Share

7. Tanda Kebangkitan

Author: Y Airy
last update publish date: 2026-08-07 12:37:53

"Apakah itu benar si pengecut Dimas?"

Salah seorang mahasiswa berbisik, tapi cukup untuk didengar oleh teman-temannya.

"Tak kusangka rupanya dia sekuat itu!" sahut temannya.

"Atau jangan-jangan, diam-diam dia menganut ilmu hitam?" bisik seseorang lagi.

"Ilmu hitam, kamu jangan mengada-ada!"

"Lah, lihat saja itu penampilannya. Berantakan, rambut gondrongnya saja jarang disisir, bajunya kaya preman pasar!"

Dimas juga mendengar selentingan itu, tangannya mengepal kuat. Selama ini ia diam, mere
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   32. Kamu Tahu Posisimu?

    "Kamu ngobrol apa sama Ratih?" "Cuma soal pameran hari ini!" Ia tak merasa gugup karena memang obrolan mereka tentang hal itu. Sama sekali tak menyinggung hal yang lebih intim. "Pameran? Kamu ikut pameran? Dapat uang dari mana buat bayar stand?" cecar Rahayu curiga. Ia sudah memotong uang Dimas bulan ini. Mana mungkin Dimas punya uang? "Pak Rahmat yang kasih kuota." Rahayu menyipitkan mata seolah tak percaya, memang tak percaya. Meski ia tahu dosen pembimbing Dimas itu adalah salah satu yang baik pada Dimas. Tapi mana mungkin sebaik itu sampai memberikan kuota stand gratis? "Jangan bohong!" Dimas memejamkan mata sejenak. "Bu, bisa tidak tak perlu kepo? Yang penting Dimas nggak pake uang Ibu!" "Kamu sudah mulai berani ya! Asal kamu tahu, Dimas. Selama kamu masih tinggal di kediaman ini ... semua urusan kamu harus lapor sama Ibu!" "Kakek kasih Dimas hak yang sama dengan mas Baskoro, tapi ibu yang selama ini mengubah semua itu setelah Kakek meninggal! Apa salah Dimas? Kenapa Ibu

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   31. Rencana Hendra

    "Emange kamu mau apa dariku?" Hendra menatap pesan itu, ia tak butuh uang. Keluarganya punya banyak uang. Tapi keluarga Ivan punya peternakan kuda. Hendra : "Berikan kuda terbaik kamu ke aku!" Ivan : "Maksud kamu si Samson?" Hendra : "Yang mana lagi, kuda kamu itu yang paling hebat!" Ivan : "Anjing! Minta yang laen!" Hendra : "Aku cuma mau Samson." Ivan : "Asu tenan Kowe! Njing!" Hendra malah tertawa membaca balasan Ivan. Sebenarnya ia tak terlalu butuh bantuan Ivan, ia juga punya uang untuk menyewa preman kalaucima mau melenyapkan Dimas. Tapi ia butuh alibi. Jika ia mengajak Ivan, nantinya kalau terjadi sesuatu ia bisa cuci tangan dan melimpahkan semuanya kepada Ivan. Baginya teman sejati itu tak ada, yang ada hanya partner. Sekutu. Mereka janjian bertemu di sebuah kedai kopi sederhana. "Jadi ... piye?" tanya Ivan. "Kamu punya rencana?" "Bentar lagi kita pergi outbound kan?" Kening Ivan mengerut, ada amarah juga. "Kalau kita nunggu outbound itu kelam

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   30. Seniman Gila

    Dimas mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, senyum tipis terlukis di wajah sawo matangnya. "Ayah dan kakakku menganggap seni hanya buang-buang waktu. Mereka lebih sibuk mengembangkan bisnis yang lain, hanya aku ... di keluarga Jayaningrat ... yang masih menggeluti seni rupa. Itu artinya ... jika ada yang membantuku, mungkin hantu dari kakekku, atau kakek buyutku." Jawaban Dimas membuat semua orang terbengong. "Lalu ... jika hantu itu benar ada, harusnya kalian berfikir 10 kali sebelum menggangguku. Mungkin saja nanti malam arwah kakekku akan mendatangi kalian!" Mendengar kata hantu, bulu kuduk Hendra meremang, tapi ia tak kau terlihat semua orang kalau dirinya takut dengan hantu. "Hantu itu cuma mitos, tidak pernah ada!" "Kalau sudah tahu, kenapa masih menyudutkanku?" imbuh Dimas dengan senyum penuh arti. Hendra menelan ludah, ia tetap tak mau kalah. "Kalau begitu, ayo tunjukan karya senimu yang hancur itu!" "Ayo, Dimas! Tunjukan bahwa apa yang mereka katakan itu ti

