Diana menoleh ke depan sana, wajahnya tersorot lampu mobil, sosok Rowan berdiri tegak dengan satu tangan di dalam saku celananya. Tatapan pria itu lurus mengunci mobil Arsen. Meski jarak mereka terpisah beberapa meter, ketegangan di wajah Rowan terasa begitu nyata.“Iya,” jawab Diana pelan, berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar biasa saja. “Nggak apa-apa, Sen. Kamu langsung pulang saja. Ini sudah larut malam.”Arsen tidak langsung melajukan mobilnya. Pria itu menatap Rowan sejenak, lalu kembali melirik Diana. Kerutan di dahinya menandakan rasa penasaran yang besar, namun ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Arsen tahu batasannya.“Kamu yakin nggak apa-apa? Perlu aku temani sampai masuk rumah?” tawar Arsen lembut.Diana menggeleng sambil melepaskan sabuk pengamannya. “Nggak usah, Sen. Aku bisa sendiri. Makasih banyak ya buat hari ini.”“Sama-sama. Istirahatlah, Diana.” Arsen tersenyum tipis.Diana membuka pintu mobil lalu turun. Begitu kakinya menapak di tanah, suara
Dernière mise à jour : 2026-09-22 Read More