Share

6. Si Pengecut Dimas

Author: Y Airy
last update publish date: 2026-08-07 12:01:21

“Buahi aku, Dimas_”

​Bisikan Ratih di hulu telinganya menyulut sisi jantan Dimas yang paling liar. Kata-kata itu menghantam egonya dengan telak.

Selama bertahun-tahun di rumah joglo ini, Dimas hanya dianggap sampah tak berguna, produk gagal yang selalu diinjak-injak oleh Baskoro dan ibunya. Namun malam ini, kenyataan pahit itu berbalik. Dialah satu-satunya pria sejati yang bisa menyelamatkan trah Jayaningrat agar tidak punah.

​Baskoro buntu. Pria kaku dan angkuh itu sampai kapan pun tidak akan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   16. Keluarga Ini Masih Memiliki Anak Laki-laki Lagi

    "Bayi tabung?! Kamu jangan gila, Nyimas!" bentak Baskoro dengan suara bariton yang meninggi, memecah heningnya sore. "Keluarga kita ini trah bangsawan! Mau ditaruh di mana muka keluarga Jayaningrat kalau sampai orang-orang tahu kita memakai cara medis seperti itu?!"Ratih yang berdiri di hadapannya sama sekali tidak gentar. Alih-alih menunduk takut seperti biasa, Ratih justru menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin. Senyum yang sarat akan cemoohan mendalam."Kenapa, Kangmas?" bisik Ratih, suaranya pelan namun sanggup menembus jantung Baskoro bagai belati. "Kangmas takut? Takut kalau semua orang akhirnya tahu ... kalau Kangmas itu sebenarnya mandul?""Kamu!" Urat-urat di leher Baskoro bertonjolan seketika."Ya, aku sudah lama tahu, Kangmas!" potong Ratih tanpa membiarkan suaminya bersuara. Matanya berkilat pekat oleh keputusasaan yang bertahun-tahun ia pendam. "Aku tahu rahasia kelam di balik kesuksesanmu. Kangmas mengorbankan kemampuan untuk memiliki keturunan demi membangkitkan

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   15. Undangan Paltinum

    ​Dimas mengepalkan tangannya rapat-rapat di sisi tubuh,, sementara gelak tawa mengejek menggema di antara Hendra dan teman-temannya. Bagi orang-orang kaya yang dimanjakan kekuasaan seperti mereka, menindas dan menginjak-injak harga diri Dimas adalah sebuah hiburan yang sangat menyenangkan."Wah ... bagus sekali itu, Hen. Gimana Dimas, ini kesempatan langka loh!" sahut Lestia. "Iya, Dimas. Kapan lagi Hendra berbaik hati begini sama kamu!" tambah Vito. ​Dimas mulai muak. Ada dorongan kanuragan di dalam jiwanya yang mendesak untuk meremukkan rahang mereka satu per satu saat ini juga. Namun, akal sehatnya menahan otot-ototnya. Jika ia tidak ingin menambah masalah pada status akademisnya yang sudah di ujung tanduk, ia tidak boleh menghajar Hendra di area kampus. Ia akan menunggu kesempatan yang tepat saat mereka berada di luar gerbang universitas.​"Tidak perlu. Aku masih bisa mengurus diriku sendiri!" jawab Dimas datar dan dingin, lalu melenggang pergi meninggalkan kerumunan itu.​Jawab

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   14. Jadi Babuku Satu Bulan

    Dimas menatap sosok berkabut putih itu dengan mata membelalak. Sosok wanita cantik bermata lembut yang sangat ia rindukan sepanjang hidupnya.​"Ibu ...," desis Dimas amat lirih.​Sosok Arimbi, ibu kandungnya menggelengkan kepala pelan, seolah melarang Dimas melakukan tindakan emosional yang gegabah. Setelah raut wajah Dimas berubah sendu dan emosinya mereda, sosok wanita itu tersenyum manis lalu perlahan memudar, menghilang ditelan udara kosong.​Dimas melangkah impulsif menghampiri sudut ruangan tempat sosok itu tadi berdiri, namun yang tersisa hanyalah ruang kosong bernuansa dingin."Ibu!"​"Kamu sudah gila ya, Dimas?!" bentak Ibu Rahayu melihat tingkah aneh Dimas. "Tidak ada siapa-siapa di sana! Apalagi ibumu! Jangan pernah kamu sebut-sebut lagi wanita itu di rumah ini!"​Mendengar penghinaan itu, Dimas mengetatkan kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit dan amarah beradu di dadanya. Ia ingin meluapkan murkanya, tapi ingatan akan senyum ibunya menahan tangann

