Langkah kaki kedua perawat itu akhirnya menjauh dan pintu ruangan tertutup pelan. Begitu suasana benar-benar hening, Marfa perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar pemulihan dengan pandangan kabur oleh genangan air mata. Tak lama Liam masuk, ia berjalan seperti biasa, mendekati ranjang lalu duduk di kursi. "Kamu merasa ada yang tidak nyaman?" tanyanya memperhatikan kondisi Marfa. Marfa menggeleng pelan. "Tidak, hanya masih sedikit pusing, mungkin efek obat bius.""Kalau begitu, istirahatlah dulu. Aku kembali bekerja, dua jam lagi aku ke sini," ujar Liam sembari melihat jam di tangannya. "Kalau ada sesuatu panggil saja," lanjutnya sebelum benar-benar pergi. "Baik, Mas." Marfa mengangguk patuh. Liam masih berdiri, beberapa detik ia hanya diam menatap Marfa seolah ragu hendak melakukan sesuatu, dan akhirnya ia lakukan sebelum melangkah pergi Liam membungkukkan badannya, tiba-tiba saja mengecup kening Marfa, seolah sedang menyalurkan ketenangan di sana. Mata Marfa m
Last Updated : 2026-09-24 Read more