Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 95 Dia Bisa Memberimu Anak?

Share

Bab 95 Dia Bisa Memberimu Anak?

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-09-26 21:48:25

"Perhatikan langkahmu Marfa." Liam terus berjalan di belakang wanita itu. Sedikit saja langkah Marfa goyah, Liam akan memperingatkannya.

Diam-diam Marfa menahan senyum. "Mas takut aku jatuh? Kalau begitu kenapa tidak memegangiku saja?"

Marfa berinisiatif menghentikan langkahnya lalu meraih lengan Liam dan memegangnya.

"Kamu memang harus lebih hati-hati mulai sekarang," ujar Liam tidak melepas tangan Marfa, ia biarkan istrinya berpegangan tangan.

Mereka berjalan menuju keluar rumah sakit, Lia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 95 Hadiah Kecil

    Meski kecil, Vian sangat peka. Marfa tidak perlu cemas saat ada Vian, anak itu sangat mengerti perasaanya. Andai boleh, Marfa juga enggan bertemu Alena, karena setiap bertemu tatap dengannya ada rasa sesak yang tiba-tiba meremas dadanya. ***Marfa sudah bersiap dengan Vian, Liam pun sudah memarkirkan mobilnya di depan. Liam menepati janjinya, karena itu Marfa menekan egonya yang sejak siang tadi gelisah karena teringat dengan tatapan sendu Alena yang seakan tidak terima Liam bersamanya. "Papa, apa malam ini hanya bertiga?" tanya Anak itu dengan langkah meloncat ke dekat Liam. Liam mengangguk. "Besok Kak Lio akan datang, malam ini sama Papa dan Mama saja." Vian mengangguk paham. Liam bicara seperti itu karena sebelumnya Marfa mengirim pesan untuk membawa Lio. Ketiganya menunju ke sebuah restoran yang sudah Liam reservasi. Restoran bintang lima yang menyediakan banyak menu dan sudah terkenal di ibu kota. Pelayan menyambut mereka lalu menuntun Marfa dan Vian ke private room yang te

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 95 Dia Bisa Memberimu Anak?

    "Perhatikan langkahmu Marfa." Liam terus berjalan di belakang wanita itu. Sedikit saja langkah Marfa goyah, Liam akan memperingatkannya. Diam-diam Marfa menahan senyum. "Mas takut aku jatuh? Kalau begitu kenapa tidak memegangiku saja?"Marfa berinisiatif menghentikan langkahnya lalu meraih lengan Liam dan memegangnya. "Kamu memang harus lebih hati-hati mulai sekarang," ujar Liam tidak melepas tangan Marfa, ia biarkan istrinya berpegangan tangan. Mereka berjalan menuju keluar rumah sakit, Liam sudah memesan taksi untuk mengantar Marfa pulang. Saat di lobi, tanpa diduga mereka berpapasan dengan Alena. Tepat beberapa langkah mereka terhenti karena posisi Alena tepat berada di garis lurus Liam dan Marfa. Reflek tatapan Alena tertuju pada tangan itu, terlihat sangat mesra. Ia pun membatin, ternyata Liam sudah makin terang-terangan sekarang. Alena maju selangkah lalu menatap Liam dengan senyum dan tatapan yang dalam. Ekspresi Liam tetap datar dan tak terbaca, namun jemarinya perlahan

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 93 Kabar Bahagia

    ​"Aduh, Non Marfa kok tanya begitu, sih?" Bi Ratih tampak canggung. Ia bingung harus menjawab apa agar tidak salah bicara. ​Melihat raut ragu itu, Marfa langsung paham. ​"Sudahlah, Bi. Tidak usah dijawab." Marfa tetap tersenyum tipis, lalu memperbaiki posisi tidurnya agar lebih nyaman. ​"Non Marfa," Bi Ratih akhirnya memberanikan diri bersuara. "Saya tidak tahu pasti. Dari dulu, Pak Liam itu susah ditebak keputusannya. Tapi yang Saya lihat sekarang, Pak Liam perhatian sekali sama Non Marfa dan Vian. Hal yang jarang banget beliau tunjukkan ke orang lain." ​Benarkah? Marfa enggan terlalu percaya. Namun, kata-kata Bi Ratih pelan-pelan menerbitkan hangat dan harapan kecil di dadanya. *** ​Hari ini jadwal Marfa ke rumah sakit untuk memastikan keberhasilan program bayi tabungnya. Ia berangkat sendiri setelah mengantar Vian ke sekolah, sebab Liam sudah bertugas sejak pagi. ​Setibanya di sana, seorang perawat langsung menyapa dengan ramah. ​"Bu Marfa," perawat itu tersenyum hangat. "Sa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 92 Menceraikanku

