LOGINSetelah memastikan Alika cukup tenang, Arkana dan Satria bergegas menuju kantor polisi untuk meminta bantuan tim pelacak khusus. Sebelum berangkat, Arkana memerintahkan Alika untuk kembali ke kantor tempat yang lebih aman dan dijaga ketat, sekaligus menjadi pusat koordinasi semua laporan yang masuk dari berbagai arah.
"Kamu di sini saja ya, Al" pesan Satria lembut sambil menatap Alika lekat-lekat, tangannya menggenggam lembut bahu wanita itu. "Rendra akan menjagamu dan menyampaBelum sempat Dirgantara menyahut tawaran Arkana, suara sirine polisi tiba-tiba terdengar memecah keheningan malam. Bunyinya makin lama makin nyaring, bergema di seluruh kawasan pelabuhan, menandakan mereka sudah berada sangat dekat hanya hitungan detik lagi. Wajah Nadia seketika pucat pasi, darah seolah tersedot pergi dari wajahnya. Tangannya mencengkeram bahu kecil Arka begitu kuat sampai anak itu merintih pelan ketakutan. "Kamu berani menipu aku!" teriaknya histeris, matanya melotot tajam menatap Arkana. "Kamu sengaja panggil polisi diam-diam kan?! Kamu bilang kamu akan datang sendiri, ternyata kamu bawa pasukan! Kamu licik Arkana!" "Aku tidak—"BRAK Belum selesai Arkana menyangkal, pintu belakang gudang didobrak terbuka keras dengan bunyi berdebam yang menggetarkan dinding. Satria berlari masuk duluan, langkahnya lebar dan cepat, diikuti tim kepolisian yang bersenjata lengkap. Matanya langsung menyapu seluruh ruan
Mobil yang ditumpangi Arkana, Alika, Satria dan juga Rendra melaju membelah jalanan menuju kawasan pelabuhan tua dengan kecepatan tinggi namun tetap tenang, menjaga jarak aman agar tidak menarik perhatian siapa pun. Di dalam mobil, keheningan terasa pekat. masing-masing memendam perasaan cemas dan tekad di dadanya sendiri. Sesampainya di area pergudangan tua yang sepi, gelap, dan berdebu, Arkana mematikan mesin di balik tumpukan peti kayu kosong yang tinggi. Dia menoleh ke arah tiga orang yang setia menemaninya Alika, Satria, dan Rendra matanya tegas namun penuh kepedihan yang mendalam. "Dengarkan baik-baik semua yang akan saya katakan," katanya pelan namun berat, suaranya bergetar sedikit tertahan. "Aku yang akan masuk terlebih dulu ke dalam sendirian, persis seperti permintaan mereka. Kalau aku tak memberi tanda apa pun setelah lima belas menit berlalu, barulah kalian masuk. Aku nggak mau keberadaan kalian memancing emosi Nadia sampai dia nekat melukai Arka. Karena
Di ruang kerja Direktur yang luas itu, Alika masih duduk diam di kursi tamu, kedua tangannya saling meremas gelisah di pangkuan. Matanya tak lepas dari layar ponsel yang mati, seolah berharap ada pesan atau panggilan masuk yang memberitakan kabar putranya. Sementara itu, Rendra kembali sibuk memantau layar komputer satu per satu wajahnya serius, jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, memeriksa setiap titik di peta, setiap rekaman kamera lalu lintas, setiap laporan dari tim pelacak yang tersebar di lapangan. Sesekali ia melirik ke arah wanita itu dari sudut matanya. Melihat betapa tegarnya Alika berusaha menahan tangis, melihat bagaimana ia tetap duduk tenang meski hatinya pasti hancur lebur, melihat kecerdasannya yang terpancar bahkan di saat paling gelap sekalipun Rendra menghela napas pelan tanpa sadar. Ia tahu betul siapa dirinya: hanya asisten muda, tiga tahun lebih muda dari Alika, dan posisinya jelas harus tahu batas, harus menjaga jarak, h
Setelah memastikan Alika cukup tenang, Arkana dan Satria bergegas menuju kantor polisi untuk meminta bantuan tim pelacak khusus. Sebelum berangkat, Arkana memerintahkan Alika untuk kembali ke kantor tempat yang lebih aman dan dijaga ketat, sekaligus menjadi pusat koordinasi semua laporan yang masuk dari berbagai arah. "Kamu di sini saja ya, Al" pesan Satria lembut sambil menatap Alika lekat-lekat, tangannya menggenggam lembut bahu wanita itu. "Rendra akan menjagamu dan menyampaikan semua berita terbaru begitu ada kabar.Dan Kami akan bergerak secepat kilat, jangan pergi ke mana pun sendirian, ya? Janji?" Alika mengangguk pelan, meski dadanya terasa berat sekali harus menunggu diam saja tanpa bisa ikut mencari putranya. "Iya... aku janji. Aku akan akan menunggu kaliam di sini.Tapi Tolong... tolong bawa Arka pulang. Aku mohon."Rengek Alika "Pasti," jawab Arkana mantap, mengecup keningnya sekilas dengan tatapan penuh janji. "Kita akan menemuk
Di ruang kantor kepala sekolah, suasana masih terasa kacau balau. Udara di ruangan itu seolah berat dan sesak, menekan dada setiap orang yang ada di sana. Alika duduk di kursi tepi, tubuhnya tak berhenti menggigil, air mata jatuh tanpa henti membasahi pipi dan bajunya. Jari-jarinya mencengkeram lengan baju Satria begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih, seolah kalau ia melepaskan sedikit saja, dunianya akan runtuh seketika. "Arka nggak akan semudah itu mau pergi sama orang asing..." gumamnya berulang-ulang, matanya menatap kosong ke arah layar monitor yang baru saja dimatikan. "Anakku itu penakut, dia pasti berontak... pasti dia menangis memanggilku sekarang... pasti dia ketakutan sekali..."Alika terus terisak Satria merangkul bahu wanita itu erat, menepuk-nepuk pelan lengannya berusaha menenangkan, padahal di dalam hatinya sendiri rasa cemas juga meluap-luap. "Al, dengar aku baik-baik ya," ucapnya lembut
Siang itu matahari bersinar terik sekali di halaman sekolah. Udara panas menyengat kulit, tapi tak mengurangi keceriaan Arka yang mukanya berseri-seri, matanya berbinar seolah pesawat itu benar-benar bisa terbang membawanya ke langit. Alika tadi pagi harus izin sebentar ke kantor menyelesaikan berkas penting yang tak bisa ditunda, jadi ia berpesan pada Satria yang berjanji akan datang menjemput tepat waktu. Di kantor, ruang kerja Direktur Utama terasa sejuk dan nyaman, namun suasananya sibuk. Alika berdiri di samping meja pimpinan, menunjuk catatan di berkas sambil menjelaskan poin penting rapat besok. Jari telunjuknya melingkar di atas garis yang digambar dengan stabilo kuning. "Jadi Pak, keputusan akhir soal anggaran itu harus disepakati hari ini supaya tim di lapangan bisa mulai kerja besok pagi," jelasnya pelan namun tegas. "Kalau ditunda lagi, proyek bisa molor dan biayanya membengkak. Kita sudah tidak punya waktu u







