"Nggak," jawab Wildan cepat. “Aku nggak akan keluar dari sini.” Ia melangkah maju dan berdiri menjulang di depan ranjang. Matanya menatap Maya dengan nanar dan juga penuh penyesalan. "Dengerin aku baik-baik, Maya,” ucap Wildan, sengaja mengubah nada bicaranya menjadi lebih tinggi, untuk menunjukkan ketegasannya. "Aku nggak peduli kamu mau nangis, kamu mau mukul aku, atau kamu mau teriak benci sama aku tiap hari. Kamu tetep bakal ada di rumah ini. Kamu nggak akan aku biarin keluar satu langkah pun dari kamar ini." "Kamu egois! Kamu nyekap aku sama persis kayak yang dilakuin Mas Indra!" balas Maya dengan suara bergetar menahan marah. "Iya, aku egois!" potong Wildan tanpa ragu. "Karena kalau aku biarin kamu keluar, Indra bakal langsung nyulik kamu. Dia yang kirim email arsip pengadilan itu ke tablet kamu buat misahin kita dengan salah paham. Kamu pikir aku bakal ngebiarin rencana bajingan itu berhasil? Nggak akan pernah." Maya menatap nanar wajah pria di hadapannya. Hatinya benar
Last Updated : 2026-08-20 Read more