"Apaan sih, Chintya! Diam!" kata Kirana pelan, suaranya gemetar, malu, tapi manis. Matanya melihat Franz sekilas, lalu langsung menunduk melihat piring.Franz yang minum es teh, hampir tersedak, batuk kecil, menaruh gelas, melihat Kirana, lalu melihat piringnya lagi, pura-pura makan tempe goreng biar tidak kelihatan malu juga. Telinga Franz yang biasanya pucat, sekarang merah.Macho yang melihat itu, untuk pertama kali setelah kecelakaan di Puncak, setelah tiga tahun benci, senyum. Senyum kecil, tapi senyum asli, bukan senyum tahan sakit. Dia melihat Franz yang dulu anak didiknya, yatim piatu dari Jakarta, yang dulu dia ajari cara bertahan hidup waktu jadi gigolo, sekarang jatuh cinta sama adiknya sendiri di belakang warung yang ramai.Belum selesai ketawa karena Chintya, dari warung depan ada suara motor matic berhenti. Suara perempuan, agak keras."Kirana! Kirana! Aku bawain catatan kampus yang kemarin! Dosen killer itu ngasih tugas lagi!"Semua melihat ke depan.Seorang perempuan m
Última atualização : 2026-09-13 Ler mais