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   13. Pernah Berbagi Peluh

    "Apakah ini mahakarya yang kamu maksud, Dimas?" tanya Ratih dengan suara lembut penuh kekaguman. Dimas melirik wanita anggun di sisinya itu, ada debaran aneh yang menjalari seluruh urat sarafnya tiap berdekatan dengan Ratih sejak malam itu. Ia tahu itu salah!Ratih adalah kakak iparnya, ia tak boleh terlena dengan kecantikan dan keanggunan wanita itu. Ratih mendekatinya hanya karena butuh keturunan, butuh benihnya sebagai ganti Baskoro yang mandul. Setelah wanita itu berhasil hamil, maka semuanya akan kembali seperti dulu. Bahkan mungkin Ratih akan menjauh darinya. Jadi ia tidak akan membiarkan hatinya tergoda. "Mbak, sebaiknya Mbak jangan terlalu sering menemuiku seorang diri seperti ini!""Kamu bicara apa sih, Dimas?"Dimas mengepalkan tinju, kakak iparnya itu masih saja bicara dengan nada sensual. Kalau ada yang tak sengaja dengar kan bisa menimbulkan kehebohan di kediaman Joglo ini!Dimas terpaksa bergeser, ia bahkan berjalan menjauh. Mengambil kain putih yang sudah ia sediak

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   12. Maharkaya yang Hidup

    ​Seperti biasa, Dimas menghabiskan waktunya di ruang pahat paviliun belakang. Sebuah ruangan kayu yang beraroma khas serbuk jati tua, minyak kelapa, dan bau tanah basah. Di atas meja kerja kayunya yang panjang, terbentang selembar papan jati pilihan berukir relief yang sangat rumit.​Sudah satu bulan Dimas fokus mengerjakan karya ini. Setiap guratan daun, wujud naga keraton, hingga helai rambut figur dalam relief itu membutuhkan presisi, kecermatan, dan kesabaran tingkat tinggi.​Dimas mengusap peluh di keningnya, menatap ukiran yang baru saja ia selesaikan. Tinggal tahap penghalusan akhir dengan ampelas dan pemberian warna alami. Ia meletakkan pahat besi di tangannya, lalu perlahan meraba permukaan relief kayu yang masih hangat itu.​WUSSS ....​Saat jemarinya menyentuh permukaan relief, sebuah pendar cahaya keemasan yang tipis dan hangat mendadak mengalir keluar dari telapak tangannya, merayap masuk ke dalam tiap lekukan serat kayu jati tersebut.​Dimas tersentak. Ketika ia memandan

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   11. Bayi Tabung

    ​"Kali ini kamu buat masalah apa lagi, Dimas?!"​Suara omelan Ibu Rahayu yang melengking tinggi langsung menyambut kedatangan mereka begitu melangkahkan kaki melewati pintu utama rumah joglo.​Dimas dan Ratih menghentikan langkah. Ratih dengan keanggunannya yang tenang melangkah mendekati area ruang tamu, lalu mendudukkan dirinya di kursi jati berukir yang berhadapan langsung dengan Ibu Rahayu. Sementara itu, Dimas memilih tetap berdiri di belakang, tak berani mendekat apalagi ikut duduk.​Dimas ingat betul kejadian beberapa bulan lalu. Saat ia yang kelelahan sepulang dari kampus tak sengaja menduduki kursi jati tersebut, Ibu Rahayu langsung mengamuk hebat. Wanita tua itu bahkan menyuruh Simbok mencuci dan menggosok kursi itu dengan air kembang, seolah-olah permukaan kayunya baru saja dinodai oleh najis. Sejak hari itu, Dimas paham betul batas dirinya di rumah ini. Ia tidak lebih dari polusi yang tak boleh menyentuh perabotan utama keluarga.​"Kamu itu tidak berhenti-berhentinya memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status