"Mama sudah membaik, Vian. Mama yang akan antar Vian besok," sela Marfa cepat. Perlahan namun pasti, Marfa menarik tangannya keluar dari bawah telapak tangan Liam."Tapi..." Bibir mungil Vian langsung cemberut. Anak itu melirik papanya dengan raut kecewa, berharap ada pembelaan.Liam tak melepas pandangannya dari Marfa. Melihat penolakan halus namun tegas dari istrinya, sudut bibir lelaki itu mendadak mengencang tipis."Baiklah kalau begitu, besok kamu dan Mama, Papa yang antar ke sekolah," potong Liam tiba-tiba, mengambil keputusan sepihak."Asyik!" seru Vian riang, langsung memeluk lengan Liam dengan gembira.Marfa menoleh cepat. Matanya membelalak, melemparkan tatapan protes ke arah suaminya. Ia sama sekali tidak memberi persetujuan, dan Liam tahu betul akan hal itu. Namun kali ini, gilirannya yang bersikap tak acuh. Tanpa membalas tatapan protes Marfa sedikit pun, Liam memiringkan tubuhnya menghadap Vian. Ia mengusap lembut kepala putranya seraya menepuk-nepuk punggung ana
Last Updated : 2026-08-31 Read more