"Aduh, Non Marfa kok tanya begitu, sih?" Bi Ratih tampak canggung. Ia bingung harus menjawab apa agar tidak salah bicara. Melihat raut ragu itu, Marfa langsung paham. "Sudahlah, Bi. Tidak usah dijawab." Marfa tetap tersenyum tipis, lalu memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman. "Non Marfa," Bi Ratih akhirnya memberanikan diri bersuara. "Saya tidak tahu pasti. Dari dulu, Pak Liam itu susah ditebak keputusannya. Tapi yang Saya lihat sekarang, Pak Liam perhatian sekali sama Non Marfa dan Vian. Hal yang jarang banget beliau tunjukkan ke orang lain." Benarkah? Marfa enggan terlalu percaya. Namun, kata-kata Bi Ratih pelan-pelan menerbitkan hangat dan harapan kecil di dadanya. *** Hari ini jadwal Marfa ke rumah sakit untuk memastikan keberhasilan program bayi tabungnya. Ia berangkat sendiri setelah mengantar Vian ke sekolah, sebab Liam sudah bertugas sejak pagi. Setibanya di sana, seorang perawat langsung menyapa dengan ramah. "Bu Marfa," perawat itu tersenyum hangat. "Sa
Última actualización : 2026-09-25 Leer más