    "Siapa nama anaknya Bu wiwit tadi?" tanya Marfa saat ia sadar nama itu cukup familiar. "Tyo, nama lengkapnya aku lupa. Empat tahun lalu kalo nggak salah Bu Wiwit jadiin anak muridnya sebagai anak angkat karena cukup berprestasi.""Oh." Marfa hanya mengangguk, ia ingat dengan seseorang yang menolong Vian saat di mall, namanya juga Tyo. Tapi nama itu bisa saja kebetulan sama. Sampai di rumah, ada mobil Lisya yang terparkir di halaman. Marfa menarik napas sebelum berjalan menuju pintu utama. Ia memenangkan diri lebih dulu, karena setiap kedatangan Lisya selalu saja membuat perasaannya tak enak. Pasti ada hal pedas yang akan dikatakannya. Begitu Marfa masuk, wanita paruh baya itu langsung menatapnya dengan tajam. "Marfa, kenapa kamu beraktivitas di luar? Bukankah sebaiknya banyak istirahat di rumah. " Lisya menatap Marfa dengan tatapan memindai. "Kudengar soal bayi tabung itu kalian sedang dalam proses melakukannya."Marfa mengangguk. "Benar, Bu. Aku pergi sudah seatas izin Mas Liam.

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 91 Pemilik Bonsai yang Membuat Marfa Penasaran

    "Yang itu?" Rayyan tampak berpikir, lalu melihat sekitar. Marfa tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ukiran samar itu. Rasa penasaran yang mendesak membuatnya memutar tubuh menuju Rayyan.​"Rayyan, tolong bantu aku. Bisakah kita cari tahu siapa pemilik bonsai ini?" pinta Marfa dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan.​Melihat raut wajah Marfa yang begitu serius, Rayyan langsung mengangguk. Tanpa membuang waktu, ia membawa Marfa menuju stan panitia untuk mengecek data registrasi peserta pameran.​Tak butuh waktu lama bagi Rayyan untuk menemukan perwakilan dari pemilik bonsai tersebut. Namun sayang, sosok yang berjaga di dekat area pameran itu bukanlah sang pemilik asli, melainkan hanya seorang perwakilan atau orang suruhan.​Rayyan mendatangi pria bersetelan rapi itu dan bertanya mewakili Marfa. "Permisi, Pak. Bolehkah kami tahu siapa pemilik asli dari bonsai beringin ini?"​Pria itu tersenyum sopan sembari menggeleng pelan. "Maaf, Mas, Mbak. Majikan saya tidak bisa hadir la

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 90 Familiar

    "Eh, liat liat itu! Mereka udah pergi!" Nana menyenggol sikut Marfa yang sejak tadi bengong. Marfa kembali menoleh, ia lihat yang melabrak Hilya sudah pergi sedangkan Hilya dan temannya tampak sangat kesal dan menghentak-hentakan kaki. "Udah kita pergi ajah yuk! Kan niatnya mau belanja hari ini," ajak Nana kembali menggandeng lengan Marfa. Keduanya menghabiskan cukup waktu sampai jam pulang anak-anak. Nana bahkan bersikeras mengantar Marfa dan Vian sampai rumah. "Oh ya, ini undangan buat kamu. Rayyan bilang kamu harus datang karena Bu Wiwit kusus mengundangmu ke acara itu." Marfa melihat kertas undangan yang Nana sodorkan—sebuah acara pameran bonsai bertaraf internasional. Acara itu pasti sangat bergengsi dan dihadiri orang-orang dari berbagai mancanegara. Marfa tersenyum tipis, sejak kemarin ia bahkan lupa setiap kali ada acara seperti itu yang Rayyan katakan. Sepertinya kali ini ia benar-benar harus melihatnya. "Kalau Mas Liam mengizinkan aku pasti datang." Mendengarnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status