Bab 151“Wildan …,” panggil Maya lirih di sela-sela mengunyah makanan.“Hm .... Apa?” Wildan menatap Maya dengan lembut. “Ada yang ingin kamu katakan, May?”Maya menelan makanannya pelan, lalu menatap Wildan dengan mata bulatnya yang berbinar. "Aku cuma mau bilang makasih. Makasih karena kamu udah sangat sabar ngadepin semua sifat keras kepalaku belakangan ini. Aku tahu aku sering banget marah dan ngusir kamu, tapi kamu tetap nepatin janji kamu buat terus jagain aku sama calon bayi kita."Wildan tersenyum hangat. Ia meletakkan mangkuk bubur di atas meja, lalu mengusap puncak kepala Maya dengan sayang."Udah jadi tugasku sebagai laki-laki kamu, May. Kamu nggak perlu berterima kasih," jawab Wildan tulus. "Yang paling penting sekarang kamu rileks, sehat, dan dedek bayinya juga tumbuh kuat. Itu udah lebih dari cukup buat aku. Kalau kamu senang, aku juga tenang."Mendengar itu, Maya tersenyum lega. Hatinya kini benar-benar damai.Namun, sementara kebahagiaan dan kedamaian perlahan mulai me
Last Updated : 2026-09-05 Read more