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   29. Mengakui Karya Orang Lain

    Tangan Dimas tiba-tiba terasa gatal, ingin sekali ia meraih dua gundukan kenyal di depan matanya. Tapi ia segera menggeleng. Mencoba tetap mempertahankan kewarasaanya. Dimas sengaja membuang muka. "Keluarlah, Mbak. Tidak pantas seorang wanita bersuami masuk ke kamar pria lain!"Ratih tampak menggertakan gigi, kenapa Dimas seolah sengaja menjatuhkan harga dirinya? Apakah di mata Dimas ia serendah itu? Ratih menjauhkan diri, menatapnya dengan sorot yang sulit Dimas mengerti. Dimas tahu, ia sudah melukai hati wanita itu. Tapi ia tak bisa membiarkan skandal mereka terus berlanjut. Ratih masih sah sebagai istri kakak tirinya, bukan wanita lajang. Karena jika Ratih lajang, maka ia pasti akan mengejarnya sampai dapat. "Baiklah, Dimas. Tapi aku akan memastikan ...," ia menyentuh perut ratanya. "Janin yang akan tumbuh di rahimku ini ... bukanlah hasil bayi tabung!"Dimas menolehnya seketika, apa niat kakak iparnya itu? Apakah wanita itu masih ingin mencari cara untuk berhasil menyeret mer

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   28. Kamu Membuatku Gila

    Orang-orang itu mengelilingi motornya, sebagian memang bertampang preman. Dimas masih tenang di atas motornya. Ini di luar kampus, juga sudah bukan jam kuliah, jadi kalau ia berkelahi itu tidak akan melanggar aturan. Lagipula yang ia lawan adalah preman yang mungkin juga suka bikin onar. "Kalian suruhan siapa? Hendra Anggoro atau Ivan Setiawan? tanya Dimas. Tapi sebelum mereka menjawab, ia sudah kembali bersuara. "Tak peduli kalian suruhan siapa? Yang jelas ... kebetulan sekali aku sedang butuh partner untuk latihan beladiri!" ia menuruni motornya dengan santai. Menaruh tas punggungnya di salah satu stang motor. Lalu meregangkan otot. "Rupanya bocah terbuang dari keluarga Jayaningrat sudah berani sok jagoan!" seru salah satu yang sepertinya adalah ketua. "Bos, langsung sikat saja!" sahut anak buahnya. Dimas hanya tersenyum tipis, ketika beberapa orang datang menyerang, dengan mudah ia menghindari serangan itu. Pukulan dan tendangan ia tangkis dengan tangan, lalu membalas puku

  • Kakak Ipar, Kamu Keterlaluan!   27. Kamu Memang Berbakat

    ​"Kamu—!"​Urat di kening Hendra bertonjolan seketika. Hinaan itu meremukkan harga dirinya di depan kawan-kawannya. Murka yang tak tertahankan membuat mata Hendra berkilat jahat.​"Vito! Pegang si bangsat ini!" perintah Hendra beringas. "Biar kuhancurkan kayu sampah yang dia sembunyikan di balik kain hitam ini! Kita lihat seberapa belagu dia kalau karyanya sudah jadi serbuk!"​Vito dan dua anak buahnya langsung melompat maju, berusaha mencengkeram kedua lengan Dimas. Namun, sebelum jemari mereka menyentuh kulit Dimas, aura Wahyu Candradimuko di dalam tubuh Dimas menyentak keras. Tubuh Dimas kokoh bagai tiang jati tua—sekali kibasan lengan kekarnya membuat Vito dan dua temannya terdorong mundur hingga terhuyung.​Hendra tidak peduli. Ia menerjang maju menuju papan relief, tangannya sudah terulur berniat merenggut kain hitam dan menghempaskan ukiran kayu jati itu ke lantai marmer.Tapi Dimas rupanya lebih kuat dari yang mereka duga, ia berhasil melawan dan berkelahi dengan tiga teman He

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status