Menyadari beberapa tetangga mulai berdatangan karena keributan yang ditimbulkan sang kakak, Diana merasa tidak nyaman. Ia segera meraih lengan Rowan, lalu berbisik pelan.“Biar aku selesaikan dengan Kak Hendra di dalam. Kamu tidak perlu ikut campur urusan keluargaku lagi, Rowan. Aku sudah banyak merepotkanmu.”Rowan menoleh, menatap lekat mata Diana. “Urusanmu, urusanku juga, Di,” jawab Rowan mutlak, tidak dapat dibantah.“Hei, kalian berdua! Jangan bisik-bisik, aku masih di sini!” seru Hendra, jengkel karena diabaikan. Ia kembali menunjuk wajah Rowan sebelum menatap tajam adiknya. “Diana, kamu sudah berani membantah Kakak?”Diana menghela napas, mencoba meredam emosinya yang hampir meledak. “Kak Hendra, sebaiknya pergi sekarang. Sebelum aku memanggil polisi untuk menyeret Kakak dari sini.”Dahi Hendra mengerut kesal. “Yang harus kamu usir itu bule mokondo ini! Bukan aku, Di! Urusanku denganmu belum selesai!”“Kalau kedatangan Kakak kemari hanya untuk membahas soal mama dan uang, aku t
Dernière mise à jour : 2026-08-25 Read More