap.Reyhan melirik jam tangan pintarnya secara sekilas, lalu merapikan kerah kemejanya tanpa berniat menyentuh sendok sedikit pun."Aku buru-buru, Nad. Aku langsung berangkat," tolak Reyhan singkat dan dingin.Seketika dada Nadia bergejolak hebat. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun. Rasa gengsi dan amarah meluap dalam sekejap, dia yang tidak pernah menginjakkan kaki di dapur pagi-pagi, rela bangun subuh demi mengulek bumbu dan memasak hidangan ini, tapi penolakannya begitu mentah dan tanpa apresiasi.‘Sabar, Nadia... sabar! Ini baru langkah awal. Kamu harus mengendalikan dia lagi,’ bisik suara di dalam kepalanya, menahan emosi yang hampir saja meledak di depan Reyhan. Nadia menarik napas panjang, memaksak
Last Updated : 2026-10-14 Read more