INICIAR SESIÓNDimas mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, senyum tipis terlukis di wajah sawo matangnya. "Ayah dan kakakku menganggap seni hanya buang-buang waktu. Mereka lebih sibuk mengembangkan bisnis yang lain, hanya aku ... di keluarga Jayaningrat ... yang masih menggeluti seni rupa. Itu artinya ... jika ada yang membantuku, mungkin hantu dari kakekku, atau kakek buyutku."Jawaban Dimas membuat semua orang terbengong. "Lalu ... jika hantu itu benar ada, harusnya kalian berfikir 10 kali sebelum menggangguku. Mungkin saja nanti malam arwah kakekku akan mendatangi kalian!" Mendengar kata hantu, bulu kuduk Hendra meremang, tapi ia tak kau terlihat semua orang kalau dirinya takut dengan hantu. "Hantu itu cuma mitos, tidak pernah ada!""Kalau sudah tahu, kenapa masih menyudutkanku?" imbuh Dimas dengan senyum penuh arti. Hendra menelan ludah, ia tetap tak mau kalah. "Kalau begitu, ayo tunjukan karya senimu yang hancur itu!"Ayo, Dimas! Tunjukan bahwa apa yang mereka katakan itu tidak benar. Bukti
Tangan Dimas tiba-tiba terasa gatal, ingin sekali ia meraih dua gundukan kenyal di depan matanya. Tapi ia segera menggeleng. Mencoba tetap mempertahankan kewarasaanya. Dimas sengaja membuang muka. "Keluarlah, Mbak. Tidak pantas seorang wanita bersuami masuk ke kamar pria lain!"Ratih tampak menggertakan gigi, kenapa Dimas seolah sengaja menjatuhkan harga dirinya? Apakah di mata Dimas ia serendah itu? Ratih menjauhkan diri, menatapnya dengan sorot yang sulit Dimas mengerti. Dimas tahu, ia sudah melukai hati wanita itu. Tapi ia tak bisa membiarkan skandal mereka terus berlanjut. Ratih masih sah sebagai istri kakak tirinya, bukan wanita lajang. Karena jika Ratih lajang, maka ia pasti akan mengejarnya sampai dapat. "Baiklah, Dimas. Tapi aku akan memastikan ...," ia menyentuh perut ratanya. "Janin yang akan tumbuh di rahimku ini ... bukanlah hasil bayi tabung!"Dimas menolehnya seketika, apa niat kakak iparnya itu? Apakah wanita itu masih ingin mencari cara untuk berhasil menyeret mer
Orang-orang itu mengelilingi motornya, sebagian memang bertampang preman. Dimas masih tenang di atas motornya. Ini di luar kampus, juga sudah bukan jam kuliah, jadi kalau ia berkelahi itu tidak akan melanggar aturan. Lagipula yang ia lawan adalah preman yang mungkin juga suka bikin onar. "Kalian suruhan siapa? Hendra Anggoro atau Ivan Setiawan? tanya Dimas. Tapi sebelum mereka menjawab, ia sudah kembali bersuara. "Tak peduli kalian suruhan siapa? Yang jelas ... kebetulan sekali aku sedang butuh partner untuk latihan beladiri!" ia menuruni motornya dengan santai. Menaruh tas punggungnya di salah satu stang motor. Lalu meregangkan otot. "Rupanya bocah terbuang dari keluarga Jayaningrat sudah berani sok jagoan!" seru salah satu yang sepertinya adalah ketua. "Bos, langsung sikat saja!" sahut anak buahnya. Dimas hanya tersenyum tipis, ketika beberapa orang datang menyerang, dengan mudah ia menghindari serangan itu. Pukulan dan tendangan ia tangkis dengan tangan, lalu membalas puku
"Kamu—!"Urat di kening Hendra bertonjolan seketika. Hinaan itu meremukkan harga dirinya di depan kawan-kawannya. Murka yang tak tertahankan membuat mata Hendra berkilat jahat."Vito! Pegang si bangsat ini!" perintah Hendra beringas. "Biar kuhancurkan kayu sampah yang dia sembunyikan di balik kain hitam ini! Kita lihat seberapa belagu dia kalau karyanya sudah jadi serbuk!"Vito dan dua anak buahnya langsung melompat maju, berusaha mencengkeram kedua lengan Dimas. Namun, sebelum jemari mereka menyentuh kulit Dimas, aura Wahyu Candradimuko di dalam tubuh Dimas menyentak keras. Tubuh Dimas kokoh bagai tiang jati tua—sekali kibasan lengan kekarnya membuat Vito dan dua temannya terdorong mundur hingga terhuyung.Hendra tidak peduli. Ia menerjang maju menuju papan relief, tangannya sudah terulur berniat merenggut kain hitam dan menghempaskan ukiran kayu jati itu ke lantai marmer.Tapi Dimas rupanya lebih kuat dari yang mereka duga, ia berhasil melawan dan berkelahi dengan tiga teman He
Cengkeraman jemari Baskoro pada lingkar kemudi menyertai retakan pada harga dirinya. Wajah pria berkuasa itu seketika berubah dari pucat menjadi kelam ditelan amarah yang mendidih. Kalimat Ratih yang menyebut anak mereka kelak akan memiliki mata yang mirip dengan Dimas menghantam tepat di pusat ketakutan terbesarnya sebagai seorang pria.Ia menoleh kasar ke arah Ratih, matanya menancap tajam penuh intimidasi."Mungkin itu memang benih Dimas, Ratih! Tapi itu tetap anak KITA!" bisik Baskoro dengan suara parau yang bergetar menahan murka. "Setelah kamu positif hamil nanti, jangan pernah temui Dimas lagi! Anak itu tidak boleh mirip dengan Dimas sedikit pun ... kamu mengerti?!"Ratih menyunggingkan senyum miring, menatap suaminya dengan pandangan meremehkan yang amat dingin."Kangmas ini aneh," sahut Ratih santai, suaranya terdengar begitu tenang namun menusuk. "Bagaimana mungkin tidak boleh mirip dengan Dimas? Mau bagaimanapun juga, Dimas itu ayah biologisnya!"CIIIITTT!Baskoro m
Udara pagi yang basah oleh embun tidak mampu memusnahkan ketegangan yang menggantung rapat di antara ketiga orang yang duduk di dalam sedan hitam milik Baskoro. Baskoro memegang kemudi dengan gaya angkuh seperti biasanya, mengenakan kemeja batik eksklusif yang rapi. Namun, di balik kerah tinggi kemeja itu, Ratih tahu persis ada bekas cakaran merah di bawah bahu suaminya—jejak kemesraan murahan Baskoro bersama Anggita, wanita LC yang dipelihara suaminya secara sembunyi-sembunyi. Ratih duduk di kursi penumpang depan, menatap lurus ke kaca depan dengan wajah tenang tanpa ekspresi. Hatinya penuh dengan racun kepahitan. Berapa tahun ia menahan hinaan Ibu Rahayu, dicap sebagai wanita mandul yang tak berguna, sementara suaminya sendiri asyik menghabiskan vitalitas dan kehangatannya bersama seorang wanita malam? Kemandulan Baskoro memang nyata akibat pesugihan, tetapi dinginnya Baskoro di atas ranjang bersama Ratih terjadi karena pria itu sudah kehabisan tenaga bersama Anggita. Melalui k







