“Ma, cukup! Aku sibuk. Aku mohon sekarang juga Mama pergi dari rumahku!” bentak Diana, dadanya mulai naik turun menahan amarah.Widya tiba-tiba tersenyum manis, lalu meraih tangan Diana, mencoba membujuk putrinya itu dengan nada melas. “Nak … dulu Mama yang membesarkan kalian seorang diri setelah ayahmu pergi. Sekarang kamu sudah sukses dan jadi pemilik perusahaan, giliran kamu yang membahagiakan Mama. Jangan jadi anak durhaka.” Darah Diana kembali bergemuruh hebat. Rasa sesak dan kekesalan yang menumpuk bertahun-tahun di dadanya, kini sudah hampir mencapai batasnya.“Ma, selama ini aku kurang baik apa sama Mama?!” Mata Diana mulai berkabut oleh air mata. “Semua hal yang Mama mau selalu aku penuhi! Tapi tidak dengan cara seperti ini, Ma! Mama berfoya-foya untuk hal yang tidak jelas, belum lagi ditambah beban dari Kakak. Aku ini anak kandung Mama, bukan mesin ATM berjalan!” Cairan hangat itu lolos di pipi Diana. “Sekarang juga Mama pergi … atau uang lima juta ini, aku ambil lagi!” anc
Dernière mise à jour : 2026-08-13 Read More